Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Berbagai Tantangan Menuju Keadilan Ekologis

Berbagai Tantangan Menuju Keadilan Ekologis

berbagai-tantangan-menuju-keadilan-ekologis
Berbagai Tantangan Menuju Keadilan Ekologis
service

  Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) baru saja mendeklarasikan 20 September sebagai Hari Keadilan Ekologis. Mereka juga menyoroti banyaknya tantangan dalam memperjuangkan gagasan keadilan ekologis ini. Kebanyakan, berasal dari ulah pemerintah. Misal, proyek-proyek yang pemerintah keluarkan. Bukan menguntungkan rakyat, malah memperparah krisis ekologis dan hanya menguntungkan korporasi besar serta oligarki. Pengembangan pangan skala besar (food estate), salah satunya, menimbulkan deforestasi masif. Padahal, pemerintah gadang-gadang proyek ini sebagai solusi atas pangan. Walhi mencatat dari 2.684.680,68 hektar lahan  food estate di Papua, 2 juta hektar adalah kawasan hutan. Data Forest Watch Indonesia (FWI) juga menunjukkan terdapat lebih dari 20.000  hektar hutan dan gambut hilang pada 2019–2021 karena proyek ini. Kemudian, Greenpeace Indonesia mencatat sejak 2020, sekitar 8.000 hektar hutan di Merauke masuk dalam area rencana food estate. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menemukan penebangan hutan seluas 2 juta hektar di Merauke. Deforestasi ini berpotensi menciptakan gelombang penambahan emisi karbon sebesar 782,45 juta ton CO₂ atau setara kerugian karbon Rp47,73 triliun. “Jelas, kami menolak kalau untuk bentuk-bentuk itu,” kata Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional yang baru terpilih  September lalu. Dia bilang, proyek hilirisasi nikel yang pemerintah promosikan justru memicu pencemaran, kerusakan pulau kecil, dan penghancuran ekosistem pesisir. Walhi melihat tren peningkatan produksi nikel yang signifikan sejak 2020. Total produksi nikel pada tahun itu mencapai sekitar 32 juta ton. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menunjukkan jumlah tambang nikel Indonesia mencapai 520.870  hektar yang tersebar di Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan. Seiring dengan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.