Genap enam bulan bencana Aceh berlalu. Pemberitaan di media pun sudah jarang muncul. Sebagian orang mungkin beranggapan kondisi Aceh sudah baik-baik saja, seperti semula. Namun, di Aceh Tamiang, enam bulan setelah banjir bandang menerjang, jejak kehancuran masih terlihat nyata. Tenda pengungsian masih berdiri, rumah-rumah belum sepenuhnya diperbaiki, dan para penyintas terus menjalani hidup di tengah keterbatasan. Simak perjalanan jurnalis Bincang Perempuan, Mutiara Ananda, yang mengunjungi Desa Lubuk Sidup dan Pesantren Tahfiz Alqisra, memperlihatkan bagaimana masyarakat, terutama anak-anak, berusaha bertahan sambil memikul luka dan trauma yang belum benar-benar pulih.
Bincangperempuan.com- Mobil van berkapasitas 14 orang yang saya tumpangi melaju perlahan menuju Kabupaten Aceh Tamiang, wilayah yang luluh lantak diterjang banjir bandang pada November tahun lalu. Di sepanjang perjalanan menuju Kecamatan Sekrak, Desa Lubuk Sidup, saya terus membayangkan bagaimana keadaan masyarakat di sana setelah berbulan-bulan berlalu.
Dalam bayangan saya, keadaan mungkin sudah mulai pulih. Media tak lagi banyak memberitakan Aceh Tamiang. Bencana itu seperti telah lewat begitu saja dari perhatian publik. Namun, kenyataan yang saya lihat pada 11 Mei 2026 bersama tim dari Earth Journalism Network (EJN) justru jauh berbeda.
Baca juga: Ketika Laut Diberi Jeda: Cara Nelayan Bengkulu Memulihkan Gurita dan Menghemat Energi Melaut
Memasuki Desa Lubuk Sidup, hati saya tercekat. Tenda-tenda biru dan oranye khas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih berdiri di sisi jalan. Beberapa tampak lusuh dan mulai rusak dimakan cuaca. Di sekelilingnya, rumah-rumah hanya tinggal rangka. Kayu-kayu patah berserakan. Ada bangunan yang nyaris rata dengan tanah; ada pula yang bertahan seadanya seperti menunggu roboh.
Enam bulan setelah banjir bandang menerjang, luka itu ternyata masih tinggal di sana.
Beberapa warga terlihat beraktivitas seperti biasa. Anak-anak bermain di sekitar rumah yang diperbaiki seadanya menggunakan triplek dan kayu bekas. Kehidupan terus berjalan, meski dalam sisa-sisa kehilangan.

Perjalanan kami berlanjut menuju Pesantren Tahfiz Alqisra, tujuan utama kunjungan hari itu.
Tepat saat saya turun dari mobil van, perhatian saya tertuju pada sebuah tenda oranye di sudut depan halaman pesantren. Warnanya mulai kusam diterpa panas dan hujan.
Ketika bagian depannya terbuka, terlihat tumpukan pakaian dan buku-buku di dalamnya.
Sebagian tampak lusuh dan lembap.
Saya tidak tahu pasti apakah barang-barang itu milik para santri yang tersisa setelah banjir atau donasi dari berbagai pihak yang datang membantu pascabencana. Namun, melihatnya membuat saya kembali sadar bahwa di tempat ini banyak kehidupan yang masih tersimpan dalam keadaan seadanya.
Buku-buku yang menumpuk di dalam tenda itu terasa seperti simbol kecil dari sesuatu yang belum benar-benar selesai, tentang anak-anak yang masih mencoba belajar di tengah sisa-sisa bencana yang mengerikan.

Kemudian, pimpinan pondok pesantren menyambut kami dengan ramah dan mengarahkan kami menuju sebuah aula kecil berbahan kayu. Tangga menuju bangunan itu tampak tidak permanen, hanya papan kayu yang bisa digeser.
“Seadanya aja tangganya juga,” ucapnya sambil membetulkan posisi tangga agar kami bisa naik dengan aman.
Bangunan itu tampak rapuh, tapi tetap berdiri di tengah kondisi yang serba terbatas.
Sesaat setelah naik ke aula, saya turun kembali untuk mencari toilet. Saya diarahkan menuju dua bilik toilet yang tampak baru dibangun. Namun di belakang bangunan kecil itu, saya mendapati pemandangan yang lebih menyayat hati.
Tumpukan kayu gelondongan masih tersusun rapi di sana.
Kayu-kayu itu terasa tidak asing. Saya pernah melihatnya berseliweran di media sosial saat banjir bandang di Aceh Tamiang ramai diberitakan tahun lalu. Kini, kayu-kayu itu benar-benar ada di depan mata saya—diam, kering, dan masih menjadi saksi bisu bencana yang belum selesai.
Saya masuk ke toilet dan sedikit terkejut melihat air berwarna cokelat kemerahan mengalir dari keran. Seketika berbagai pertanyaan muncul di kepala saya. Apakah air ini juga digunakan untuk minum? Mencuci pakaian? Memasak?
Saya berasal dari salah satu daerah di Jawa Barat yang airnya masih relatif jernih. Karena itu, melihat air dengan warna cokelat kemerahan terasa begitu asing. Saya sempat bertanya-tanya apakah warna itu berasal dari tanah gambut atau endapan material lain yang terbawa banjir.
Sore itu saya juga sempat mengambil air wudu dan menumpang salat asar di salah satu bangunan sisa pesantren yang masih bisa digunakan. Bangunannya kecil dan memanjang, dengan beberapa sekat sederhana yang difungsikan sebagai kamar, dapur, dan kamar mandi.

