Market Summary
-
Perang AS–Iran Memasuki Pekan ke-4: Trump umumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 5 hari dan mengeklaim adanya negosiasi dengan Iran, tetapi Iran membantah. → ketidakpastian geopolitik mendorong volatilitas di pasar komoditas dan saham global selama periode libur Lebaran.
-
Bank Sentral Tahan Suku Bunga: The Fed (3,50-3,75%) dan BI (4,75%) sama-sama menahan suku bunga di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, sesuai ekspektasi. → tekanan rupiah yang persisten dan risiko defisit fiskal tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.
-
Minyak Volatil, Emas Terkoreksi: Brent bergerak di rentang US$97-118/barrel selama libur Lebaran. Emas catat penurunan mingguan terburuk sejak 1983 (-11%) sebelum rebound ke US$4.570/oz. → tekanan inflasi global berpotensi memperlambat pelonggaran suku bunga.
| MARKET UPDATE |
| Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Tertinggi Sejak April 2025 |
| Latest Update (25/03/2026) |
| Latest | 13 – 25 Mar* | YtD | |
| IHSG | 7.302,1 | ▲ 2,31% | ▼ -15,55% |
| IDR 10Y Govt Bond Yield | 6,93% | ▲ +14 bps | ▲ +86 bps |
| Rata-rata Bunga Deposito 12M | 3,68% | ▲ +8 bps | ▼ -3 bps |
| Foreign Flow |
| (Dalam Triliun Rupiah) |
| 13 – 25 Mar | MtD | YtD | |
| Obligasi | -0,83 | -17,47 | -20,72 |
| Saham | +0,35 | +1,05 | -8,49 |
*Mengecualikan libur bursa selama 18-24 Maret 2026
Sumber: Bloomberg, data all market per 25 Maret 2026, kecuali foreign flow obligasi per 16 Maret 2026
What Happened in the Market
-
Eskalasi perang berlanjut dengan serangan AS–Israel ke Iran, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab.
-
Selat Hormuz tetap terganggu secara de facto, dengan International Maritime Organization mencatat terdapat lebih dari 3.000 kapal terjebak di Teluk Persia.
-
Pada Senin (23/3), Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 5 hari dan mengeklaim adanya “pembicaraan produktif”, tetapi Iran membantah adanya negosiasi.
-
Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus. The Fed mencatat bahwa aktivitas ekonomi berkembang dengan kecepatan yang solid, pertumbuhan lapangan kerja tetap rendah, sementara inflasi tetap agak tinggi.
-
The Fed pun mempertahankan proyeksi pemangkasan suku bunga AS sebesar 25 bps masing–masing pada 2026 dan 2027, sama seperti proyeksi pada Desember 2025, meskipun waktunya masih belum dapat ditentukan.
-
Bank Indonesia (BI) menahan BI Rate di level 4,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus.
-
Keputusan ini diambil seiring pelemahan rupiah akibat risiko pelebaran defisit APBN di tengah lonjakan harga minyak dan berkurangnya prospek pelonggaran suku bunga AS akibat perang di Iran.
-
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengatakan pada Sabtu (21/3) bahwa pemerintah berupaya menghemat anggaran ~Rp80 triliun untuk membantu mengatasi dampak perang AS–Israel terhadap Iran.
-
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pada Senin (16/3) bahwa selama perang belum mencapai skenario 5 bulan, pemerintah akan fokus pada pemotongan belanja negara untuk mempertahankan limit defisit APBN di level 3% terhadap PDB.
-
Airlangga juga mengatakan pada Kamis (19/3) bahwa pemerintah berencana meningkatkan target produksi batu bara melalui revisi RKAB sebagai respons terhadap kenaikan harga komoditas energi global.
-
Harga minyak Brent bergerak dalam rentang US$97–118/barrel selama libur lebaran dan per Rabu (25/3) pagi berada di level US$98,54/barrel (-5,7%). Harga minyak sempat anjlok lebih dari -10% ke bawah US$100/barrel setelah pengumuman penundaan serangan oleh Trump.
-
Harga emas mencatatkan penurunan mingguan terburuk sejak 1983 sebesar -11% pada pekan lalu seiring ekspektasi suku bunga The Fed tetap tinggi lebih lama akibat tekanan inflasi dari harga minyak, penguatan dolar AS, serta aksi profit–taking dan likuidasi posisi pasca–rally +66% selama 2025. Pada Rabu (25/3) pagi, harga emas rebound +2,1% ke level ~US$4.570/oz.
What’s the Impact?
Secara Global: Meski sempat ada sinyal de-eskalasi, ketidakpastian konflik AS–Iran yang masih berlangsung membuat pasar komoditas, terutama minyak, tetap bergerak volatil. Sementara itu, jika tekanan inflasi global tetap tinggi seiring tingginya harga minyak, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga lebih lama. Hal ini tercermin dari sikap The Fed yang masih mempertahankan suku bunga dan belum memberikan kepastian waktu pemangkasan berikutnya.
