Mon,15 June 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Bumi makin terancam jika Trump tetap ingin mengeruk dan menguasai Greenland

Bumi makin terancam jika Trump tetap ingin mengeruk dan menguasai Greenland

bumi-makin-terancam-jika-trump-tetap-ingin-mengeruk-dan-menguasai-greenland
Bumi makin terancam jika Trump tetap ingin mengeruk dan menguasai Greenland
service

Sejak Donald Trump kembali menjabat sebagai presiden Amerika Serikat (AS), ia berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland.

Trump bersikeras bahwa AS akan menguasai pulau, yang saat ini masih merupakan wilayah otonom Denmark tersebut.

Ia bahkan menyatakan bahwa jika keinginannya ditolak, Trump tak segan menggunakan kekuatan militer untuk merebut Greenland. Pilihan lainnya, seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kepada anggota Kongres pada 5 Januari 2026, mereka akan membeli pulau itu.

Ide soal pengambilalihan ini kembali mencuat pada awal 2026 setelah komentar seorang pejabat terdekat Trump memicu kecaman dari negara-negara Eropa.

Dalam sebuah agenda dengar pendapat Kongres, para senator dan ahli membahas pentingnya Greenland bagi AS. Mereka fokus pada nilai strategis dan kekayaan sumber daya alam pulau tersebut: mineral kritis, bahan bakar fosil dan tenaga air.

Tak seorang pun menyinggung risiko dan bahaya akibat ambisi menguasai pulau itu.

Sikap ini sangat ceroboh, karena iklim di Arktik berubah lebih cepat dibanding wilayah mana pun di muka Bumi.

Pemanasan yang sangat cepat semakin meningkatkan risiko ekonomi dan keselamatan bagi mereka yang tinggal, bekerja, atau mengisap sumber daya di Greenland, tak terkecuali bagi seluruh penghuni Bumi.

Peta menunjukkan perubahan suhu permukaan Arktik, dan grafik menunjukkan peningkatan suhu seiring waktu.

Suhu permukaan di Arktik telah meningkat lebih cepat daripada rata-rata global. Arctic Report Card, NOAA Climate.gov

Saya adalah seorang peneliti ilmu bumi (geoscientist) yang mempelajari sejarah Greenland dan lapisan esnya, termasuk bahaya alam dan perubahan iklim.

Pengetahuan ini penting untuk memahami risiko operasi militer dan kegiatan ekstraktif di Greenland, baik saat ini maupun di masa depan.

Greenland: Negeri yang serba ekstrem

Greenland sangat berbeda dari tempat tinggal kebanyakan orang. Iklminya sangat dingin. Hampir sepanjang tahun, es laut menempel di sepanjang pesisir, membuat wilayah tersebut sulit diakses.

Lapisan es tebal hingga 3 kilometer menutupi lebih dari 80% wilayah pulau. Penduduknya—sekitar 56 ribu jiwa—tinggal di sepanjang garis pantai yang terjal dan berbatu.

Saat melakukan penelitian untuk buku saya “When the Ice is Gone,” saya jadi memahami bagaimana iklim Greenland yang keras dan bentang alamnya yang liar bisa menggagalkan upaya kolonial di masa lalu.

Saat Perang Dunia II, puluhan pilot militer AS tersesat dalam kabut tebal dan kehabisan bahan bakar, lantas menabrak lapisan es.

Pada 1992, gunung es Greenland menenggelamkan kapal Titanic. Lalu, 46 tahun kemudian, gunung es lain menenggelamkan kapal Denmark dan menewaskan 95 penumpang di dalamnya. Padahal, kapal tersebut sudah dirancang khusus untuk menghadapi es.

Kini, bahaya alam yang diperparah oleh perubahan iklim membuat ekstraksi sumber daya dan operasi militer di Greenland bakal semakin sulit, mahal, dan berisiko mematikan.

Batu yang bergerak

Wilayah pesisir Greenland rentan terhadap longsoran batu. Bahaya ini muncul karena manusia tinggal di pesisir. Di sanalah batuan tidak tertutup lapisan es.

Di beberapa tempat, batuan tersebut mengandung mineral kritis, seperti emas dan logam langka lain yang digunakan dalam teknologi modern, termasuk papan sirkuit dan baterai kendaraan listrik.

