Proklamator kemerdekaan, Mohammad Hatta, pernah berujar “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku. Dengan buku aku bisa bebas.”
Agaknya, Hatta memperlakukan buku sebagai sahabat sekaligus guru. Saat Hatta diasingkan ke Digul, Papua Selatan, pada tahun 1935, salah satu permintaan Hatta pada kolonial adalah turut membawa serta buku-bukunya yang jumlah keseluruhan mencapai enam belas peti.
Kita asumsikan jika satu peti isinya bisa mencapai seratus, berarti ada 1600 buku yang dibawa ke Digul oleh Hatta. Ia sepertinya sangat menyadari bahwa tidak mungkin bisa memahami keadaan dunia tanpa buku. Membaca menjadi jembatan untuk mengantarkan pada pemikiran baru dan mengerti permasalahan yang sedang terjadi.
Kini, zaman telah berubah. Untuk mengetahui update permasalahan dunia, bisa dilakukan hanya dengan sekali klik pada layar. Misalnya, seseorang bisa menganggap mengetahui persoalan kondisi kehidupan orang-orang di bantaran kali Jakarta lewat media sosial atau YouTube tanpa perlu membaca buku Tempat Terbaik di Dunia (Margin Kiri, 2018) selama berhari-hari atau buku antropologi lainnya. Atau justru tak perlu membaca buku karya Roanne van Voorst tersebut, cukup hanya membaca resensinya.
Informasi kini ada dalam genggaman. Pengguna internet tak asing dengan Perplexity AI, ChatGPT (OpenAI), Google Gemini, Microsoft Copilot, dan Claude (Anthropic). Semua teknologi itu banyak membantu manusia mendapatkan informasi super cepat, mudah, dan murah.
Membeli buku, membaca berhari-hari, dan memikirkan isi bacaan, agaknya makin tersisih dalam upaya mencari sebuah informasi dan pemahaman. Apakah ungkapan Hatta soal buku masih relevan saat ini? Apakah jika Hatta merasakan kondisi yang penuh AI seperti ini, ia akan tetap memilih buku sebagai teman karib dalam mencari informasi?
Buku memang kalah cepat jika dibandingkan AI. Artificial intelligence bisa menghadirkan sejuta informasi tanpa banyak menuntut penggunanya selain koneksi internet. Buku sebaliknya, ia tidak memberi informasi dalam waktu instan. Buku justru menuntut pembaca untuk fokus, sabar, teliti, dan hening untuk mendapatkan sebuah pemahaman.
Melihat perbedaan itu, apakah buku akan kehilangan penggemar? Agaknya tidak. Meski sejuta kemudahan ditawarkan Artificial Intelligence, buku tetap akan diminati oleh banyak orang, utamanya yang berupaya tetap ingin mengasah ketajaman otak. AI memang efisien tetapi buku melatih kedalaman pemahaman dan daya tahan kognitif manusia. AI bisa memberi jawaban tetapi buku membentuk pembaca yang berpikir.
John Sweller, Profesor Emeritus Psikologi Pendidikan di University of New South Wales (UNSW), Australia, menggagas teori Cognitive Load Theory (CLT). Ia mengungkapkan bahwa kapasitas memori kerja manusia terbatas. Jika beban informasi terlalu besar, proses belajar bisa tidak efektif. CLT membagi beban kognitif menjadi tiga jenis, intrinsic load, extraneous load, dan germane load.
Intrinsic load adalah beban yang muncul dari kompleksitas materi yang dipelajari. Misalnya, mempelajari kalkulus jelas lebih menuntut daripada sekadar penjumlahan sederhana. Beban ini tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dikelola dengan cara penyajian yang tepat. Extraneous load ialah beban tambahan yang tidak berasal dari materi, melainkan dari cara informasi disajikan. Jika penjelasan berantakan, terlalu cepat, atau tidak sistematis, otak akan terbebani. Sedangkan germane load merupakan usaha mental yang diarahkan untuk membangun skema pengetahuan baru, yaitu proses otak menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada sehingga terbentuk pemahaman yang lebih kokoh.
Dalam konteks ini, perbedaan antara membaca buku dan memperoleh jawaban instan dari AI menjadi jelas. AI sering menyajikan informasi secara ringkas dan cepat, tetapi potongan jawaban tersebut bisa menambah extraneous load karena otak harus menyusun sendiri keterkaitan antar gagasan. Informasi yang terlalu padat yang disajikan AI tanpa alur naratif membuat otak mudah kewalahan.
Sebaliknya, buku menyajikan pengetahuan secara bertahap dan sistematis. Struktur bab, sub bab, dan paragraf membantu otak mengurangi extraneous load dan fokus pada intrinsic load yang memang harus dipahami. Buku juga memberi ruang bagi germane load, karena pembaca bisa merenung, mencatat, dan menghubungkan ide-ide baru dengan pengetahuan lama. Membaca buku akhirnya tidak hanya soal memperoleh informasi, tetapi juga melatih otak untuk membangun pemahaman yang lebih dalam.
Benang merah dari teori ini adalah bahwa ketergantungan penuh pada AI berisiko menimbulkan overload informasi. Saat manusia hanya menerima jawaban cepat tanpa proses bertahap, otak tidak memiliki cukup waktu untuk mengolah dan menyimpan pengetahuan dalam memori jangka panjang. Pola itu bisa berdampak pada mudahnya melupakan informasi yang didapat atau kata lainnya memahami informasi hanya secara dangkal. Membaca buku, sebaliknya, memberi ruang hening dan ritme yang lebih lambat, sehingga otak dapat mengurangi beban kognitif dan mengoptimalkan germane load.
Proses tersebut melatih kesabaran, ketekunan, dan kemampuan reflektif. Saat membaca buku, manusia tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun skema berpikir yang kokoh, kritis, dan berkelanjutan. Barangkali, inilah alasan mengapa buku tetap diperlukan dan unggul dalam beberapa hal dibandingkan AI.





Comments are closed.