Dua judul buku yang menceritakan kehidupan KH. M. Imam Aziz atau yang akrab disapa Mas Imam diluncurkan dalam peringatan satu tahun wafatnya Mas Imam. Acara peluncuran buku dan diskusi diadakan pada Minggu, 19 Juli 2026 di pusara Mas Imam di Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta.
Bergantung Pada Ranting karya Hairus Salim HS dan bunga rampai Kiai Pejuang Sunyi menceritakan banyak sisi kehidupan Mas Imam. Melalui buku ini, kiprah gagasan dan gerakan Mas Imam dalam pendampingan masyarakat mustad’afin semakin terlihat.
Hairus Salim HS menjelaskan bagaimana proses penulisan buku tersebut. Awalnya, Hairus hanya mencatat ingatan-ingatan terkait persinggungan dirinya dengan Mas Imam di ponselnya.
“Lama-lama kok ternyata banyak. Ya sudah, dibuat buku sekalian,” kisahnya. Dalam buku tersebut, Hairus menuliskan pengalamannya sejak mengenal Mas Imam di kampus IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) hingga wafatnya. Ia merefleksikan sepanjang hidup banyak aspek dirinya yang mengikuti Mas Imam, mulai mendirikan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) hingga Pondok Pesantren Bumi Cendekia.
Heru Prasetia sebagai salah satu tim editor Sang Pejuang Sunyi menjelaskan bagaimana buku tersebut diterbitkan. Buku ini merupakan komitmen para sahabat dan santri Mas Imam untuk terus menerbitkan buku pada momen-momen peringatan wafatnya Mas Imam. Sebelumnya, buku pertama diterbitkan di acara 100 hari wafatnya Mas Imam.
“Dalam buku edisi haul ini kami memuat tulisan-tulisan yang belum sempat dimuat pada edisi pertama. Kami juga menghubungi para sahabat dan tokoh yang pernah bersinggungan dengan Mas Imam untuk menulis. Ada 35 tulisan yang menceritakan Mas Imam dari sisi personal hingga bagaimana Mas Imam melakukan advokasi di berbagai isu,” ujarnya.
Di dalam buku ini, aktivis difabel Bahrul Fuad, promotor musik Anas Syahrul Alimi, aktivis perempuan Masruchah, Menteri Agama RI 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin, sedulur Kendeng Gunretno, hingga antrolopog Martin van Bruinessen memberikan kesaksian sosok Mas Imam yang bergerak untuk mendampingi kelompok yang lemah dan dilemahkan. Keberagaman penulis menunjukkan pergaulan dan spektrum perjuangan Mas Imam yang begitu luas.
“Kiai rakyat memang gelar yang tepat untuk Imam Aziz,” tulis Martin van Bruinessen.
Selama hidup, Mas Imam memiliki sejumlah kiprah pendampingan masyarakat, mulai Kedung Ombo, Kendeng, Kulon Progo, hingga Wadas. Hal ini dilakukannya saat Mas Imam berkiprah sebagai jurnalis, penggerak NU kultural, hingga ketika Mas Imam menjadi Ketua PBNU.
Setelah meluncurkan buku, para sahabat dan santri Mas Imam kemudian mengadakan diskusi dengan tema Imam Aziz: Advokasi, Rekonsiliasi, dan Kemandirian NU. Diskusi ini dipantik oleh sejarawan Budiawan, akademisi Sri Wiyanti Eddyono, budayawan NU Achmad Munjid, dan perwakilan keluarga Fina Itriyati yang sekaligus wakil dekan di FISIPOL UGM. Acara dihadiri oleh sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan.
Selain meluncurkan buku, agenda haul juga dimeriahkan oleh penampilan grup musik Ki Ageng Ganjur di agenda Tadarus Budaya. Malam Tadarus Budaya dimeriahkan pula oleh Budi Cilok, Alissa Wahid, Inaya Wahid, dan Cak Coy.
Ngatawi Al-Zastrouw sebagai sahabat Mas Imam sekaligus budayawan menyebut bahwa Ki Ageng Ganjur merupakan salah satu peninggalan penting Imam Aziz.
“Kami hadir di sini untuk menunjukkan bagaimana santri juga bisa berdakwah melalui musik,” ucap Ngatawi. Melalui musik, kumpulan santri yang tergabung di Ki Ageng Ganjur bisa mensyiarkan Islam yang ramah di berbagai, seperti Jepang, Cina, Prancis, Belanda, Belgia, Aljazair, dan lain sebagainya.





Comments are closed.