Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Di Balik Tren Croissant Pattaya Viral di Media Sosial, Ada Komodifikasi Tubuh Perempuan

Di Balik Tren Croissant Pattaya Viral di Media Sosial, Ada Komodifikasi Tubuh Perempuan

di-balik-tren-croissant-pattaya-viral-di-media-sosial,-ada-komodifikasi-tubuh-perempuan
Di Balik Tren Croissant Pattaya Viral di Media Sosial, Ada Komodifikasi Tubuh Perempuan
service

Apa yang terlintas di benakmu ketika membayangkan croissant?

Bagi sebagian orang, croissant identik dengan aroma mentega yang baru keluar dari oven, lapisan pastry yang renyah di luar, tetapi lembut di dalam. 

Roti berbentuk bulan sabit ini beberapa bulan terakhir kini menjadi tren kuliner. Beragam inovasi rasa dan bentuk bermunculan di berbagai toko roti dan kafe.

Namun belakangan ini media sosial tengah diramaikan oleh kemunculan Mor Oi Croissant (Hairy Croissant) atau Croissant Pattaya, pastry asal Thailand yang tampil jauh dari citra croissant pada umumnya. Permukaannya diselimuti serat berwarna hitam yang menyerupai rambut (Fat Choy), sementara namanya–Mor Oi–kerap disebut sebagai istilah yang merujuk pada rambut vagina dalam bahasa Thailand.

Tak butuh waktu lama hingga croissant bulu rambut vagina ini menjadi konten yang bertebaran di berbagai platform media sosial. 

Influencer kuliner, food vlogger, hingga kreator konten lalu berbondong-bondong mengulasnya. 

Ada yang penasaran dengan cita rasanya, ada yang sekadar ingin membuktikan apakah tampilannya benar-benar mirip dengan yang beredar di internet–bahkan ada pula yang me-recreate makanan ini karena sedang viral. 

Potongan video yang memperlihatkan tekstur serat hitamnya pun dengan mudah menarik penonton dan menuai ribuan komentar.

Sumber: @cccookie_cia dan @ezalubis.official
Sumber: @fatwell.id

Keberadaan croissant ini kemudian membuka komentar, ada yang mengatakan tak etis membandingkannya dengan rambut vagina perempuan, namun ada juga food vlogger yang penasaran.

Baca juga: Kesan Saya Menonton Film ‘Obsession’: Ketika Fantasi atas Tubuh Perempuan Menghapus Consent

Jika dicermati lebih jauh, fenomena hairy croissant ini bukan sekadar tren makanan yang viral, melainkan memperlihatkan bagaimana ruang digital menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan humor. Berbagai komentar tidak lagi membahas mengenai rasa, melainkan candaan seksis mengarah pada tubuh perempuan. Misalnya banyak yang menyebut croissant ini mirip dengan rambut vagina perempuan. 

Mengkonotasikan makanan sebagai tubuh perempuan umumnya merupakan bentuk metafora erotis, objek komodifikasi di media, atau stereotip budaya. Dalam wacana sosiologi dan budaya populer, konotasi ini mereduksi perempuan menjadi sekadar objek yang bisa dinikmati atau dikonsumsi. 

Makanan lain pernah punya nasib yang sama buruknya dengan tubuh perempuan, seperti kue tart yang diidentifikasi dengan makanan manis dan semua orang mengatakan aku suka yang manis seperti wajah perempuan yang manis. Atau buah semangka atau pepaya dimetaforakan sebagai lekuk tubuh perempuan. Jadi tidak hanya sekali saja tubuh perempuan dimetaforakan dan kemudian dikomodifikasi dalam berbagai bentuk makanan.

Humor semacam ini sering kali dianggap sebagai hal ringan dengan dalih “sekadar bercanda”, padahal di baliknya tersimpan cara pandang yang menempatkan perempuan sebagai objek guyonan.

Seksisme yang dalam humor bukanlah sebuah fenomena baru. Candaan yang menyasar pada tubuh perempuan kerap kali dinormalisasi dalam ruang digital. Ketika sebuah objek menyerupai bagian tubuh tertentu, maka seringkali imej tentang tubuh perempuan yang pertama kali muncul. Akibatnya, tubuh perempuan tidak lagi dilihat sebagai bagian dari identitas, melainkan sebuah simbol yang bebas digunakan untuk memancing gelak tawa dan memicu viralitas.

Sensualitas yang ditampilkan lewat makanan ini, bukan sekadar ekspresi, melainkan bagian dari mekanisme kapitalisme yang mengubah tubuh menjadi komoditas dan perhatian yang berubah menjadi keuntungan. Seperti hal lain yaitu adegan perempuan memakan produk secara sensual, cairan makanan yang tumpah ke area dada, atau sudut kamera yang sengaja menyorot bagian tubuh tertentu.  

Baca juga: Kamus Feminis: Ada Komodifikasi Tubuh Perempuan di Balik Iklan Media Sosial Hari ini

Komodifikasi tubuh perempuan merujuk pada proses di mana tubuh atau bagian tubuh perempuan diperlakukan sebagai komoditas yang memiliki nilai tukar dalam pasar. 

Pada iklan di media sosial, tubuh perempuan tidak lagi sekadar direpresentasikan. Tetapi diproduksi, dikemas, dan diedarkan sebagai sesuatu yang dapat menarik perhatian, meningkatkan engagement, dan pada akhirnya menghasilkan keuntungan ekonomi. 

