Fri,21 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Beyond Survival: Merayakan Bahasa Isyarat Pertamaku

Beyond Survival: Merayakan Bahasa Isyarat Pertamaku

beyond-survival:-merayakan-bahasa-isyarat-pertamaku
Beyond Survival: Merayakan Bahasa Isyarat Pertamaku
service

Mubadalah.id – Pekan ini merupakan pekan pertama aku kembali lagi ke sekolah setelah satu tahun dari kelulusan. Kembali ke sekolah, artinya aku memulai hidup yang kembali baru dengan wajah-wajah dan pemikiran baru, juga lingkungan baru. Sekolah baruku berbeda dengan sekolah sebelumnya.

Kali ini, teman-teman yang datang dari beragam latar belakang. Sebagian besar, teman-teman baruku datang dari berbagai penyandang disabilitas. Tentu, aku perlu menyesuaikan bagaimana aku menempatkan posisi agar aku dapat membangun hubungan pertemanan yang sehat. Aku ingin kehadiranku membuat mereka nyaman sebagaimana kehadiran mereka juga membuatku nyaman dalam belajar.

Mengenal Lingkungan Inklusif: Semua Setara, Semua Mendapatkan Hak yang Sama

Sejujurnya, kembali ke sekolah saat ini bukanlah tempat pertama aku belajar untuk memahami teman-teman disabilitas. Di kampus asalku, Universitas Brawijaya, aku mulai mengenal lingkungan yang inklusif. Masih baru mengenal, belum sepenuhnya memahami. Di Universitas Brawijaya, kami punya Pusat Layanan Disabilitas yang menyediakan fasilitas fisik serta pendampingan khusus untuk mendukung mahasiswa disabilitas belajar dengan nyaman.

Kelas-kelas yang ada di UB juga di desain ramah disabilitas. Bahkan, Masjid Raden Patah sebagai masjid kampus juga punya fasilitas yang sangat mendukung. Mulai dari disediakan remaja masjid yang siap membantu teman-teman disabilitas berwudhu dan beribadah. 

Pernah dalam suatu siang setelah selesai kelas, aku memutuskan istirahat di basement Masjid Raden Patah. Saat itu, aku sedang menyelesaikan makan siang, salat, dan nderes kembali untuk menyiapkan setoran di pesantren setelah pulang dari kampus. Saat bersamaan aku murojaah, aku melihat salah satu pengajar Qur’an sedang menggerakkan tangannya mengoreksi mahasiswa yang sedang setoran. Aku terkesima, untuk pertama kalinya aku melihat bagaimana Al-Qur’an dilantunkan dengan bahasa Isyarat. 

KUPI 2 dan Serial Drama Korea: Twinkling Watermelon

Tak hanya dari kampus, aku juga mengenal lingkungan yang inklusif (kali ni lebih spesifik) saat aku mengikuti kegiatan di KUPI 2 Jepara Tahun 2022. Di hari terakhir KUPI 2, aku bergabung dalam Halaqah KUPI Muda. Saat itu, aku berkesempatan untuk bergabung dengan teman-teman disabilitas. Berkenalan dengan salah satu teman KUPI, Ning Aida Mudjib namanya. Aku banyak menyimak bagaimana perjalanan Ning Aida Mudjib “survive” dengan keadaan yang ia alami. Rasa kagum kemudian muncul ketika aku melihatnya sebagai sosok yang vokal dalam menyuarakan hak-hak dan kebutuhan teman-teman disabilitas. 

Tahun 2024 atau 2025, aku menyempatkan untuk menonton serial drama korea berjudul Twinkling Watermelon. refleksiku kemudian aku tuliskan dalam sebuah artikel berjudul “Beyond Survival: Merayakan Empati Disabilitas dari Serial Twinkling Watermelon”.

Serial ini merupakan serial bagaimana film tersebut dapat merubah cara pandangku. Untuk pertama kalinya, aku dapat memposisikan dan merasakan langsung bagaimana rasanya menjadi mereka. Serial tersebut mengisahkan seorang remaja bernama Ha Eun Gyeol yang tumbuh dalam keluarga dengan kedua orang tua tuli. Eun Gyeol sebagai anak yang sangat fasih berbahasa isyarat dan menjadi jembatan komunikasi bagi keluarganya.

Bahasa Isyarat Pertamaku

Kembali ke pekan aku sekolah. Hari kedua sekolah, aku jadi mahasiswa yang datang pagi-pagi sekali. Masih belum ada orang di sana. Hampir 20 menit berlalu, ternyata petugas ruangan sudah membuka kelas. Di sana, aku melihat seorang teman tuli yang juga teman kelasku. Namun, baru hari itu aku dapat berkenalan dengan dia. Aku belum berkesempatan berjumpa dengannya di hari pertama karena ia mendapatkan kelas yang berbeda dari teman-teman lain.

