Sebulan sudah Wina–bukan nama sebenarnya–tak bersekolah. Anak perempuan 9 tahun dari Desa Samurukie, Distrik Senggo Passue Bawah, Mappi di Papua Selatan ini harus meninggalkan bangku sekolah tetapi adik kembar laki-lakinya selalu datang tepat waktu. Andi Rosita Dewi, guru relawan di kelas itu di SD itu, lalu bertanya ke saudara kembarnya, tetapi dia respon dengan menangis. Wina meminta Ita, sapaan akrab Rosita langsung tanya ke sang ibu. Bergegas Ita mendatangi kediaman kedua orang tua anak itu. Mendengar penjelasan sang ibu, emosi Ita bukannya mereda, malah tambah marah. Keluarga prasejahtera itu mengaku hanya memiliki satu pasang sepatu. Terpaksalah hanya diberikan kepada anak laki-lakinya. “Saya juga tidak ingin jika anak tidak berangkat ke sekolah. Tetapi ibu saya dulu juga melakukan hal yang sama ke saya,” kata Ita menirukan pesan ibu Wina. Dia mengenang kisah beberapa tahun lalu. Ita nyaris menangis saat menceritakan kisah itu. Tambah lagi, Wina, salah satu siswi cerdas di kelas tiga sekolah dasar itu kini sudah tiada. Dia meninggal dunia sekitar empat tahun lalu terlibat kecelakaan air saat menaiki ketinting bersama sang ayah, menyusuri rimba di aliran sungai yang dijuluki seribu rawa itu. “Dia lahir dari kemiskinan struktural yang membentuk cara pandang keluarga sehingga mempengaruhi keputusan gender.” Kalau ingin melihat konteks lebih luas, ada beberapa hal yang membuat Wina tidak bersekolah, seperti ketidakberdayaan perempuan atas lahan dan pangan, minim pengolahan sagu, harga bahan bakar minyak (BBM) yang mahal dan kebijakan negara yang mungkin masih belum berpihak. Terlebih, Papua merupakan pulau dengan kekayaan alam berlimpah, seperti hutan sagu begitu luas. Bahkan,…This article was originally published on Mongabay
Cerita Para Perempuan Pegiat Pangan dan Penggerak Energi Terbarukan
Cerita Para Perempuan Pegiat Pangan dan Penggerak Energi Terbarukan





Comments are closed.