● Meski aturan komisi belum rampung, Prabowo mengklaim penghasilan ojol meningkat.
● Padahal di lapangan, ojol menyatakan kondisi mereka tak berubah.
● Jika hanya bermain di persentase komisi, nasib ojol takkan pernah berubah.
Sejak Juli 2026, potongan dari aplikasi ojek online (ojol) untuk pengemudi kini maksimal 8%. Artinya 92% omzet transaksi yang tercipta dalam setiap transaksi diberikan kepada mitra pengemudi.
Di atas kertas, wacana yang berlandaskan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 ini mungkin bisa menambah pendapatan pengemudi. Presiden Prabowo Subianto pun mengamini klaim tersebut dalam pidato kenegaraan di Gedung Parlemen 14 Agustus lalu.
Usut punya usut, hingga kini Perpres tersebut belum rampung. Namun setidaknya, para aplikator seperti Grab dan Gojek (GoTo) sudah berkomitmen menjalankan mandat ini sejak Juli lalu.
Tapi pertanyaannya, benarkah kesejahteraan pekerja platform bisa diselesaikan hanya dengan mengubah angka pembagian pendapatan?
Read more: Bukan kebaikan hati presiden: Potongan ojol dipangkas, tapi eksploitasi belum tuntas
Penghasilan para mitra tidak bertambah
Dalam kompilasi wawancara mitra ojol yang dilakukan sebuah media daring nasional awal Agustus ini, penghasilan yang diterima driver ojol tidak membaik.
Di balik satu transaksi ojek online, ada pengemudi yang mengejar pesanan, konsumen yang sensitif terhadap harga, dan merchant UMKM yang mengandalkan traffic aplikasi, promo dan voucher. Ada juga algoritma yang menentukan distribusi pesanan, hingga platform yang harus menjaga seluruh sistem tetap berjalan.
Dari sudut pandang driver, ukuran kesejahteraan sebenarnya sederhana: berapa uang yang dapat dibawa pulang setelah bekerja seharian. Penghasilan pengemudi juga ditentukan oleh jumlah pesanan, tarif perjalanan, waktu menunggu, bonus, bensin, biaya pemeliharaan kendaraan, cicilan, serta berapa lama mereka harus berada di jalan.
Di sinilah persoalannya. Dalam riset kami terhadap para mitra pengemudi di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta, mayoritas dari mereka menggambarkan pekerjaan mereka sebagai aktivitas yang semakin bergantung pada algoritma.
Read more: Krisis ojol: Promo selalu mencekik pengemudi, jam-jam padat malah bikin rugi
Aplikator tentunya harus memenuhi porsi profitnya sambil tetap menjaga loyalitas pengguna. Jika harga layanan naik terlalu tinggi, konsumen dapat mengurangi penggunaan dan berpaling ke aplikasi sebelah.

Namun, bagi mitra driver, mereka kebanyakan tidak punya pilihan selain pasrah terhadap algoritma. Mereka pun sulit berpindah pekerjaan karena sulitnya mencari nafkah di bidang lain dalam kondisi seperti saat ini.
Pemberdayaan dan kolaborasi jadi kunci
Tidak bisa dimungkiri, ketika lapangan kerja formal terbatas atau seseorang kehilangan pekerjaan, menjadi pengemudi mitra platform bisa berfungsi sebagai “bantalan sosial”.
Bedanya, dalam pekerjaan formal biasanya ada tangga karier–staf bisa dapat promosi menjadi supervisor. Sementara dalam pekerjaan berbasis platform, jalur semacam ini jauh lebih kabur—para mitra pun sebenarnya sudah banyak yang menyadari hal ini.
Ketika kompetisi dan hak hanya berbasis tarif, ruang mereka untuk memperoleh nilai lebih dari kualitas layanan menjadi sangat terbatas. Tantangan berikutnya adalah bukan lagi bagaimana membuat platform ramah di kantong masyarakat, tetapi membuat ekosistemnya lebih bernilai.
Tak kurang ada 7 juta mitra ojol di Indonesia saat ini. Usia dan latar belakang pendidikan mereka sangat beragam.
Setidaknya para pengemudi memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang baik. Alhasil, jumlah layanan yang besar memiliki potensi tinggi untuk menciptakan nilai tambah bagi platform dalam pengembangan bisnis yang efisien karena tak perlu lagi mencari talent dan melakukan studi kelayakan bisnis terlebih dahulu.
Apalagi, dalam survei lapangan kami, mayoritas pengemudi tidak ingin langsung meninggalkan platform sekalipun mereka diberdayakan dan diberi pelatihan. Ini jadi indikasi loyalitas yang baik dari para mitra.
Read more: Sadar pekerjaannya tidak langgeng, teman-teman ojol berhasrat mendapat pelatihan ‘upskilling’
Adapun pelatihan yang diharapkan antara lain; bahasa asing, pelayanan pelanggan, maupun literasi digital menarik bagi mereka karena dapat meningkatkan kualitas layanan dan membuka akses ke segmen pelanggan dengan nilai lebih tinggi.
Para mitra ojol berhak memperoleh pendapatan dan kondisi kerja yang layak selama berada di dalam platform. Idealnya, mereka butuh dua lapis perlindungan; kepastian upah layak dan pemberdayaan berupa upskilling, reskilling, sertifikasi, micro-credential, kewirausahaan, hingga jalur menuju pekerjaan lain.
Tidak hanya pekerjaan rumah aplikator
Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi digital dan platform seharusnya bukan hanya berapa juta orang yang berhasil masuk ke dalamnya. Kita juga perlu melihat berapa banyak yang berhasil tumbuh setelah masuk ke dalamnya.
Tentu tidak realistis jika seluruh tanggung jawab tersebut dibebankan kepada platform.
Pemerintah juga perlu menerbitkan aturan dan menegakkan hukum terhadap transparansi komisi, pelanggaran, dan jaminan sosial kedua belah pihak. Pun status mereka—baik sebagai mitra, UMKM, ataupun pekerja langsung platform juga perlu ditetapkan secara jelas dan adil.
Perguruan tinggi dapat menyediakan program singkat dan fleksibel. Pemerintah dapat menghubungkannya dengan program ketenagakerjaan dan reskilling. Industri dapat membuka jalur sertifikasi dan job matching.

Ekonomi gig tidak harus terus-menerus bertumpu pada siapa yang dapat menawarkan perjalanan termurah. Pengemudi dengan keterampilan lebih baik memungkinkan platform membangun layanan berbasis kualitas dan nilai, bukan hanya perang harga.
Namun, ada satu batas yang perlu ditegaskan. Pengembangan keterampilan sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti atas upaya menciptakan kondisi kerja dan pendapatan yang layak. Keduanya menjawab kebutuhan yang berbeda tapi tetap saling melengkapi.
Inilah mengapa perdebatan mengenai potongan komisi 8% seharusnya menjadi pintu masuk, bukan akhir dari diskusi mengenai kesejahteraan pekerja platform.
Membagi pendapatan secara lebih adil memang penting, tetapi ekonomi gig tidak akan menjadi benar-benar inklusif jika orang hanya diberi kesempatan untuk terus bekerja tanpa jalur untuk berkembang.
Read more: Maraknya transaksi taksi ‘online’ di luar aplikasi adalah kemunduran, semua pihak merugi





Comments are closed.