KABARBURSA.COM – PT Ciputra Development Tbk (CTRA) membukukan laba bersih Rp549,3 miliar pada kuartal I 2026, turun dibandingkan periode serupa tahun lalu yang sebanyak Rp668,6 miliar. Penyusutan ini bersamaan dengan melemahnya penjualan dan pendapatan usaha.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah dipublikasikan, penjualan dan pendapatan CTRA pada tiga bulan pertama 2026 sebesar Rp2,56 triliun, menurun dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak Rp2,73 triliun. Penurunan ini membuat tekanan terhadap laba kotor menjadi Rp1,19 triliun dari sebelumnya Rp1,40 triliun.
Laba usaha CTRA pada kuartal I 2026 tercatat Rp727,7 miliar, turun dari Rp935,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp405,5 miliar, sedangkan beban penjualan sebesar Rp113,4 miliar.
Kinerja juga dipengaruhi oleh penyusutan penghasilan keuangan yang menjadi Rp84,8 miliar dari Rp121,6 miliar. Sementara, beban keuangan masih cukup masih cukup besar meski menurun menjadi Rp201,7 miliar dari Rp326,8 miliar pada periode sebelumnya.
Dari neraca, CTRA total aset CTRA sebesar Rp45,80 triliun per 31 Maret 2026. Angka ini menurun dibanding posisi akhir 2025 yang sebesar Rp47,98 triliun. Catatan ini disebabkan karena berkuangnya kas dan setara kas menjadi Rp8,25 triliun dari sebelumnya Rp10,36 triliun.
Adapun total liabilitas CTRA nenyusut menjadi Rp18,34 triliun dari Rp21,06 triliun pada akhir 2025. Sedangkan, ekuitas emiten properti ini meningkat menjadi Rp27,46 triliun dari Rp26,91 triliun.
Saham CTRA Tertekan
Pergerakan saham CTRA menunjukkan tekanan yang masih berlanjut di berbagai rentang waktu perdagangan. Mengutip data Stockbit, Kamis, 30 April 2026, dalam periode sepekan, saham CTRA terkoreksi sebesar 3,45 persen.
Meski demikian, dalam rentang satu bulan, saham CTRA sempat mencatatkan penguatan tipis sebesar 2,19 persen.
Namun tekanan lebih dalam terlihat pada periode yang lebih panjang.
Dalam tiga bulan terakhir, saham CTRA turun 15,66 persen, sementara dalam enam bulan terkoreksi lebih dalam hingga 20,90 persen.
Secara year to date (YTD), saham ini juga mencatatkan penurunan sebesar 15,66 persen. Tren pelemahan semakin terlihat dalam rentang tahunan, dalam satu tahun terakhir harga saham ini telah turun 22,65 persen.
Dalam jangka panjang, tekanan harga semakin signifikan. Selama tiga tahun terakhir, saham ini terkoreksi 29,65 persen, sementara dalam lima tahun melemah 38,86 persen. (*)





Comments are closed.