Sun,16 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Cerita Shireen Sungkar Awal Tahu Putrinya Penyandang Autisme, Belajar Menerima dan Ikhlas

Cerita Shireen Sungkar Awal Tahu Putrinya Penyandang Autisme, Belajar Menerima dan Ikhlas

cerita-shireen-sungkar-awal-tahu-putrinya-penyandang-autisme,-belajar-menerima-dan-ikhlas
Cerita Shireen Sungkar Awal Tahu Putrinya Penyandang Autisme, Belajar Menerima dan Ikhlas
service

Jakarta

Artis Shireen Sungkar resmi menikah dengan Teuku Wisnu pada tahun 2013, Bunda. Dari pernikahan tersebut, keduanya kini dikaruniai tiga orang anak yang melengkapi kebahagiaan keluarga mereka.

Namun di balik kehidupan rumah tangga yang terlihat harmonis, Shireen dan Wisnu juga menghadapi perjalanan yang tidak mudah. Salah satunya terkait kondisi anak ketiga mereka yang diketahui memiliki kebutuhan khusus.

Anak ketiga mereka yang bernama Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, sempat melalui proses pemeriksaan sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis tersebut. Teuku Wisnu menceritakan bahwa dirinya dan Shireen sebelumnya tidak mengetahui kondisi yang terjadi pada sang anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kita baru tahu kalau Shafiyyah berkebutuhan khusus. Sebenarnya Shireen sudah sempat bilang sama aku, ‘Kenapa ya Shafiyyah enggak mau ke tempat-tempat yang ramai. Terus dia seperti menghindar ke tempat yang ramai’. Aku jawabannya waktu itu ke Shireen ya mungkin dia pemalu,” ujar Teuku Wisnu, dikutip dari kanal YouTube @TheSungkarsFamily.

Namun sebagai seorang Bunda, Shireen mengaku memiliki firasat bahwa sang anak perlu diperiksa lebih lanjut. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, akhirnya mereka mendapatkan kepastian diagnosis terkait kondisi Shafiyyah.

Awal mula Shireen mengetahui kondisi sang anak

Bunda tiga anak ini menceritakan bahwa pada awalnya perkembangan Shafiyyah terlihat normal seperti anak pada umumnya. Ia mengaku tidak ada hal yang mencolok pada sang anak.

“Jadi, Shafiyyah itu dari 0 sampai 2 tahun menurut kita baik-baik saja. Memang speech delay aja, kosakatanya ada terus. Usia 0 sampai 2 tahun tuh telat banget kelihatannya,” kata Shireen.

Seiring waktu, Shireen mulai merasakan adanya perubahan pada perilaku anaknya. Sang anak disebut lebih sering menyendiri dan tidak tertarik bermain bersama anak lain.

“Tapi memang ada momen yang akhirnya Shafiyyah itu lama-lama enggak mau main bareng ya. Kalau aku ajari dia menghindar, lebih suka melakukan apa-apa sendiri gitu,” ungkapnya.

Kondisi semakin terlihat saat masa pandemi COVID-19, ketika kegiatan anak banyak dilakukan di rumah. Kala itu, perkembangan sang anak justru terlihat mengalami perubahan, Bunda.

“Paling parah waktu itu COVID-19. Waktu itu dia (Shafiyyah) enggak beraktivitas di luar. Kelas-kelasnya berhenti, terus enggak ada main di playground, enggak ada kegiatan apa-apa, main di rumah, dan dia tuh anaknya enggak gadget,” ujarnya.

Shireen mengaku saat itu merasa terpukul karena melihat perubahan yang cukup jelas pada anaknya. Shireen menyebut kosakata yang sebelumnya ada justru menghilang dan kontak mata pun berkurang.

