Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Duel Hidup Mati ChatGPT dan Claude Berebut Pasar AI Dunia

Duel Hidup Mati ChatGPT dan Claude Berebut Pasar AI Dunia

duel-hidup-mati-chatgpt-dan-claude-berebut-pasar-ai-dunia
Duel Hidup Mati ChatGPT dan Claude Berebut Pasar AI Dunia
service

KABARBURSA.COM — Dua perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) yang melahirkan chatbot terkenal ChatGPT dan Claude kini bersiap menghadapi pertarungan besar pada tahun ini. Keduanya dituntut membuktikan satu hal penting, apakah bisnis mereka bisa tumbuh dan menghasilkan uang lebih banyak dibanding kerugian yang terus menumpuk.

Persaingan paling sengit di antara pengembang AI ini, termasuk dengan raksasa teknologi seperti Google, terjadi dalam perebutan hati para pemimpin perusahaan. Mereka berlomba meyakinkan kalangan korporasi untuk memakai alat AI guna mendongkrak produktivitas kerja. Rivalitas itu bahkan merembet ke ranah lain, termasuk ke ajang Super Bowl.

Anthropic, perusahaan di balik chatbot Claude, menayangkan dua iklan televisi pada pertandingan final sepak bola Amerika yang digelar Minggu ini. Iklan itu secara terbuka menyindir langkah OpenAI yang mulai memasang iklan digital pada versi gratis dan berbayar murah dari ChatGPT.

Selama ini Anthropic memang memusatkan model pendapatannya dari penjualan layanan Claude kepada kalangan bisnis. Sementara OpenAI membuka pintu iklan sebagai cara mengeruk keuntungan dari ratusan juta pengguna yang mengakses ChatGPT secara gratis.

Dalam iklan tersebut, Anthropic dengan gaya jenaka menggambarkan bahaya chatbot manipulatif. Sosok chatbot digambarkan sebagai manusia sungguhan yang berbicara kaku dan terlalu memuji, seolah menjalin hubungan akrab dengan pengguna sebelum akhirnya mencoba menjual produk.

Iklan itu ditutup dengan pesan tertulis yang tegas. “Iklan akan hadir di AI. Tapi tidak di Claude.” Setelah itu terdengar irama pembuka lagu Dr. Dre berjudul “What’s the Difference.”

Ternyata sindiran itu cukup mengena. CEO OpenAI Sam Altman langsung bereaksi melalui media sosial. Ia mengaku tertawa melihat iklan tersebut, namun menilainya tidak jujur dan menyindir balik basis pengguna pesaingnya yang lebih kecil.

“Anthropic menjual produk mahal untuk orang-orang kaya,” tulis Altman di platform X, seperti dikutip AP, Jumat, 6 Februari 2026.

Ia juga sesumbar jumlah warga Texas yang menggunakan ChatGPT secara gratis jauh lebih banyak dibanding seluruh pengguna Claude di Amerika Serikat.

Presiden sekaligus salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, ikut menimpali. Ia secara terbuka menantang CEO Anthropic, Dario Amodei, dengan mempertanyakan apakah perusahaan itu benar-benar berkomitmen untuk tidak pernah menjual perhatian atau data pengguna Claude kepada pengiklan. Amodei yang jarang aktif di X tidak memberikan tanggapan.

Rivalitas ini sebenarnya sudah muncul sejak 2021. Saat itu Amodei bersama sejumlah pimpinan OpenAI memutuskan keluar dan mendirikan Anthropic. Mereka berjanji akan lebih fokus pada aspek keamanan teknologi kecerdasan buatan tingkat tinggi yang disebut kecerdasan buatan umum.

Langkah itu terjadi sebelum OpenAI meluncurkan ChatGPT pada akhir 2022, sebuah produk yang kemudian membuka mata dunia terhadap potensi komersial besar dari model bahasa raksasa. Teknologi ini bisa membantu menulis email, mengerjakan tugas, hingga membuat kode komputer.

Persaingan makin memanas pekan ini ketika kedua perusahaan meluncurkan pembaruan produk. OpenAI memperkenalkan platform baru bernama Frontier, yang dirancang menjadi pusat terpadu bagi perusahaan untuk mengadopsi berbagai alat AI, termasuk produk yang bukan buatan OpenAI, agar bisa bekerja secara terpadu.

Langkah itu menjadi bagian dari dorongan menuju penggunaan agen AI yang dapat bekerja mandiri layaknya rekan kerja digital. “Kami bisa menjadi mitra pilihan utama untuk transformasi AI di dunia korporasi. Potensi pendapatan dari platform seperti itu nyaris tanpa batas,” kata CEO aplikasi OpenAI, Fidji Simo.