Namanya Kak Muhammad Fauzan, kalau boleh aku gambarkan, ia seorang laki-laki dengan tinggi sekitar 178-180 an. Kalau aku berdiri disampingnya, aku hanya stinggi pundaknya. Pagi itu aku menyapanya lebih dulu, mengajaknya masuk kelas. Awalnya ia terkejut, namun setelah masuk kelas, ia bburu-buru menyodorkan tangannya. “Kita belum kenalan, kalau boleh tahu namanya siapa?”. Aku tersenyum sumringah, satu teman baruku mengajak kenalan lebih dulu. 

“Nama aku Layyin Lala, panggil aku Lala” saat membalas pertanyaannya, aku refleks menggunakan bahasa isyarat penyebutan namaku. Kak Fauzan kaget sejenak melihat aku memperkenalkan diri dengan bahasa Isyarat. “Lala? Bisa bahasa isyarat?” tanyanya. Aku tersenyum sambil menjawab, “Bisa, tapi sedikit” jawabku sambil mengisyaratkan jari di tangan kanan membentuk gambaran “sedikit”.

“Namaku Muhammad Fauzan, bisa dipanggil Fauzan!” ia mengenalkan diri. Aku bertanya kembali, “Bagaimana nama kakak dalam bahasa Isyarat?”. Ia menngambarkan penyebutan namanya dalam bahasa Isyarat. I did it! Aku merayakan bahasa Isyarat pertamaku.

Semenjak berteman dengannya, aku selalu menyempatkan belajar bahasa Isyarat melalui Youtube selama satu jam perharinya. Dalam beberapa hari, kemampuan bahasa Isyaratku terus bertambah. Aku bisa berkomunikasi dengan baik ketika aku duduk di sampingnya. Sehingga, ia tak kesulitan memahami cara komunikasiku.

Memandang Dunia dengan Cara yang Berbeda

Selama kami duduk bersebelahan di dalam kelas, kak Fauzan menceritakan bahwa ia merupakan seorang penyandang disabilitas tuli dengan kondisi yang sangat berat. Meskipun kedua telinganya telah menggunakan alat bantu dengar, ia tak merasakan banyak terbantu. Ada moment di mana aku sempat ingin menahan tangis.

Pernah ia meminta maaf. Awalnya, aku tak pernah mengerti mengapa ia meminta maaf untuk perkenalan pertama kali. Lalu ia melanjutkan, “Maaf ya, jika pengucapanku tak jelas. Karena aku tuli, aku khawatir teman-temanku tidak bisa memahami pelafalanku”. Saat itu aku bisa memposisikan apa yang ia rasakan. Rasa empati itu terus tumbuh. Aku meminta ia untuk tidak perlu minta maaf, karena aku tak pernah memandang ia berbeda.

Di kelas, beberapa kali aku membantunya menerjemahkan penjelasan dosen dengan bahasa isyarat seadanya. Aku juga beberapa kali merasakan kesulitan menerjemakan kata karena kosakata bahasa isyaratku tak banyak. Untungnya, ia menggunakan aplikasi pengubah audio menjadi tulisan. Jadi, aku lebih mudah menjelaskan hal-hal yang ia butuhkan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Dari kesempatan tersebut, aku berefleksi begitu lama untuk memetakan apa saja yang perlu aku tingkatkan agar ia merasa nyaman dan aman saat berteman denganku.

Setiap malam sebelum tidur, aku menyempatkan belajar bahasa Isyarat. Meskipun rasanya sedikit susah dan sering lupa geakannya, tapi aku merasa senang ketika aku dapat membangun hubungan yang sehat mealui komunikasi yang efektif. Dunia kemudian berubah menjadi lebih cerah dan berwarna-warni. cara pandangku melebar lebuh luas. rasa empatiku tumbuh seiring aku mau meluangkan waktu untuk belajar memahaminya.

Refleksi

Menciptakan ruang aman dan inklusif berarti membangun lingkungan fisik atau sosial yang bebas dari diskriminasi, di mana setiap orang dari berbagai latar belakang merasa dihargai, didengar, dan dapat berpartisipasi penuh tanpa rasa takut.

Saat tulisan ini diketik, aku menyadari merayakan bahasa Isyarat pertamaku merupakan proses membuka cara pandang, mengasah kepekaan, dan belajar mendengar dengan cara yang berbeda. Beyond survival, aku ingin terus melangkah menuju ruang yang benar-benar merayakan keberagaman, tempat setiap orang, apa pun kondisinya, punya kesempatan yang setara untuk didengar dan dipahami.

Bagai pelangi yang datang setelah hujan badai, aku benar-benar menikmati hidup baruku. Aku menikmati setiap waktu yang kuhabiskan bersama teman-temanku. Belajar hal baru dari berbagai perspektif begitu menyenangkan. Aku berharap, di masa depan dunia akan lebih inkluisif terhadap semua orang apapun latar belakangnya.

Dan di hidup yang hanya sekali ini, aku bersyukur karena aku dapat berkomitmen untuk berubah lebih baik setiap harinya. Untuk mereka yang datang memberiku pelajaran, kebaikan, pertemanan, dan hal-hal berharga, semoga Allah selalu melindungi mereka kapanpun. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.