Arina.id – Tradisi walimatus safar atau selametan menjelang keberangkatan haji telah menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk ikhtiar batin dan sosial sebelum calon jemaah haji berangkat ke Tanah Suci.
Dalam catatan sejarah yang ditulis Dien Madjid dalam buku Berhaji di Masa Kolonial (2008), tradisi ini bahkan sudah berlangsung sejak era penjajahan Belanda. Biasanya, dalam walimatus safar, calon jemaah haji menggelar acara pamitan dengan keluarga, kerabat, tetangga, hingga rekan kerja.
Momen ini dimanfaatkan untuk saling memaafkan serta memohon doa agar perjalanan ibadah diberikan kelancaran, kesehatan, dan keselamatan. Harapannya, sepulang dari Tanah Suci, mereka dapat meraih predikat haji yang mabrur.
Di sisi lain, masyarakat yang hadir juga turut mendoakan calon jemaah haji dengan doa yang penuh harap:
زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى وغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ اْلخَيْرَ حَيْثُ كُنْتَ
Artinya: “Semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, mengampuni dosa-dosamu, serta memudahkan kebaikan di mana pun engkau berada.”
Tradisi ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memiliki landasan dalam ajaran Islam. Dalam salah satu riwayat yang dikutip Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan berpamitan kepada para sahabat sebelum bepergian.
Sebaliknya, ketika beliau kembali dari perjalanan, para sahabat datang menyambut dan mengucapkan salam. Hal ini menunjukkan adanya anjuran untuk menjaga hubungan sosial dan mempererat ukhuwah dalam setiap momentum perjalanan.
وورد أنه صلى الله عليه وسلم كان إذا أراد سفرا أتى أصحابه فسلم عليهم وإذا قدم من سفره أتوا إليه فسلموا عليه
Artinya: “Bahwa Nabi Muhammad ketika akan bepergian, maka beliau mendatangi para sahabat, dan mengucapkan salam kepada mereka. Ketika Nabi Muhammad pulang, maka para sahabat mendatangi beliau, kemudian mereka mengucapkan salam kepada Nabi”
Selain itu, walimatus safar juga sering dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk “titip doa” kepada calon jemaah haji. Hal ini didasari keyakinan bahwa doa yang dipanjatkan di Tanah Suci memiliki keutamaan tersendiri karena dilakukan di tempat-tempat mustajab.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Sunan Tirmidzi, disebutkan bahwa Umar bin Khattab pernah meminta izin kepada Nabi Muhammad untuk melaksanakan umrah. Nabi kemudian berpesan agar Umar tidak lupa mendoakan beliau. Pesan ini menjadi dasar bahwa meminta didoakan oleh orang yang sedang melakukan perjalanan ibadah adalah sesuatu yang dianjurkan.
Dalam Kitab Sunan Tirmidzi 5/559, hadits nomor 3562, disebutkan:
عَن ابنِ عُمَرَ عَن عمَرَ أَنّهُ اسْتَأْذَنَ النبيّ صلى الله عليه وسلم في العُمْرَةِ فقالَ أَيْ أُخَيّ أشْرِكْنَا في دُعَائِكَ وَلاَ تَنْسَنَا. قال أبو عيسى هذا حديثٌ حَسَنٌ صحيحٌ.
Artinya: “Dari Ibnu Umar dari Umar, sesungguhnya Umar minta izin kepada Nabi melakukan umrah, maka Nabi bersabda: Wahai saudaraku sertakan kami dalam doamu, dan jangan lupa mendoakan kami“.
Dengan demikian, tradisi walimatus safar dan kebiasaan titip doa bukan sekadar praktik turun-temurun, tetapi juga memiliki dasar yang kuat. Selain mempererat hubungan sosial, tradisi ini menjadi sarana saling mendoakan dalam kebaikan, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan harapan akan keberkahan dalam setiap perjalanan ibadah.
Pada akhirnya, walimatus safar bukan hanya tentang melepas keberangkatan, tetapi juga tentang menguatkan ikatan batin, antara manusia dengan Tuhannya, dan sesama manusia dalam bingkai kebersamaan. Wallahu a’lam.





Comments are closed.