
Dalam dunia modern, manusia sering merasa bahwa dirinya memahami peristiwa melalui fakta. Kita membaca berita, menonton televisi, membuka portal informasi, lalu merasa telah mengetahui apa yang terjadi di dunia. Padahal sering kali yang kita pahami bukanlah fakta itu sendiri, melainkan cara fakta itu disampaikan.
Di situlah media bekerja. Bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi juga sebagai pembentuk persepsi.
Suatu hari kita membaca sebuah kalimat berita: “Ayatullah Ali Khamenei tewas dalam serangan yang dilancarkan Amerika dan Israel terhadap Iran.”
Kalimat itu tampak sederhana. Seolah hanya menyampaikan peristiwa. Tetapi jika kita berhenti sejenak dan memperhatikan satu kata saja, kita akan menemukan sesuatu yang menarik.
Kata itu adalah tewas.
Dalam bahasa Indonesia sebenarnya ada banyak pilihan kata lain: meninggal, wafat, gugur, bahkan syahid. Semua menunjuk pada peristiwa yang sama: kematian. Tetapi masing-masing membawa rasa makna yang berbeda. “Wafat” mengandung penghormatan. “Gugur” mengandung pengorbanan. “Syahid” mengandung kemuliaan spiritual. Sedangkan “tewas” sering dipakai untuk korban kecelakaan, perkelahian, atau kriminalitas.
Artinya, melalui satu kata saja, cara pembaca memandang seseorang sudah diarahkan. Di sinilah kita mulai memahami bahwa bahasa dalam media tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu membawa sudut pandang.
Media dan Kekuasaan Makna
Dalam peradaban modern, senjata tidak hanya berupa rudal dan tank. Ada senjata yang jauh lebih halus: bahasa.
Siapa yang menguasai bahasa, ia menguasai cara manusia memahami dunia. Peristiwa yang sama bisa tampak berbeda hanya karena perubahan istilah.
Seorang pejuang bisa disebut pahlawan. Tetapi oleh pihak lain ia disebut teroris. Kelompok perlawanan bisa disebut mujahid. Tetapi oleh media global bisa disebut pengacau bersenjata.
Perubahan kata ini bukan sekadar masalah linguistik. Ia adalah pertarungan makna. Dan dalam pertarungan itu, media sering menjadi medan yang sangat menentukan.
Framing Peradaban
Dalam dunia komunikasi ada istilah framing. Artinya, media tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga membingkai cara kita memandang peristiwa tersebut. Misalnya: penggusuran disebut penertiban. Kenaikan harga disebut penyesuaian tarif. Korban sipil disebut kerusakan kolateral. Realitas yang keras dilunakkan oleh bahasa. Sebaliknya, tokoh atau kelompok yang tidak disukai oleh kekuatan global sering digambarkan dengan diksi yang lebih kasar atau merendahkan.
Lama-kelamaan publik menerima itu sebagai sesuatu yang wajar. Padahal tanpa disadari, cara berpikir kita sedang dibentuk. Masalahnya menjadi lebih serius ketika umat Islam sendiri tidak lagi peka terhadap permainan bahasa ini.
Kita membaca berita yang ditulis oleh media global. Kita menyerap istilah-istilahnya. Kita mengulanginya tanpa sadar. Akhirnya kita ikut memakai diksi yang sama ketika berbicara tentang tokoh-tokoh umat sendiri. Tanpa sadar, kita meminjam cara pandang orang lain terhadap diri kita.
Padahal dalam tradisi Islam, bahasa memiliki dimensi adab. Para ulama sangat berhati-hati memilih kata. Karena kata bukan sekadar bunyi. Ia adalah kesaksian batin.
Bahasa Sebagai Cermin Peradaban
Peradaban yang sehat memiliki kepekaan terhadap bahasa. Ia tahu bahwa kata-kata dapat memuliakan manusia atau merendahkannya, menjelaskan realitas
atau menyamarkannya. Karena itu bahasa tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai alat teknis komunikasi. Ia harus dijaga dengan hikmah.
Sebab ketika bahasa kehilangan kebijaksanaan, yang hilang bukan hanya keindahan kata-kata. Yang hilang adalah kepekaan moral manusia. Maka persoalan diksi dalam jurnalisme sebenarnya bukan soal tata bahasa. Ia adalah soal kesadaran peradaban.
Apakah kita sekadar mengulang kata-kata yang dibentuk oleh kekuasaan global? Ataukah kita memiliki keberanian untuk memulihkan bahasa kita sendiri—bahasa yang lebih jujur, lebih adil, dan lebih beradab?
Karena dalam dunia modern, pertempuran tidak hanya terjadi di medan perang. Ia juga terjadi di halaman berita. Dan sering kali, kemenangan atau kekalahan sebuah peradaban dimulai dari sesuatu yang tampak sangat kecil—sebuah kata.





Comments are closed.