
1. Mengalami Syukur
Kebanyakan kita memahami syukur sebatas reaksi. Ada nikmat, muncul syukur. Tidak ada nikmat, syukur pun menghilang.
Syukur yang sebenarnya bukan reaksi terhadap peristiwa, tapi cara berada di dalam realitas. Seperti mata yang melihat cahaya, karena mata dan cahaya sudah menyatu dalam satu fungsi eksistensial. Dawamusy Syukri adalah ketika syukur tidak lagi berupa tindakan yang kita lakukan, melainkan kondisi yang kita alami—semacam format dasar jiwa dalam membaca anugerah-Nya.
Syukur naik dari hal (keadaan sementara) menjadi maqam (kedudukan permanen). Dari musafir yang singgah menjadi penduduk tetap.
2. Syukur di Tengah Kesulitan
Syukur itu mudah saat senang, sulit saat ada musibah.
Tapi justru di situ jebakannya. Kalau syukur kita hanya hidup saat nikmat datang, maka sesungguhnya yang kita syukuri adalah nikmatnya, bukan Allah yang Memberi. Kita sedang mencintai hadiah, bukan Sang Pemberi hadiah.
Dawamusy Syukri membimbing kesadaran jauh lebih dalam. Kemampuan membaca nikmat tersembunyi di balik kesulitan yang nyata. Bukan dengan cara menafikan rasa sakit—itu bukan syukur tapi menipu diri—melainkan dengan kesadaran bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita sendirian.
Nabi Ayyub tidak bersyukur karena sakitnya menyenangkan. Beliau dawam dalam syukur karena mengenal Siapa yang mengizinkan sakitnya.
3. Lebih Berat dari Syukur Itu Sendiri
Dawam berasal dari akar daama—yadūmu: berlangsung terus, tidak putus, mengalir tanpa jeda. Ia satu rumpun makna dengan air yang mengalir (mā’un dā’im). Air yang tidak menggenang, tidak kering, tapi terus bergerak dalam arah yang sama.
Ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan pada kualitas syukur pada satu momen, tapi pada konsistensi frekuensinya yang menembus semua momen. Banyak orang bisa bersyukur dengan sangat dalam pada satu titik waktu, pada momen kelahiran anak, puncak haji, atau saat lolos dari bahaya. Tapi Dawamusy Syukri menuntut syukur yang konsisten pada pagi hari yang terasa biasa saja, di tengah kemacetan yang menjengkelkan, tagihan yang menumpuk, atau bahkan saat tidak ada peristiwa yang istimewa.
Justru saat keadaan terasa biasa-biasa saja Dawamusy Syukri kita diuji.
4. Ketika Kita Gagal Membaca
Satu penyakit jiwa jadi akar masalah. Mata batin kita terlalu tumpul untuk membaca nikmat yang tidak berbentuk uang atau kesenangan.
Kita terlatih bersyukur atas hal-hal yang terukur dan tampak: gaji naik, sembuh dari sakit, anak lulus ujian. Tapi kita buta terhadap nikmat yang esensial dan tak terasa justru karena nikmat itu terlalu besar.
Nikmat gravitasi yang menahan kita agar tidak melayang ke kehampaan angkasa. Nikmat nafas yang menemani kita sepanjang usia. Nikmat jantung yang berdenyut tanpa kita perintahkan sejak kita lahir. Nikmat tidak tahu karena kalau kita tahu semua yang akan terjadi, kita akan hancur sebelum menjalaninya. Nikmat lupa karena kalau semua luka tersimpan sempurna, jiwa manusia tidak akan tahan menanggungnya.
Dawamusy Syukri dimulai dari melatih kepekaan membaca nikmat tersembunyi agar semakin banyak dimensi realitas yang kita sadari sebagai anugerah, bukan sebagai hak atau kebetulan.
5. Manunggal dalam Syukur
Dalam horizon Jawa, manusia yang tentrem adalah manusia yang sudah selesai dengan pertanyaan “apa yang aku dapat?” dan masuk ke dalam kesadaran “aku berada di dalam aliran kehendak-Nya.” Di sana tidak ada jeda antara menerima dan bersyukur. Keduanya menjadi satu gerakan jiwa. Manunggal.
Dawamusy Syukri dalam bahasa rohani Jawa bisa dibaca sebagai kondisi manunggal dalam syukur—bukan kita yang bersyukur kepada Allah dari jarak tertentu, tapi syukur sudah menjadi nafas yang tidak terpisahkan dari keberadaan kita sebagai hamba-Nya.
Nabi Ibrahim as disebut syakiran li an’umihi, (Ibrahim adalah manusia) yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya—bukan syakara, tapi syakiran: identitasnya adalah syukur itu sendiri (Q.S. An-Nahl: 121)
6. Dawamu Syukri sebagai Sikap Politik dan Sosial
Orang yang menempuh cakrawala Dawamusy Syukri hidupnya tidak mudah dimanipulasi oleh politik intimidasi. Tidak dimobilisasi oleh ekonomi kecemasan. Tidak dibelah oleh dikotomi pro dan kontra. Tidak terjebak dalam relasi kuasa aku alim, engkau awam.
Dawamusy Syukri adalah resistensi spiritual di tengah sistem kekuasaan yang membutuhkan kebodohan manusia agar bisa menguasai.
Manusia yang bersyukur secara dawam adalah manusia yang merdeka, karena ia tidak bisa diperas melalui rasa kekurangan, dimobilisasi melalui kebodohan, ditindas melalui kesempitan berpikir. Dan manusia yang merdeka adalah ancaman bagi kekuasaan yang tidak adil.
Dawamusy Syukri bukan puncak gunung yang perlu didaki dengan susah payah. Ia ibarat sungai yang sudah mengalir dalam darah jiwa kita. Tugas kita adalah mencabut sumbatannya: kebutaan, keluhan, dan keserakahan.
Maturnuwun, Mbah Nun.
Atas setiap cinta yang menenangkan kegelisahan batin kami, dan setiap kebijaksanaan yang perlahan menyalakan kesadaran jiwa kami sebagai manusia, hamba, dan khalifatullah. Sugeng Milad ke-73 tahun. Semoga Allah selalu melimpahkan sehat, panjang keberkahan usia, dan cahaya untuk terus menerangi hati anak cucu semua.[]
Jombang, 27 Mei 2026





Comments are closed.