Fri,28 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Bisakah kita memantau kondisi kehamilan dan janin dari rumah?

Bisakah kita memantau kondisi kehamilan dan janin dari rumah?

bisakah-kita-memantau-kondisi-kehamilan-dan-janin-dari-rumah?
Bisakah kita memantau kondisi kehamilan dan janin dari rumah?
service

● Pemeriksaan kehamilan rutin sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang membahayakan ibu dan janin.

● Keterbatasan jarak, akses, dan bidan membuat banyak ibu hamil di daerah terluar sulit melakukannya.

● DetectMe berpotensi membantu ibu hamil memantau kondisi kehamilan dari rumah tanpa mengurangi peran bidan.


Bayangkan, kamu sedang memasuki trimester ketiga kehamilan dan sering mengalami pusing akibat tekanan darah tinggi. Namun, kamu terpaksa menahan dan mengabaikan gejala ini karena jauhnya akses menuju puskesmas.

Padahal, tanpa pemeriksaan rutin dan penanganan lanjutan, ibu hamil berisiko mengalami masalah kesehatan yang bisa mengancam keselamatan diri dan janinnya, seperti gejala pre-eklamsia alias komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah tinggi dan protein dalam urine tersebut.

Inilah momok yang dihadapi banyak ibu hamil di Indonesia, terutama di daerah terluar seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatatkan sekitar 317 kematian ibu melahirkan dari 100 ribu kelahiran hidup di ketiga wilayah tersebut.

Jumlah kematian ibu hamil terbanyak di Tanah Air ini hampir tiga kali lipat dibandingkan kawasan Jawa-Bali dengan 114 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup.

Keterbatasan jarak dan akses membuat banyak ibu hamil di daerah terluar kesulitan melakukan pemeriksaan rutin. Di sisi lain, kondisi puluhan hingga ratusan ibu hamil tidak terpantau secara intensif karena keterbatasan waktu, fasilitas, dan beban kerja berlebih yang dihadapi para bidan desa.

Bisakah teknologi bantu pantau kehamilan dari rumah?

Untuk menurunkan angka kematian ibu, pemerintah Indonesia sejak 2023 sebenarnya telah menggalakkan pemeriksaan kehamilan gratis minimal sebanyak enam kali di puskesmas lewat BPJS Kesehatan.

Namun, program tersebut belum maksimal mengatasi persoalan keterbatasan akses fasilitas kesehatan yang dihadapi ibu hamil di daerah terluar.

Kesenjangan ini memunculkan pertanyaan: bisakah teknologi membantu ibu hamil memantau kondisi kehamilan dari rumah tanpa mengurangi peran tenaga kesehatan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian gabungan kami tahun 2024-2026 (belum dipublikasikan) mengembangkan dan menguji sistem pemantauan dan pemeriksaan mandiri kesehatan ibu dan janin yang dinamakan DetectMe.

DetectMe terdiri atas perangkat, aplikasi, dan website.

DetectMe terdiri dari perangkat, aplikasi, dan website untuk memantau gelombang jantung ibu hamil dan janin.

DetectMe terdiri dari perangkat, aplikasi, dan website untuk memantau gelombang jantung ibu hamil dan janin. Author provided (no reuse)

Perangkat DetectMe berbasis teknologi IoT (internet of things) sehingga bisa dihubungkan ke jaringan internet untuk bertukar data dan diperiksa dari jarak jauh.

Perangkat ini bekerja serupa elektrokardiogram (EKG) dengan menangkap gelombang (aktivitas kelistrikan) jantung ibu dan janin lewat elektroda alias sensor penangkap gelombang jantung yang ditempelkan ke perut ibu. Tujuannya untuk mengetahui tanda-tanda masalah kesehatan dari kecepatan detak jantung ibu dan janin.


Read more: Hasil timbangan anak bebani para ibu: Cap negatif dari tenaga posyandu hambat kasus ‘wasting’ dan ‘stunting’


Detak jantung tidak normal pada ibu bisa menandakan kemungkinan masalah kesehatan, seperti anemia, kekurangan cairan, infeksi, tekanan darah rendah, dan gangguan kesehatan lain. Pada bayi, kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa janin kekurangan oksigen, mengalami sindrom gawat napas, atau terlilit tali pusar.

Sinyal detak jantung ibu dan janin kemudian diproses dan dipisahkan ke dalam perangkat DetectMe, lalu dikirimkan via bluetooth ke aplikasi di smartphone. Ibu hamil bisa melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan perangkat DetectMe selama 10 menit di rumah.

Hasil pemeriksaan ibu dan janin kemudian bisa diperiksa secara real-time oleh bidan di desa maupun puskesmas lewat website DetectMe.

Perangkat DetectMe bekerja dengan menangkap gelombang jantung ibu dan janin lewat elektroda yang ditempelkan ke perut ibu.

Perangkat DetectMe bekerja dengan menangkap gelombang jantung ibu dan janin lewat elektroda yang ditempelkan ke perut ibu. Author provided (no reuse)

Melengkapi peran bidan

Kami mencoba menerapkan sistem DetectMe dengan melibatkan 90 ibu hamil trimester ketiga sebagai pengguna utama, 36 bidan desa, serta sembilan bidan koordinator dari sembilan puskesmas di Kabupaten Garut, Jawa Barat; Kota Ambon, Maluku; dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Bidan berperan sebagai pendamping dan penanggung jawab ibu hamil di wilayah kerja masing-masing. Pendekatan ini dipilih agar inovasi kesehatan tidak hanya bergantung pada alat yang dikembangkan, tetapi juga terintegrasi ke dalam layanan kesehatan primer dan berkelanjutan.

