Sun,12 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Dampak Fatal Bullying Digital

Dampak Fatal Bullying Digital

dampak-fatal-bullying-digital
Dampak Fatal Bullying Digital
service

Fenomena remaja yang ramai-ramai menghujat seorang ibu yang berjualan secara live di salah satu platform media sosial mendapat perhatian dari Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Yusuf Ryadi.

Menurut dia, fenomena itu mengindikasikan gejala sosial yang mencerminkan kualitas interaksi masyarakat. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan interaksi positif, tetapi justru sering dipakai sebagai sarana melampiaskan agresi dan emosi negatif.

Hal ini, kata dia, menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya dan psikologis masyarakat kita. Ia menyatakan bullying di media sosial adalah suatu bentuk kekerasan verbal yang nyata dan berdampak serius bagi masyarakat. “Fenomena ini harus dipahami sebagai isu serius yang menuntut perhatian kolektif dan perlu kita hadapi bersama,” ucapnya tegas, Jumat, 26 Juni 2026.

Yusuf mengatakan, remaja yang mudah menghujat di media sosial mengalami proses psikologis masa perkembangan berupa kontrol emosi dan pengendalian diri yang belum matang. Sifat media sosial yang anonim dan instan membuat mereka merasa aman untuk mengekspresikan kata-kata kasar secara spontan lewat kolom komentar tanpa konsekuensi secara langsung.

“Anak yang terbiasa melakukan bullying berisiko tumbuh dengan pola komunikasi kasar, sulit membangun hubungan sehat, dan bahkan bisa mengalami masalah psikologis seperti kecemasan sosial atau kesulitan beradaptasi di dunia nyata,” ujarnya.

Dari sisi korban, kata dia, serangan verbal digital di luar ekspektasi ini berisiko memicu guncangan emosional, stres, rasa cemas, dan menurunkan kepercayaan diri. Korban bisa merasa terisolasi, takut tampil kembali, atau ragu melanjutkan aktivitas yang sebelumnya ia lakukan dengan penuh harapan.

Menurut dia, pada lansia, dampaknya bisa lebih berat karena mereka lebih rentan secara emosional dan tidak terbiasa menghadapi tekanan sosial di ruang digital. “Dalam jangka panjang, pengalaman negatif yang terjadi terus-menerus ini dapat meninggalkan luka psikologis berupa trauma, rasa malu, atau menarik diri dari lingkungan sosial,” kata Yusuf.

Sebagai solusi, Yusuf menegaskan strategi penanggulangan harus difokuskan pada aspek psikologis dan sosial secara kolektif. “Remaja perlu dibekali literasi digital yang menekankan etika berkomunikasi di ruang publik,” ungkapnya.

Edukasi, lanjutnya, harus menekankan pentingnya empati dan penghargaan terhadap orang lain. Melalui pembelajaran di sekolah, keluarga, maupun komunitas, remaja dapat dilatih untuk melihat media sosial sebagai sarana membangun interaksi positif, bukan tempat melampiaskan emosi atau mencari perhatian dengan cara merendahkan orang lain.

Dari sisi komunitas, ia menyatakan masyarakat harus bergerak membangun norma sosial baru yang menghapus budaya perundungan dan diskriminasi. “Dukungan kolektif berupa limpahan komentar positif, pembelaan terhadap korban, serta pelaporan konten perundungan secara massal sangat dibutuhkan untuk menciptakan tekanan sosial, sehingga tindakan menghujat tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar,” katanya.

Secara kelembagaan, kata Yusuf, platform digital, media sosial, dan institusi pendidikan memiliki peran besar dalam membentuk ekosistem yang sehat. Moderasi konten, kampanye literasi digital, serta pendidikan etika komunikasi harus berjalan beriringan.

“Dengan pendekatan kolektif ini, fenomena hujatan di media sosial akan dianggap sebagai isu bersama yang menuntut solidaritas sosial dan regulasi yang tegas,” katanya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.