Lereng-lereng yang tidak stabil mencerminkan bagaimana dahulu saat lapisan es masih berukuran lebih besar mengikis fjord-fjord (teluk laut panjang yang sempit dan dalam). Kini, setelah es mencair, tidak ada lagi penyangga bagi dinding-dinding lembah yang tegak lurus, akibatnya mereka runtuh.

Longsoran batu besar ke dalam fjord

Longsoran batu besar yang dipicu oleh mencairnya lapisan es abadi (permafrost) meluncur turun dinding fjord dan jatuh ke air di Assapaat, Greenland Barat. Kristian Svennevig/GEUS

Pada 2017, sebuah lereng gunung di barat laut Greenland runtuh sejauh 900 meter ke perairan fjord di bawahnya.

Tak lama kemudian, gelombang besar yang dihasilkan (tsunami) menerjang desa Nuugaatsiaq and Illorsuit. Air yang membawa bongkahan es dan es laut mencerabut rumah-rumah dari fondasinya, warga dan anjing-anjing penarik kereta salju berlarian menyelamatkan diri. Akibatnya, empat orang tewas dan kedua desa hancur.

Dinding fjord yang curam di sekitar pulau dipenuhi bekas longsoran masa lalu. Bukti menunjukkan bahwa pada suatu masa dalam 10 ribu tahun terakhir, salah satu longsoran itu menjatuhkan batuan yang cukup untuk mengisi 3,2 juta kolam renang olimpiade.

Pada 2023, longsoran lain memicu tsunami yang bolak-balik mengguncang selama sembilan hari di sebuah fjord Greenland.

Sebuah video ponsel merekam gelombang tsunami yang menerjang pantai di bagian barat laut Greenland pada Juni 2017.

Greenland juga tidak memiliki jaringan jalan beraspal yang menghubungkan wilayah-wilayahnya. Laut merupakan satu-satunya jalan untuk memindahkan peralatan berat, mineral, serta minyak dan gas.

Namun, dermaga, tambang, dan bangunan yang berada hanya beberapa meter di atas permukaan laut, sangat rentan terkena tsunami akibat longsoran batu.


Read more: ‘Jatah’ emisi karbon kita tinggal 3 tahun lagi, studi baru peringatkan dunia kehabisan waktu mengatasi dampak terburuk krisis iklim


Es yang mencair: Mematikan dan mahal

Pemanasan global akibat aktivitas manusia, yang didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil, mempercepat pencairan es Greenland.

Hal ini mengancam infrastruktur pulau serta cara hidup masyarakat lokal, yang selama ribuan tahun telah menyesuaikan sistem transportasi dan pangan mereka dengan keberadaan salju dan es.

Banjir besar akibat lelehan lapisan es yang dipicu suhu hangat, baru-baru ini bahkan menghanyutkan jembatan yang telah berdiri selama setengah abad.

Seiring menghangatnya iklim, permafrost (tanah dan batuan beku yang menjadi fondasi pulau) mulai mencair. Hal ini mengguncang kestabilan lanskap, melemahkan lereng curam, dan merusak infrastruktur penting.

Sebuah ekskavator berusaha menyelamatkan jembatan di atas Sungai Watson di Kangerlussuaq, Greenland. Sebagian jembatan dan mesin tersebut akhirnya hanyut terbawa oleh air lelehan es yang mengalir deras dari lapisan es Greenland selama gelombang panas pada Juli 2012.

Pencairan permafrost juga sudah mengancam pangkalan militer AS di Greenland. Saat es mencair dan tanah di bawah landasan pacu turun, muncul retakan dan lubang yang membahayakan pesawat. Bangunan miring karena fondasinya amblas ke tanah yang melunak, termasuk instalasi radar penting yang sejak 1950-an memantau langit dari ancaman rudal dan bom.

Gunung es Greenland juga bisa mengancam anjungan pengeboran minyak. Ketika iklim yang menghangat mempercepat aliran gletser, lebih banyak gunung es terlepas ke laut.

Di sekitar Greenland, masalah ini kian memburuk dengan sebagian gunung es hanyut ke Kanada, dan membahayakan anjungan minyak di sana. Kapal-kapal pun siaga untuk menarik gunung es yang berbahaya agar menjauh.