Situs web DetectMe berfungsi sebagai 'dashboard' yang menampilkan data pemeriksaan gelombang jantung ibu hamil dan janin secara 'real-time'.

Situs web DetectMe berfungsi sebagai ‘dashboard’ yang menampilkan data pemeriksaan gelombang jantung ibu hamil dan janin secara ‘real-time’. Author provided (no reuse)

Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan menggunakan DetectMe di rumah sebanyak 12 kali. Hasil pemantauan menjadi informasi tambahan bagi bidan untuk mengevaluasi kondisi ibu dan janin di antara jadwal pemeriksaan kehamilan rutin.

Dengan demikian, DetectMe tidak menggantikan pemeriksaan kehamilan, tetapi melengkapi proses pemantauan janin yang selama ini hanya enam kali selama kurang lebih sembilan bulan kehamilan.

Pemantauan intensif meningkatkan pengambilan keputusan dan penanganan cepat, khususnya bagi ibu hamil dan janin dengan masalah kesehatan.

Memberdayakan ibu hamil dan keluarga

Setelah menggunakan alat DetectMe di rumah selama 1,5 bulan, sebagian besar peserta menilai bahwa perangkat ini mudah digunakan (76,2%). Mereka mengaku mau menggunakannya kembali jika hamil di masa mendatang.

Hampir seluruh ibu hamil merasa lebih tenang dan aman karena dapat mengetahui kondisi janin secara lebih rutin, tanpa harus selalu datang ke fasilitas kesehatan.

Contohnya Maria (bukan nama sebenarnya), ibu hamil dari Kabupaten Kupang ini berinisiatif melakukan pemeriksaan menggunakan DetectMe ketika merasakan janinnya tidak aktif. Melihat hasil pemantauan tak seperti biasanya, Maria kemudian melaporkan ke bidan dan melakukan pemeriksaan di puskesmas.


Read more: Angka kematian ibu dan bayi di Papua tertinggi se-Indonesia: bagaimana cara mengatasinya?


Dari hasil pemeriksaan, bidan memutuskan untuk merujuk Maria ke dokter spesialis kandungan (obgyn). Sehari berselang, persalinan dilakukan lewat operasi sesar dan janin terselamatkan.

Penelitian kami menunjukkan bahwa sistem DetectMe tidak hanya memberdayakan ibu hamil, tetapi juga keluarganya. Mereka tidak hanya menjadi penerima layanan kesehatan, tetapi juga berperan aktif dalam proses pemantauan kesehatan bersama tenaga kesehatan.

Contohnya, suami ataupun anak paling besar bergantian membantu memasang perangkat DetectMe ke perut ibu dan melihat hasilnya.

Tingkatkan efektivitas kerja bidan

Bidan di tiga wilayah penelitian menyampaikan tentang besarnya manfaat DetectMe dalam membantu tugas bidan, khususnya pemantauan kehamilan yang biasanya dilakukan lewat kunjungan rumah (homevisit).

Fransiska (bukan nama sebenarnya), bidan dari Puskesmas Tarus di Kabupaten Kupang, mengatakan bahwa perangkat DetectMe sangat membantu pekerjaannya sebagai nakes di desa.

“Terutama untuk ibu-ibu dengan risiko. Kita tidak harus kontak mereka untuk datang ke sini, karena dapat kita ketahui keadaan mereka,” ujarnya.

Berbekal data hasil pemantauan dari rumah, bidan memperoleh gambaran perkembangan kondisi ibu dan janin secara lebih berkelanjutan. Informasi tersebut membantu mereka menentukan apakah kondisi kehamilan masih dalam batas normal atau memerlukan tindakan segera.

Pelatihan penggunaan sistem DetectMe melibatkan 36 bidan desa, serta sembilan bidan koordinator dari sembilan puskesmas di Kabupaten Garut, Jawa Barat; Kota Ambon, Maluku; dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pelatihan penggunaan sistem DetectMe melibatkan 36 bidan desa, serta sembilan bidan koordinator dari sembilan puskesmas di Kabupaten Garut, Jawa Barat; Kota Ambon, Maluku; dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Apabila ditemukan indikasi yang memerlukan perhatian, bidan dapat segera menghubungi ibu hamil dan melakukan pemeriksaan lanjutan. Apabila diperlukan, mereka akan merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Pendekatan ini berpotensi mengubah pola pelayanan dari yang semula bersifat kuratif (menyembuhkan penyakit) menjadi promotif dan preventif (mencegah penyakit) sesuai visi pemerintah dalam memperbaiki sistem kesehatan nasional.

Butuh kerja sama semua pihak

Penggunaan teknologi pemantauan kehamilan dan janin DetectMe sangat potensial, terutama bagi ibu yang hidup di wilayah dengan hambatan geografis, keterbatasan tenaga kesehatan, akses transportasi, maupun waktu.

Namun, sistem ini perlu dikembangkan lebih lanjut. Misalnya, dengan mengembangkan desain produk yang lebih mudah digunakan, seperti penyimpanan data sementara dalam keadaan offline.

Selain itu, perlu ada kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan konektivitas jaringan internet di daerah terluar, maupun integrasi dengan sistem kesehatan nasional.


Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama KONEKSI dan The Conversation Indonesia.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.