Market Summary

  • Harga Minyak Bertahan Tinggi: Harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2026 bertahan di kisaran US$108/barrel per Jumat (1/5) meski sempat menyentuh level US$126,4/barrel pada intraday Kamis (30/4). → berpotensi tetap menekan APBN dan membatasi ruang pemangkasan suku bunga bank sentral.

  • Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC: Uni Emirat Arab pada Selasa (28/4) mengumumkan keluar dari OPEC, mulai 1 Mei 2026. → dengan keluar dari OPEC, UEA tidak lagi terikat kuota produksi dan dapat meningkatkan output minyaknya secara bebas.

  • The Fed Pertahankan Suku Bunga: The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,5–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus. → konsensus Bloomberg memperkirakan The Fed baru akan memangkas suku bunga -25 bps di Q4 2026.

What Happened in the Market

  • Harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2026 bertahan di kisaran US$108/barrel per Jumat (1/5) meski sempat menyentuh level US$126,4/barrel pada intraday Kamis (30/4), tertinggi sejak Juni 2022. 

    • Blokade laut AS menjadi hambatan utama negosiasi AS dan Iran, di mana Iran menegaskan tidak akan melanjutkan negosiasi atau membuka kembali Selat Hormuz selama AS masih memberlakukan blokade.

    • Presiden AS Trump mengatakan bahwa AS akan memulai upaya pada Senin (4/5) pagi untuk membebaskan kapal yang terjebak di Selat Hormuz untuk membantu negara yang netral dalam perang AS–Israel dengan Iran.

    • Uni Emirat Arab, salah satu produsen terbesar OPEC, organisasi negara eksportir minyak, mengumumkan keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026. Hal ini berpotensi melemahkan kontrol OPEC terhadap pasokan minyak global.

    • Sementara itu, OPEC+ akan menaikkan tingkat produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari di bulan Juni, menandakan kenaikan dalam tiga bulan berturut-turut sejak penutupan Selat Hormuz. 

    • Di tengah harga minyak yang tetap tinggi, pemerintah Indonesia memutuskan untuk memangkas frekuensi pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 5 hari menjadi 4 hari per minggu (diestimasikan menghemat APBN ~Rp50 triliun per tahun), serta akan menghapus sementara bea impor untuk plastik kemasan dan liquefied petroleum gas (LPG).

  • Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus. The Fed mencatat bahwa inflasi tetap tinggi akibat kenaikan harga energi global dan menyatakan bahwa konflik Timur Tengah menambahkan ketidakpastian seputar outlook perekonomian. 

  • Sovereign analyst S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan pada Kamis (30/4) bahwa peningkatan penerimaan negara dari sektor sumber daya dan penurunan restitusi pajak dapat membantu pemulihan fiskal Indonesia pada tahun ini dan mengurangi tekanan pada belanja negara akibat melonjaknya harga minyak.

    • S&P memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia +5% YoY selama 2026, didukung permintaan domestik yang solid dan belanja pemerintah. Selain itu, S&P memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menguat ke level 16.850 pada akhir 2026 dan Bank Indonesia kemungkinan akan menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 50 bps pada tahun ini.

  • BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) Indonesia mencapai 2,42% YoY pada April 2026 (vs Maret 2026: inflasi 3,48% YoY, April 2025: inflasi 1,95%), di bawah ekspektasi konsensus Bloomberg (inflasi 2,70% YoY) dan sejalan dengan target inflasi BI (2,5±1%).

    • Secara bulanan, inflasi mencapai 0,13% MoM (vs Maret 2026: inflasi 0,41% MoM). Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,44% YoY pada April 2026 (vs Maret 2026: inflasi 2,52% YoY)

  • S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026 (vs Maret 2026: 50,1), menandai level terendah sejak Juni 2025 sekaligus menjadi kontraksi aktivitas pabrik yang pertama dalam 9 bulan.

  • Earnings Season Q1 2026: Berikut adalah performa laba bersih Q1 2026 dari sejumlah emiten bank besar yang telah merilis laporan keuangannya.

Sumber: Stockbit, Presentasi Perusahaan, Earnings Call.

What’s the Impact?