Di sana, saya bertemu lima santriwati (santri perempuan).
Mereka menyambut saya dengan ramah dan penuh rasa ingin tahu. Salah satu santriwati yang tampak berusia sekitar 16 atau 17 tahun bercerita pelan kepada saya.
“Dulu pesantren kami luas dan besar, sekarang cuma sisa segini,” katanya.
Saya tidak sempat menanyakan namanya. Namun, kalimat itu terus teringat di kepala saya.
Di tengah keterbatasan dan bangunan yang nyaris habis diterjang banjir, anak-anak itu tetap mencoba menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Santriwati paling kecil, yang mungkin baru berusia sekitar 8–10 tahun, justru paling banyak bertanya kepada saya. Mulai dari saya berasal dari mana, berapa lama perjalanan menuju Aceh Tamiang, ukuran sepatu saya, hingga skincare dan makeup yang saya gunakan.
Obrolan kecil itu terdengar ringan dan polos. Mereka tertawa, bercanda, dan terlihat ceria seperti anak-anak pada umumnya.
Akan tetapi, entah mengapa, melihat senyum mereka justru membuat hati saya semakin sesak.
Di tengah sisa-sisa bangunan dan kehidupan yang belum benar-benar pulih, anak-anak itu tetap tumbuh dengan cara mereka sendiri. Mereka belajar menerima kehilangan, sambil tetap mencari alasan untuk tertawa.
Ketika saya bertanya apakah mereka berada di pesantren saat banjir bandang terjadi, beberapa dari mereka mengangguk pelan.
“Iya, kami ada di sini,” jawab salah seorang santriwati.
Mereka selamat.
Namun, yang terus membuat saya berpikir sepanjang perjalanan pulang adalah fakta bahwa setelah semua yang terjadi, anak-anak itu tetap kembali ke pesantren. Mereka kembali belajar, tidur, bercanda, dan menjalani hari-hari di tempat yang pernah dihantam bencana besar.
Seolah luka dan trauma harus dipaksa berjalan berdampingan dengan kehidupan.
“Saya bukan orang sini, bukan orang Lubuk Sidup,” ujar salah satu santriwati ketika saya bertanya apakah mereka semua berasal dari desa tersebut. “Saya mondok di sini. Orang tua saya masih ada.”
Saya terdiam sesaat mendengarnya. Anak-anak itu datang dari berbagai tempat untuk belajar agama di pesantren tersebut, lalu tanpa pernah benar-benar siap, harus menghadapi bencana ekologis yang memporak-porandakan tempat tinggal mereka.
Jumlah mereka tidak banyak. Hanya 5 santriwati yang tinggal di bangunan sederhana itu. Sementara santri laki-laki sekitar 18 hingga 20 orang menempati bangunan terpisah di depan aula, yaitu sebuah bangunan kecil berbentuk persegi panjang dari kayu yang tampak rapuh diterpa cuaca.
Saya kembali menanyakan soal tumpukan kayu gelondongan di belakang toilet tadi. Mereka bercerita bahwa kayu-kayu itu terbawa arus banjir bandang, bukan memang sudah berada di sana sebelumnya.
“Iya, itu bekas banjir kemarin,” terang salah satu dari mereka.
Kayu-kayu itu terseret derasnya air dari hulu, datang bersama lumpur, batu, dan kehancuran yang menghantam desa mereka waktu itu.
Tak jauh dari bangunan pesantren, berdiri sebuah masjid kecil. Catnya mulai pudar; beberapa bagian tampak kotor dan kusam oleh sisa-sisa banjir. Bangunannya masih berdiri, tetapi terlihat ringkih, seperti sedang berusaha bertahan bersama warga yang belum sepenuhnya pulih.

Di sela percakapan, saya sempat bertanya apakah ada pedagang jajanan di sekitar pesantren. Anak-anak itu menjawab ada, penjual jajanan kecil biasanya lewat di depan pesantren. Namun, hari itu saya tidak melihat siapa pun karena kami datang terlalu sore.
Entah mengapa, jawaban sederhana itu justru membuat imajinasi saya berjalan lebih jauh.
Saya membayangkan bagaimana para penyintas di desa ini perlahan mencoba melanjutkan hidup. Anak-anak kembali membeli jajanan, warga kembali bekerja atau berdagang, dan suara percakapan mulai terdengar lagi sepanjang hari. Kehidupan berjalan seperti biasa, meski di sekeliling mereka masih berdiri rumah-rumah rusak dan sisa-sisa bencana.
Setelah cukup lama mengobrol dengan para santriwati, saya kembali berjalan mengamati sekitar. Tenda-tenda pengungsian masih ada. Rumah-rumah rusak masih berdiri setengah roboh. Kayu-kayu berserakan. Pepohonan di beberapa titik tampak seperti baru saja diterjang sesuatu yang besar.
Suasananya masih menyisakan rasa mencekam.
Enam bulan telah berlalu, tetapi Aceh Tamiang belum benar-benar pulih. Luka akibat banjir bandang itu masih tampak jelas di depan mata, bukan hanya pada bangunan yang rusak, tetapi juga pada cara masyarakat bertahan di tengah kehilangan.
Sore itu, di tengah pesantren kecil yang dibangun kembali dengan segala keterbatasan, saya belajar satu hal: manusia bisa kehilangan banyak hal karena bencana, tetapi harapan sering kali tetap tumbuh, bahkan di tempat yang nyaris hancur sekalipun.





Comments are closed.