Wed,22 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Depo Sidotopo, Bengkel Kereta Api Terbesar di Asia Era Hindia Belanda

Depo Sidotopo, Bengkel Kereta Api Terbesar di Asia Era Hindia Belanda

depo-sidotopo,-bengkel-kereta-api-terbesar-di-asia-era-hindia-belanda
Depo Sidotopo, Bengkel Kereta Api Terbesar di Asia Era Hindia Belanda
service

20 Juli 2026 23.03 WIB • 2 menit

KA Commuter yang sedang diperbaiki di Depo Sidotopo | PT KAI (Persero)


Depo lokomotif Sidotopo adalah salah satu fasilitas perawatan kereta api terbesar dan tertua di Asia. Depo lokomotif ini sudah ada sejak tahun 1923.

Terletak di Jalan Sidotopo Lor No. 2, Surabaya, tempat ini merupakan bengkel kereta api. Di sini, kereta akan menjalani perawatan rutin, pengecekan sebelum beroperasi, dan pembersihan.

Sebagai informasi, depo lokomotif berbeda dengan balai yasa. Depo memiliki skala yang lebih kecil karena merupakan bengkel harian. Sementara itu, balai yasa adalah bengkel utama yang menyediakan perawatan menyeluruh untuk kereta api.

Bangunan legendaris ini dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda oleh Staatsspoorwegen (SS). Pembangunannya didasari oleh kebutuhan fasilitas perawatan yang lebih luas karena depo lama di Stasiun Surabaya Kota sudah tidak mampu menampung lokomotif yang makin besar.

Dari Rawa Menjadi Pusat Perkeretaapian Terbesar

Tahukah Kawan GNFI jika dulunya wilayah Sidotopo dulunya merupakan kawasan yang terdiri dari hamparan sawah dan rawa-rawa? Namun, dalam kurun waktu hanya tiga tahun, SS berhasil menyulap lahan tersebut menjadi kompleks depo raksasa seluas lebih dari 80 hektar.

Kawasan ini diklaim sebagai depo terluas yang pernah dimiliki Hindia Belanda, bahkan menjadi yang terbesar di Asia pada masanya. Bahkan, disadur dari PT Kereta Api Indonesia (Persero), klaim depo terbesar di Asia ini diperkuat oleh artikel di koran Deli Courant yang terbit pada 9 Mei 1921.

Dalam koran itu, disebutkan jika depo ini mulai dipakai sejak 30 April dengan panjang 3 km dan lebar 300 m. Saat itu, dituliskan jika pembangunan depo masih berlangsung.

Tak hanya dalam kora, J.J.G Oegema dalam bukunya yang bertajuk Stoomtractie op Java en Sumatra, menjelaskan jika Depo Sidotopo adalah depo induk paling modern di zamannya. SS membangun kompleks lokomotif beserta remise untuk perawatan dan perbaikan lokomotif, termasuk kereta dan gerbong.

Selain sebagai tempat perawatan, Sidotopo juga berfungsi sebagai emplasemen besar untuk mengatur lalu lintas kereta pengangkut gula yang menjadi komoditas primadona saat itu.

Saksi Bisu Perjuangan Arek-Arek Suroboyo

Bukan hanya terbesar di Asia, Depo Sidotopo juga menjadi saksi bisu perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama pertempuran besar di Surabaya antara Agustus hingga November 1945, kawasan ini menjadi salah satu basis pertahanan pejuang melawan tentara Sekutu.

Pejuang yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI) menjadikan depo ini sebagai markas logistik. Lokomotif-lokomotif di sana digunakan untuk mengangkut pasukan dan bantuan peralatan tempur menuju garis depan.

Tercatat sebanyak 20 pejuang gugur dalam pertempuran di area ini. Mereka dimakamkan di sekitar Jalan Sidotopo Wetan.

Saat ini, Depo Sidotopo dioperasikan di bawah wilayah Daerah Operasional (Daop) 8 Surabaya. Sampai detik ini, bengkel ini masih digunakan sebagai tempat perawatan dan perbaikan lokomotif, kereta, dan gerbong.

Di depo ini, rangkaian KA Commuter Line di sekitar Jawa Timur, sepert Tumapel, Line Jenggala, Line Supas, serta Line Dhoho dan Penataran dirawat. Tak ketinggalan, Depo Sidotopo juga memiliki fasilitas penunjang lain, seperti klinik kesehatan dan Griya Karya Bima yang dipakai masinis untuk beristirahat.

Bentuk bangunan di kawasan Sidotopo, termasuk stasiunnya, masih sangat otentik. KAI pernah melakukan renovasi pada bangunannya, tapi bentuk bangunan aslinya tidak diubah sejak tahun 1923.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.