Tak mau kalah, Anthropic juga mengumumkan peningkatan pada model paling cerdasnya. Perusahaan itu mengklaim versi terbaru Claude Opus 4.6 mampu merencanakan tugas dengan lebih matang, bekerja lebih lama secara mandiri, beroperasi lebih andal di basis kode besar, serta dapat menemukan kesalahannya sendiri.

OpenAI segera merespons dengan meluncurkan pembaruan lain pada alat pemrograman Codex, yang disebut mampu melakukan hampir semua pekerjaan profesional di komputer. “Kedua perusahaan ini benar-benar berusaha memposisikan diri sebagai perusahaan platform,” kata analis Gartner, Arun Chandrasekaran. Menurutnya, model AI memang penting, tetapi model itu bukan tujuan akhir.

Selain saling bersaing, OpenAI dan Anthropic juga harus berhadapan dengan pemain lain seperti Google. Raksasa teknologi itu memiliki model AI kuat bernama Gemini, ditopang infrastruktur komputasi awan dan pendapatan besar dari bisnis iklan digitalnya.

Hubungan keduanya dengan raksasa teknologi lain juga cukup rumit. Anthropic menjadikan Amazon sebagai penyedia utama layanan awannya. Sementara OpenAI mendapat dukungan besar dari Microsoft yang memegang sekitar 27 persen saham perusahaan.

Bagi perusahaan yang ingin mengadopsi agen AI, pilihan pertama biasanya jatuh pada penyedia komputasi awan besar seperti Microsoft, Google, atau Amazon yang menawarkan paket layanan lengkap. Sedangkan penyedia model AI seperti Anthropic dan OpenAI kerap menjadi pilihan kedua, kata Nancy Gohring, direktur riset senior di IDC.

Namun peluang tetap terbuka. Hingga kini belum ada pemain yang benar-benar mampu memberi jaminan keamanan dan kepatuhan kuat, dua hal yang sangat dibutuhkan agar agen AI bisa dipakai lebih luas untuk mengakses sistem dan data perusahaan. “Mengadopsi AI dan agen digital memang secara inheren agak berisiko,” ujar Gohring.

Di sisi lain, ada pula divisi AI milik Elon Musk yang tergabung dengan SpaceX melalui chatbot bernama Grok. Namun produk ini dinilai belum siap menjadi pesaing serius di segmen bisnis. Musk sendiri sudah lama berambisi menantang dominasi OpenAI, perusahaan yang dulu ikut ia dirikan dan kini sedang ia gugat di pengadilan.

SpaceX, OpenAI, dan Anthropic termasuk perusahaan swasta paling bernilai di dunia. Investor Wall Street memperkirakan salah satu atau bahkan ketiganya bisa melantai di bursa dalam satu atau dua tahun ke depan.

Tetapi berbeda dengan SpaceX yang punya bisnis roket sebagai penopang, atau perusahaan mapan seperti Amazon, Google, dan Microsoft, OpenAI serta Anthropic harus menemukan cara menghasilkan cukup uang dari produk AI untuk menutup biaya raksasa di sektor chip dan pusat data.

Bukan berarti keduanya tidak punya pemasukan. Meski tak pernah membuka laporan keuangan, kedua perusahaan mengisyaratkan sudah meraih pendapatan miliaran dolar dari produk yang ada, termasuk langganan chatbot berbayar untuk pengguna individu.

Masalahnya, biaya membangun dan menjalankan model AI yang sangat kuat jauh lebih besar. OpenAI bahkan mengungkapkan memiliki kewajiban finansial lebih dari USD 1 triliun atau sekitar Rp16.850 triliun kepada para pendukung seperti Oracle, Microsoft, dan Nvidia yang pada dasarnya menalangi biaya komputasi dengan harapan keuntungan di masa depan. Bagi sebagian investor, penantian panjang itu diyakini tetap sepadan.

“Profitabilitas memang penting, tapi bukan faktor keputusan jangka pendek bagi investor yang masih fokus pada skala, diferensiasi, dan pemanfaatan infrastruktur,” kata analis Forrester Charlie Dai.

Menurutnya, kedua perusahaan masih mencatat kerugian besar, tetapi tetap mendapat dukungan karena perlombaan membangun model AI terdepan membutuhkan modal luar biasa besar. 

Kepala pendapatan OpenAI yang baru direkrut, Denise Dresser, menegaskan prioritas perusahaannya bukan semata mengejar uang. “Fokus kami adalah membangun platform perusahaan terbaik untuk semua industri dan semua segmen,” katanya kepada wartawan. Ia mengaku lebih memikirkan hasil yang dirasakan pelanggan dibanding sekadar angka pendapatan.

Dresser menyebut ada rasa mendesak yang kuat dari para CEO perusahaan yang ingin cara lebih mudah menerapkan AI di bisnis mereka. “Ada kesadaran bahwa AI sedang menjadi keunggulan operasional utama. Mereka tidak ingin berada di sisi yang salah dari perubahan besar ini,” kata Dresser.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.