Secara Global: Dipertahankannya suku bunga The Fed sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, The Fed menghapus kecenderungan pelonggaran kebijakan dari pernyataan resminya dan mengindikasikan prospek pemangkasan suku bunga semakin jauh. Tekanan inflasi dari harga energi menjadi faktor kunci, setelah CPI AS naik signifikan dari 2,4% (Februari) ke 3,3% (Maret) dengan hampir tiga perempat kenaikan didorong harga bensin. 

Secara terpisah, keluarnya UEA dari OPEC membuka potensi peningkatan pasokan minyak global ketika Selat Hormuz kembali normal — yang bisa menjadi katalis penurunan harga minyak dan meredanya tekanan inflasi.

Untuk Indonesia: Rupiah dan pasar saham domestik tertekan oleh kombinasi harga minyak yang tinggi dan The Fed yang menjaga suku bunga AS tetap di level tinggi. Sepanjang minggu lalu, IHSG terkoreksi -2,42% (atau -19,55% YtD) disertai aliran keluar bersih asing dari pasar saham sebesar -Rp7,31 triliun, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik +7 bps ke 6,85%. 

Meski inflasi keseluruhan April justru menurun ke 2,42% YoY, dampak harga minyak mulai terlihat pada kelompok transportasi, terutama tarif angkutan udara dan bensin, yang menjadi penyumbang utama inflasi bulanan.

Why Should I Care?

Selama Selat Hormuz belum dibuka, harga minyak yang tinggi berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi ke depan yang turut membatasi ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Mayoritas konsensus Bloomberg memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga -25 bps di Q4 2026 dan BI akan menahan suku bunga selama tahun 2026, meski sejumlah lembaga seperti S&P justru melihat ruang kenaikan +50 bps oleh BI jika tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Di saat pasar penuh dengan ketidakpastian, hal sederhana yang dapat dilakukan investor adalah memastikan alokasi aset portofolio sudah sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat menjadi alternatif untuk investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.

Product Highlights

Bibit New Product – Weekly Uplift

Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)

Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko.

Sucorinvest Money Market USD

Return dalam Rupiah meningkat +2,60% dalam seminggu terakhir

Return

+8,50%

dalam Rupiah

Setahun Terakhir

Return

+3,79%

dalam US Dollar

Setahun Terakhir

BRI Seruni Likuid Dolar

Return dalam Rupiah meningkat +0,98% dalam seminggu terakhir

Return

+9,98%

dalam Rupiah

Sejak Peluncuran

Return

+2,80%

dalam US Dollar

Sejak Peluncuran

*Return reksa dana per 30 April 2026, kecuali BRI Seruni Likuid Dolar sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 30 April 2026.
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 30 April 2026.
Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit 

Return reksa dana per 30 April 2026. 

Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.

Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.

In Case You Missed It

💵 Baru: Reksa Dana Pasar Uang Batavia USD Money Market – Reksa Dana Pasar Uang dalam denominasi USD rendah risiko dengan alokasi pada deposito dan obligasi jangka pendek. Bisa dicairkan kapanpun. Potensi return dari capital gain dan selisih kurs cocok untuk diversifikasi mata uang asing. 

 📊 Bibit Insights: Strategi Kelola Cash Tanpa Reaktif Saat Market Volatil – Di tengah pergerakan market yang cepat dan narasi yang terus berubah, Reksa Dana Pasar Uang hadir sebagai aset rendah risiko yang stabil. Tujuannya bukan mengejar return tertinggi, tapi menjaga ketenangan investasi yang tetap didukung oleh return optimal.

Other Articles 

🏦 Laba Bersih BBNI 1Q26 +5% YoY; Loan Growth Kencang, tapi Margin Tertekan BBNI mencatat laba bersih Rp5,7 T pada 1Q26 (+5% YoY, +15% QoQ), sejalan dengan ekspektasi karena setara 26% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q25: 27% realisasi 2025).

🍪 MYOR 1Q26: Laba Bersih +37% YoY, Dampak Kenaikan Harga Minyak Belum Terefleksi MYOR mencatat laba bersih Rp946 M pada 1Q26 (+37% YoY, -7% QoQ), setara 29% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q25: 24% realisasi 2025).

🤑 AKRA 1Q26: Laba Bersih +16% YoY, Lampaui EkspektasiAKRA mencatat laba bersih Rp656 M pada 1Q26 (+16% YoY, -20% QoQ), setara 24% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q25: 23% realisasi 2025, rata–rata 3 tahun terakhir: 22%).