Di tengah kondisi tersebut, Shireen dan suami sempat menunda pemeriksaan ke rumah sakit karena situasi pandemi yang masih tinggi. Hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan saat sang anak berusia 2 tahun 8 bulan.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya Shireen mendapatkan kepastian bahwa sang anak mengalami autisme. Ini juga yang membuat Shireen bingung dan harus belajar banyak hal sebagai orang tua.

“Terus baru tahu kalau Shafiyyah itu memang autisme. Waktu itu bingung mencernanya gitu. Autisme itu apa? Terus aku harus melakukan apa? Terapinya itu seperti apa?” ungkap Shireen.

Mengetahui kondisi sang anak, Shireen sempat menyalahkan dirinya sendiri sebagai seorang Bunda. Berbagai pertanyaan dan rasa bersalah sempat muncul dalam proses penerimaannya.

“Aku salahin diri aku banget. Apa aku salah makan waktu hamil? Apa aku stres pas hamil? Apa aku salah mendidiknya?” tutur Shireen.

Perjalanan Shireen menerima takdir dan belajar ikhlas

Potret Wisuda Shafiyyah Putri Shireen SungkarShireen Sungkar, Teuku Wisnu, dan Syafiyyah/Foto: Instagram: @shireensungkar

Dalam proses mendampingi sang anak, Shireen menyadari bahwa dukungan lingkungan dan orang sekitar sangatlah penting. Ia merasa penerimaan terhadap kondisi anak bukanlah hal yang mudah untuk dijalani seorang diri.

“Aku merasa di situ pentingnya dukungan lingkungan dan guru. Karena untuk menerima takdir itu enggak mudah ya,” ujarnya.

Shireen juga menceritakan bahwa ia sempat berdiskusi dengan seorang ustaz untuk mencari ketenangan hati. Ia ingin tahu bagaimana cara tetap kuat tanpa terus larut dalam kesedihan.

“Aku bicara sama ustaz, ‘Gimana ya, ustaz, supaya saya tuh nerima, saya mau berjuang gitu. Terus enggak sedih melihat anak-anak seumuran Shafiyyah sudah bisa bicara, seumurannya bisa main’,” kata Shireen.

Dari percakapan tersebut, ia mendapatkan nasihat yang membuatnya banyak merenung tentang takdir. Shireen pun mulai melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lebih jauh.

“Tapi Masya Allah ustaz waktu itu bilang, ‘Kita manusia itu cuma bisa berencana. Allah yang kasih takdir. Kamu dikasih surga di depan mata, kenapa kamu harus pusing sama masa depan anak ketika Allah itu sudah menakdirkan anaknya?'” ujar Shireen.

Mendengar hal itu, Shireen mengaku perasaannya sempat campur aduk dan sulit dijelaskan. Ia mulai sadar bahwa selama ini ia terlalu fokus pada kekhawatiran dibandingkan rasa syukur.

“Wah, itu perasaan aku langsung enggak karuan. Memang aku tuh kenapa ya, aku lebih fokus marah sama kondisi daripada fokus berpikir Allah itu baik lho gitu,” kata Shireen.

Dalam perjalanan mendampingi anaknya, Shireen juga mengalami banyak naik turun emosi sebagai Bunda. Ia merasakan antara rasa syukur dan kesedihan yang datang silih berganti.

“Aku hatinya naik turun mendampingi Shafiyyah. Banyaklah fase-fase yang aku bersyukur, tapi banyak juga fase-fase aku sedih,” tuturnya.

Shireen juga mengingat kembali nasihat yang ia dapatkan tentang makna ‘surga di depan mata’ dalam kehidupannya. Ia pun kini lebih bersyukur dan menerima keadaan dengan hati yang tenang.

“Allah kasih pintu surga depan mata, dikasih anak berkebutuhan khusus itu surga. Kenapa sih kita enggak bersyukur? Padahal kalau kita bersyukur, kita bisa menjalani hal itu,” ujar Shireen.

“Di situ aku merasa pentingnya ilmu supaya kita bisa mengambil sudut pandang yang berbeda dalam kehidupan,” tuturnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.