Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) makin menggila terutama di berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, maupun Sumatera Selatan. Badan Nasioan Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan, penanganan karhutla menjadi prioritas pemerintah saat ini, termasuk di Kalimantan yang merupakan zona terparah. BNPB menyebut, hingga Jumat (21/8/26), karhutla di Kalimantan terdeteksi terjadi di sembilan wilayah, yakni, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Balangan dengan total area terbakar capai 595 hektar. Wilayah dengan estimasi luasan terbesar berada di Kabupaten Banjar sekitar 174 hektar, Kabupaten Tanah Laut 107 hektar, Kabupaten Barito Kuala 96 hektar, dan Kabupaten Tapin 85 hektar. Selain darat, BNPB siagakan armada udara di Lanud Sjamsudin Noor berupa dua unit patroli udara dan tiga helikopter water bombing. Operasi water-bombing menggunakan tiga helikopter jenis AS 322C1 Super Puma, M18-AMT dan Sikorsky Black Hawk dengan lebih dari 1,5 juta liter air. Kobaran api muncul di tengah hamparan lahan kosong di kawasan Awang Peramuan, Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Rabu (22/7/26). Foto: Riyad Dafhi Rizki/Mongabay Indonesia. Tak serius? Sejumlah kalangan menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sumatera, hingga Papua tak sekadar soal cuaca tetapi cerminan atas buruknya tata kelola sumber daya alam (SDA). Ironisnya, kendati sudah menjadi bencana tahunan, pemerintah terkesan tak serius melakukan antisipasi. Hasil pantauan Greenpeace 11–16 Agustus, jumlah titik sumber asap di Kalimantan meluas, dengan 592 titik, 455 di antaranya berada di lanskap gambut. Sebanyak 322 titik terdeteksi di Kalimantan Barat…This article was originally published on Mongabay
Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan
Mempertanyakan Keseriusan Pemerintah Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan





Comments are closed.