Jakarta –
Anak yang pernah menjadi korban gaslighting saat kecil sering kali menunjukkan karakter serupa saat dewasa. Bagaimana cara mengenalinya?
Seperti diketahui, gaslighting merupakan salah satu tanda khas dari kekerasan narsistik dan perilaku ini sangat toksik.
“Gaslighting membuat seseorang mempertanyakan realitas dirinya sendiri dan merupakan bentuk manipulasi atau kekerasan. Terjadi pembalikan peran yang besar, pelaku justru diposisikan sebagai korban dan korban dibuat seolah-olah menjadi pelaku,” jelas psikoterapis Dr. Elisabeth Crain, PsyD., dikutip dari Parade.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak perilaku ini sangat buruk, terutama jika dilakukan oleh orang tua kepada anaknya.
“Bagi anak-anak yang mengalami gaslighting, dampaknya justru lebih buruk dibandingkan ketika seseorang baru mengalaminya saat dewasa,” imbuh Crain.
Pada dasarnya, anak-anak bergantung pada orang tua. Jadi saat anak berada dalam lingkungan yang gaslighting, mereka harus menyesuaikan diri dengan pengasuh narsistik atau manipulatif.
“Mereka tidak memiliki jalan keluar, sehingga mereka akan menyalahkan diri sendiri sebagai cara untuk menghadapinya,” tambahnya.
Contoh gaslighting pada masa kanak-kanak
Dikutip dari Psychology Today, anak-anak sangat rentan terhadap dampak gaslighting, terutama pada kesehatan mentalnya.
Gaslighting merupakan bentuk manipulasi ketika seseorang dibuat meragukan ingatan, keyakinan, atau perasaannya sendiri. Akibatnya, anak tidak lagi mempercayai dirinya sendiri dan bahkan seperti tak punya harga diri.
Ketika orang tua melakukan gaslighting terhadap anak, contohnya bisa dimulai dengan berbohong kepada anak, kemudian menutupi kebohongan tersebut. Hal ini menyebabkan anak meragukan dirinya sendiri dan mengalami kebingungan.
Anak-anak sangat rentan terhadap manipulasi kognitif ini karena otak mereka, terutama lobus frontal, belum berkembang sepenuhnya.
Hal ini membuat mereka lebih mudah mengalami kebingungan dibandingkan orang dewasa yang otaknya telah berkembang secara penuh.
Risiko gaslighting kronis pada masa kanak-kanak
Di lingkungan tersebut, anak tetap harus berusaha mempertahankan hubungan dengan orang tua yang menjadi tempat mereka bergantung.
“Anak-anak tidak memiliki kendali atau kemampuan untuk melepaskan diri dari perilaku toksik. Mereka mungkin belum memiliki keterampilan untuk menghadapi situasi seperti ini,” ujar Crain.
Akibatnya, anak-anak yang terus-menerus mengalami gaslighting akan cenderung melakukan:
- Penyangkalan
- Menyalahkan diri sendiri
- Sangat malu
Pemikiran selalu menyalahkan diri sendiri ini dapat terus terbawa hingga dewasa. Mereka jadi kesulitan memandang dirinya sendiri secara positif.
Ada beberapa hal yang dapat diamati sebagai tanda-tanda anak pernah menjadi korban gaslighting, di antaranya seperti:
1. Selalu mempertanyakan perasaan diri sendiri
Salah satu contoh perilaku gaslighting yakni memutarbalikkan persepsi korban terhadap fakta. Dengan begitu, pendapat anak seolah-olah selalu disalahkan.
Sebagai contoh, anak merasa sangat kesal ketika orang tua mengomentari berat badannya, kemudian ia membicarakan hal tersebut di lain waktu.
Orang tua lalu justru mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengucapkan hal tersebut atau bahwa anak hanya bereaksi secara berlebihan.
Saat dewasa, anak nantinya mungkin kurang mempercayai diri sendiri atau terus-menerus mempertanyakan perasaannya sendiri.
2. Menyalahkan diri sendiri
Menurut Crain, taktik besar lain yang digunakan dalam gaslighting adalah orang tua sering menyalahkan anak atas sesuatu yang mungkin dilakukan atau tidak dilakukannya.
Kondisi ini membuat anak jadi merasa harus selalu melakukan segalanya untuk menyenangkan orang lain, terus meminta maaf meskipun tidak melakukan kesalahan, atau berpikir bahwa setiap masalah pasti kesalahan mereka.
3. Memutarbalikkan kenyataan
Saat mengalami gaslighting dalam jangka panjang, anak cenderung akan menjadi sulit membedakan mana yang fakta dan bukan.
Orang tua yang gaslighting akan selalu mengubah atau memutarbalikkan kejadian masa lalu, sehingga anak sering bingung.
4. Takut mengungkapkan pendapat
Karena selalu disalahkan atau bahkan faktanya diputarbalikkan, anak korban gaslighting juga cenderung jadi takut mengungkapkan pendapat.
Ketika beranjak dewasa, anak cenderung sering memendam kemarahan, kesedihan, atau kekecewaan. Mereka juga mungkin memilih diam ketika tidak setuju karena takut menimbulkan konflik.
5. Sangat perlu validasi dari orang lain
Anak yang sering dibuat meragukan dirinya sendiri sejak kecil biasanya akan tumbuh menjadi sosok yang bergantung pada penilaian orang lain. Ia mungkin terus mencari kepastian bahwa dirinya tidak salah atau tidak membuat orang lain kecewa.
Saat mulai berteman, ia mungkin mudah cemas ketika seseorang tidak membalas pesan atau menunjukkan perubahan sikap karena langsung berpikir bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.
6. Mudah cemas
Saat dewasa, anak yang menjadi korban orang tua gaslighting juga mungkin terus-menerus merasa stres dan cemas. Mereka berada dalam kondisi harus selalu berhati-hati dan takut melakukan kesalahan.
Bagaimana cara memulihkan diri dari dampak gaslighting?
Jika anak terlanjur mengalami perilaku gaslighting sejak kecil, ada beberapa cara untuk memulihkan diri untuk meminimalkan dampaknya:
1. Belajar mempercayai diri sendiri
Setelah dibuat selalu meragukan pengalaman sendiri sejak kecil, seseorang perlu belajar mengenali kembali apa yang ia rasakan, pikirkan, dan inginkan.
Cobalah rutin membuat jurnal, catatan perjalanan, atau sekadar menulis buku harian untuk dapat membantu melihat situasi dengan lebih objektif.
2. Membangun batasan sehat
Crain berpesan agar belajar memiliki kendali atas diri sendiri, pengetahuan, pemahaman, dan membangun batasan yang sehat.
Jangan ragu berkata ‘tidak’ untuk mengungkapkan ketidaknyamanan, atau mengambil jarak dari orang yang terus-menerus meremehkan perasaan dan memutarbalikkan kenyataan.
Membuat batasan juga bisa dimulai dengan hal sederhana, seperti tidak terus-menerus menjelaskan diri, berani menyampaikan pendapat, atau menghentikan percakapan ketika pembicaraan sudah menjadi tidak sehat.
3. Mencari dukungan profesional
Dalam beberapa kasus, pengalaman pola asuh gaslighting dapat memengaruhi kepercayaan diri anak. Oleh karena itu, jika perlu konsultasi profesional mungkin diperlukan.
Terlebih jika dampaknya cukup berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasi kesehatan mental menjadi penting.
Itulah penjelasan tentang cara-cara mengenali anak yang pernah jadi korban gaslighting saat kecil. Semoga bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)





Comments are closed.