Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Cerita Para Perempuan Pegiat Pangan dan Penggerak Energi Terbarukan

Cerita Para Perempuan Pegiat Pangan dan Penggerak Energi Terbarukan

cerita-para-perempuan-pegiat-pangan-dan-penggerak-energi-terbarukan
Cerita Para Perempuan Pegiat Pangan dan Penggerak Energi Terbarukan
service

Sebulan sudah Wina–bukan nama sebenarnya–tak bersekolah. Anak perempuan 9 tahun dari Desa Samurukie, Distrik Senggo Passue Bawah,  Mappi di Papua Selatan ini harus meninggalkan bangku sekolah tetapi adik kembar laki-lakinya selalu datang tepat waktu. Andi Rosita Dewi, guru relawan di kelas itu di SD itu, lalu bertanya ke saudara kembarnya, tetapi dia respon dengan menangis.  Wina meminta Ita, sapaan akrab Rosita langsung tanya ke sang ibu. Bergegas Ita mendatangi kediaman kedua orang tua anak itu. Mendengar penjelasan sang ibu, emosi Ita bukannya mereda, malah tambah marah. Keluarga prasejahtera itu mengaku hanya memiliki satu pasang sepatu. Terpaksalah hanya diberikan kepada anak laki-lakinya. “Saya juga tidak ingin jika anak tidak berangkat ke sekolah. Tetapi ibu saya dulu juga melakukan hal yang sama ke saya,” kata Ita menirukan pesan ibu Wina. Dia mengenang kisah beberapa tahun lalu. Ita nyaris menangis saat menceritakan kisah itu. Tambah lagi, Wina, salah satu siswi cerdas di kelas tiga sekolah dasar itu kini sudah tiada. Dia meninggal dunia sekitar empat tahun lalu terlibat kecelakaan air saat menaiki ketinting bersama sang ayah, menyusuri rimba di aliran sungai yang dijuluki seribu rawa itu. “Dia lahir dari kemiskinan struktural yang membentuk cara pandang keluarga sehingga mempengaruhi keputusan gender.” Kalau ingin melihat konteks lebih luas, ada beberapa hal yang membuat Wina tidak bersekolah, seperti ketidakberdayaan perempuan atas lahan dan pangan, minim pengolahan sagu, harga bahan bakar minyak (BBM) yang mahal dan kebijakan negara yang mungkin masih belum berpihak. Terlebih, Papua merupakan pulau dengan kekayaan alam berlimpah, seperti hutan sagu begitu luas. Bahkan,…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.