Di sini, tubuh tidak hanya menjadi alat untuk menjual produk, tetapi juga menjadi produk itu sendiri. Sensualitas yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang netral, melainkan dirancang untuk memicu respons tertentu—hasrat, ketertarikan, bahkan fantasi—yang kemudian dikaitkan dengan produk yang diiklankan, meskipun tidak ada hubungan logis antara keduanya.

Perspektif feminisme memberikan kerangka penting untuk memahami fenomena ini. Dalam pemikiran Martha Nussbaum, objektifikasi terjadi ketika seseorang diperlakukan sebagai alat untuk tujuan orang lain, kehilangan otonomi, dan direduksi menjadi tubuh semata.  

Tren ini juga menunjukkan bagaimana seksualisasi bekerja melalui sesuatu yang tidak berhubungan dengan ranah seksual seperti: makanan. Nama produk, visual produk, hingga bagaimana cara konten produk dikemas membuat makanan ini tidak lagi dipahami sebagai kuliner, melainkan sebagai medium yang berasosiasi seksual. 

Strategi semacam ini memang mudah menarik perhatian pengguna media sosial, ditambah lagi sistem algoritma yang kerap menampilkan hal-hal yang berpotensi membawa viralitas yang tinggi. 

Namun, di sisi lain, hal ini justru malah melanggengkan seksisme, menormalisasi sensasionalisme, pelecehan seksual dan objektifikasi tubuh perempuan.

Ketika ribuan komentar menghubungkan sebuah makanan dengan alat vital, tubuh perempuan kembali menjadi rujukan untuk membangun sensasi. Perempuan tidak lagi hadir sebagai subjek yang utuh, melainkan dipandang sebagai objek yang dapat dipakai untuk menghasilkan tawa, klik, dan interaksi dalam dunia maya.

Baca juga: Di Balik Drama Buah-Buahan AI di TikTok: Hiburannya Absurd dan Misoginis

Viralitas tren hairy croissant ini juga menunjukkan bagaimana budaya digital bekerja melalui mekanisme imitasi. Di media sosial, sebuah tren tidak berhenti hanya pada satu unggahan saja. Konten yang dianggap menarik akan segera ditiru, dimodifikasi, dan dipublikasi kembali oleh pengguna lain. Semakin banyak orang yang mengikuti format konten yang sama, maka semakin besar pula peluang tren tersebut untuk tersebar secara luas dan menjangkau audiens yang lebih masif.

Setelah video ulasan makanan ini bermunculan, sejumlah kreator mulai membuat ulang konten tersebut dengan menggunakan makanan lain yang memiliki bentuk atau tampilan serupa. Fokusnya sudah tidak lagi terletak pada inovasi cita rasanya, melainkan pada kemampuan makanan itu untuk menghasilkan respons yang dianggap lucu. Semakin banyak format serupa bermunculan, semakin besar pula peluang pola humor tersebut diterima sebagai sesuatu hal yang biasa. Pengulangan inilah yang membuat praktik serupa terus muncul dalam bentuk konten baru.

Sumber: TikTok @mr.inspektur dan @sinacake.official

Fenomena ini kemudian menjadi perpanjang tanganan tindakan objektifikasi terhadap perempuan. Disini, objektifikasi tidak hanya hadir dalam bentuk verbal, tetapi juga melalui penggunaan tubuh perempuan sebagai simbol yang digunakan untuk menciptakan humor, membangun viralitas dan berujung pada tindak komodifikasi. Semakin sering hal ini diulangi dalam ruang digital, semakin besar pula kemungkinan masyarakat melihatnya sebagai hal yang ‘lumrah’.

Viralitas memang selalu menjanjikan perhatian. Namun, ketika perhatian dibangun dengan cara mengorbankan tubuh perempuan sebagai bahan humor, kita perlu bertanya siapa yang sebenarnya diuntungkan dari mekanisme itu. Algoritma memperoleh interaksi, kreator memperoleh followers, tetapi tubuh perempuan kembali dilihat sebagai alat penghasil uang dan tawa.

Baca juga: Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” Tidak Lucu, Stop Humor Seksis!

Di titik ini, persoalan tidak lagi sekadar soal pilihan individu dalam mengemas konten, melainkan praktik komodifikasi tubuh perempuan melalui taktik pemasaran yang didukung oleh ekosistem digital yang kerap menawarkan konten-konten yang mengeksploitasi stereotip gender. 

Selama pola itu terus mendatangkan engagement, objektifikasi akan terus bertransformasi menjadi bentuk-bentuk baru yang tampak kreatif, padahal sesungguhnya hanya mengulangi logika lama dengan kemasan yang berbeda.

Apa yang terjadi dalam banyak iklan media sosial hari ini mencerminkan hampir seluruh dimensi tersebut. Tubuh perempuan digunakan sebagai instrumen untuk meningkatkan daya tarik produk, otonomi perempuan sering kali tersamarkan di balik tuntutan pasar dan algoritma, dan identitas perempuan direduksi menjadi fragmen tubuh yang dapat dikonsumsi secara visual. 

Ketika kamera hanya menyorot roti yang mirip vagina perempuan, atau menyorot bibir yang menggigit makanan secara perlahan atau dada yang terkena tumpahan saus– kita bisa melihat bahwa yang sedang ditampilkan ini bukanlah seorang individu, melainkan potongan tubuh yang telah dipisahkan dari konteks kemanusiaannya.

Sumber foto cover: @nanakoot_ @sibungbung @bankii_v2

(Editor: Luviana Ariyanti) 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.