Sebuah anjungan minyak dengan gunung es besar di depannya.

Sebuah gunung es melintas di dekat anjungan pengeboran minyak di Kanada timur. Geoffrey Whiteway/500px Plus via Getty Images

Pemerintah Greenland melarang pengeboran bahan bakar fosil pada 2021 karena kekhawatiran lingkungan. Namun Trump dan sekutunya tetap ingin melanjutkan eksplorasi di sekitar pulau itu, meskipun biayanya sangat tinggi. Padahal, hasilnya tak seberapa, dan risiko gunung es mengintai.

Ketika es Greenland mencair dan air mengalir ke laut, permukaan laut berubah, tetapi tidak selalu sesuai asumsi sederhana kita. Jauh dari pulau, permukaan laut naik sekitar 2,5 sentimeter setiap enam tahun.

Namun di dekat lapisan es, justru daratan yang naik. Kenaikan ini sangat cepat–lebih dari enam kaki atau sekitar 1,8 meter per abad. Dalam waktu dekat, banyak pelabuhan di Greenland bisa menjadi terlalu dangkal untuk lalu lintas kapal.

Salju gelap dengan aliran air yang mengalir di dalamnya.

Aliran air lelehan mengalir di atas permukaan yang tertutup lumpur dari lapisan es saat meleleh akibat musim panas di dekat Kangerlussuaq di bagian barat Greenland. REDA/Universal Images Group via Getty Images

Read more: Pemanasan laut 2024 cetak rekor lagi, tinggalkan 2 misteri yang perlu segera dipecahkan


Masa lalu dan masa depan Greenland yang penuh tantangan

Sejarah dengan jelas menunjukkan bahwa banyak upaya militer dan kolonial gagal di Greenland karena mengabaikan iklimnya yang keras dan lapisan esnya yang dinamis.

Perubahan iklim memaksa pemukim Norse meninggalkan Greenland 700 tahun lalu.

Para penjelajah yang mencoba menyeberangi lapisan es tewas karena dingin. Pangkalan militer AS yang dibangun di dalam lapisan es, seperti Camp Century, hancur dengan cepat karena salju di sekitarnya berubah bentuk.

Di masa lalu, fokus AS di Greenland sering bersifat jangka pendek dan mengabaikan dampak jangka panjang.

Pangkalan militer AS yang ditinggalkan sejak Perang Dunia II, yang kini tersebar di pulau dan membutuhkan pembersihan, adalah salah satu contohnya. Contoh lain adalah relokasi paksa komunitas Inuit Greenland selama Perang Dingin.

Saya menilai tuntutan Trump saat ini untuk menguasai Greenland demi mengeksploitasi sumber dayanya juga sama-sama picik dan berpandangan sempit.

Puluhan drum berkarat dengan latar belakang pegunungan.

Tumpukan drum bahan bakar yang berkarat tergeletak di sebuah pangkalan militer Amerika Serikat yang ditinggalkan dari Perang Dunia II di Ikateq, di bagian timur Greenland. Posnov/Moment via Getty Images

Namun, saya berpendapat bahwa nilai strategis dan ekonomi terbesar Greenland bukanlah lokasi atau sumber daya alamnya, melainkan esnya yang menentukan kelayakhunian planet ini.

Salju dan es putih itu memantulkan sinar matahari, membantu mendinginkan Bumi.

Dan karena lapisan es berada di daratan, ia menahan air agar tidak masuk ke laut. Ketika es mencair, lapisan es Greenland akan menaikkan permukaan laut hingga sekitar 7 meter jika seluruh esnya lenyap.

Kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim sudah membanjiri wilayah pesisir di seluruh dunia, termasuk pusat-pusat ekonomi besar. Jika tren ini berlanjut, kerugian diperkirakan mencapai triliunan dolar AS.

Jika es Greenland mencair, genangan pesisir akan memicu migrasi terbesar dalam sejarah manusia, yang berpotensi mengguncang tatanan ekonomi dan geopolitik global.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa mengabaikan risiko bahaya alam dan perubahan iklim di Greenland sama dengan mengundang bencana, baik secara lokal maupun global.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.