Untuk Indonesia: Tekanan pada APBN berpotensi semakin besar jika semakin lama harga minyak bertahan di level tinggi. Tekanan inflasi dari harga minyak yang tinggi juga berpotensi membatasi ruang pelonggaran suku bunga BI. Di sisi lain, kenaikan harga minyak secara historis kerap diikuti oleh kenaikan harga batu bara dan CPO, yang merupakan dua komoditas ekspor utama Indonesia.
Why Should I Care?
Banyak variabel yang terakumulasi selama periode libur Lebaran. Setelah eskalasi konflik sempat berlanjut, pengumuman penundaan serangan oleh Trump memberikan sinyal de–eskalasi yang mendorong penurunan harga minyak dan pemulihan parsial di beberapa pasar, meski sinyal tersebut masih rapuh mengingat Iran membantah adanya negosiasi.
Secara net, level indeks saham global secara per Rabu (25/3) pagi masih lebih rendah dibandingkan sebelum periode libur Lebaran (18 Maret 2026), dengan S&P 500 -0,4%, DJIA -0,2%, Hang Seng -3,7%. Sementara IHSG ditutup menguat 2,8% per Rabu (25/3). Dari sisi sektoral:
-
Sektor batu bara dan CPO (AADI, ITMG, TAPG, DSNG): tetap dapat menjadi hedge di tengah harga minyak tinggi, sejalan dengan pola historis.
-
Sektor emas (EMAS, BRMS, ARCI): pergerakan harga dipengaruhi oleh 2 faktor, yakni potensi tekanan dari koreksi harga emas dan dampak inflow/outflow dari rebalancing indeks GDX/GDXJ.
-
Sektor migas (MEDC, ENRG): level harga minyak sedikit lebih rendah dibanding sebelum libur Lebaran, dan tren penurunan harga dari puncak dan sinyal de–eskalasi perlu dicermati.
Dengan situasi geopolitik dan sentimen pasar yang dapat berubah dengan cepat, penting bagi investor untuk memastikan bahwa alokasi aset sudah sesuai profil risiko dan tidak panik. Instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu cara untuk membantu meningkatkan stabilitas portofolio. Selain itu, Reksa Dana Pasar Uang USD juga dapat membantu menjaga nilai aset ketika rupiah melemah.
Product Highlights
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD) di Bibit
| |
BRI Seruni Likuid Dolar |
|
✓ |
Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko. |
|
Return +2,49% dalam US Dollar Sejak Peluncuran |
Return +6,85% dalam Rupiah Sejak Peluncuran |
|---|
*Return historis dari kenaikan NAV Reksa Dana sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 25 Maret 2026. Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 25 Maret 2026. Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
SBN Syariah SR024: Kuota Menipis, Tersisa <50%
Stabilkan portofolio dengan investasi Sukuk Ritel SR024 yang beri fixed return yang anti turun hingga jatuh tempo. Ada 2 tipe tenor: SR024-T3 (3 tahun) return 5,55% p.a. dan SR024-T5 (5 tahun) return 5,90% p.a.
SR024-T3 lebih diminati investor dengan kuota tersisa <50% per 25 Mar 2026 pukul 12.00 WIB. Amankan kuotanya sekarang untuk raih passive income dengan return pasti.
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten ini hanya dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan rekomendasi untuk beli/jual produk investasi tertentu. Always do your own research.
In Case You Missed It
💰Dividen Jadi Bebas Pajak dengan Reinvestasi ke SR024 – Dividen yang kamu terima wajib dilaporkan dalam SPT. Namun sesuai PP 9/2021 dan PMK 18/2021, ada pengecualian pajak yang bisa kamu manfaatkan dengan cara reinvestasikan dividen tersebut minimum 3 tahun ke instrumen investasi yang memenuhi syarat, seperti SR024, dan melaporkannya sebagai realisasi hasil investasi.
Other Articles
⚪ Unboxing Metals 101: Global Thematic & IDX Proxies – Simak unboxing ini untuk kamu yang ingin memahami dinamika komoditas logam lebih dalam (supply-demand, thematic global, serta proxy di IHSG).
🌷 BI Tahan Suku Bunga seiring Pelemahan Rupiah – BI mempertahankan tingkat suku bunga di level 4,75%, sejalan dengan ekspektasi konsensus, seiring pelemahan rupiah akibat risiko pelebaran defisit APBN di tengah lonjakan harga minyak dan berkurangnya prospek pelonggaran suku bunga AS akibat perang di Iran.
📉 IHSG Tertekan Kekhawatiran Fiskal seiring Tingginya Harga Minyak – IHSG sempat anjlok ke level 6.917,3 (-3,1%) pada perdagangan intraday hari Senin (16/3), level terendah sejak Juli 2025, sebelum ditutup di level 7.022,3 (-1,6%) di tengah kekhawatiran risiko defisit APBN melampaui limit legal akibat bertahannya harga minyak di atas US$100/barrel.





Comments are closed.