KABARBURSA.COM – Perputaran dana jumbo terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Menariknya, aliran transaksi terbesar justru terkonsentrasi pada segelintir saham dengan nilai transaksi tertinggi atau top value.
Data yang dihimpun Kabarbursa.com menunjukkan 10 saham dengan nilai transaksi terbesar menghasilkan total perputaran dana mencapai sekitar Rp30,13 triliun. Nilai tersebut setara lebih dari separuh total transaksi pasar reguler yang mencapai Rp46,48 triliun pada perdagangan hari itu.
Namun di balik derasnya transaksi tersebut, investor asing justru tercatat melakukan aksi jual bersih besar-besaran. Dari 10 saham top value itu saja, total net foreign sell mencapai sekitar Rp7,69 triliun.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar di pasar. BBCA mencatat transaksi mencapai Rp5,82 triliun dengan volume 10,15 juta lot dan frekuensi 111,21 ribu kali transaksi.
Meski menjadi saham paling ramai diperdagangkan berdasarkan nilai transaksi, BBCA justru mengalami tekanan jual asing sekitar Rp1,96 triliun. Harga sahamnya juga turun 4,60 persen ke level Rp5.700.
Posisi kedua ditempati PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai transaksi Rp4,29 triliun. Saham grup Barito milik Prajogo Pangestu itu juga dibayangi net foreign sell sekitar Rp1,94 triliun dan turun 6,05 persen ke level Rp1.785.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada di posisi ketiga dengan nilai transaksi Rp3,98 triliun. Saham tambang tersebut justru menjadi salah satu saham dengan tekanan asing terbesar setelah mencatat net foreign sell sekitar Rp1,61 triliun.
Selanjutnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan transaksi Rp3,19 triliun dengan net foreign sell sekitar Rp738 miliar. Harga saham BBRI turun 3,91 persen ke level Rp2.950.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga masuk daftar top value dengan transaksi Rp2,54 triliun. Saham telkomunikasi BUMN itu turun 1,94 persen di tengah net foreign sell sekitar Rp104 miliar.
Di tengah dominasi tekanan jual, PT Astra International Tbk (ASII) justru menjadi salah satu pengecualian. ASII mencatat net foreign buy sekitar Rp136,83 miliar meski harga sahamnya tetap turun 2,44 persen ke level Rp5.000.
Sementara itu, saham-saham grup Prajogo Pangestu kembali mendominasi daftar top value. Selain TPIA, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatat transaksi Rp2,25 triliun dan melonjak 25 persen ke level Rp3.300.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga masuk jajaran saham paling aktif dengan transaksi Rp2,06 triliun. Saham ini naik 24,76 persen ke level Rp1.940 meski asing masih melakukan net sell sekitar Rp201 miliar.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat transaksi Rp1,82 triliun dengan tekanan asing sekitar Rp389,8 miliar. Harga sahamnya turun 1,21 persen ke level Rp4.080.
Sementara PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menutup daftar 10 saham top value dengan transaksi Rp1,75 triliun. Saham ritel tersebut turun 3,36 persen ke level Rp1.150 dan dibayangi net foreign sell sekitar Rp364,68 miliar.
Mayoritas Saham Top Value Berakhir di Zona Merah
Jika dihitung dari pergerakan harga, mayoritas saham top value justru berakhir di zona merah.
Dari 10 saham dengan transaksi terbesar itu, tujuh saham mengalami penurunan harga dan hanya tiga saham yang berhasil menguat.
Tiga saham yang naik hanya BREN, BRPT, dan AMMN. Selebihnya, saham-saham dengan transaksi terbesar justru melemah meski dihujani aktivitas perdagangan bernilai triliunan rupiah.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa tingginya nilai transaksi tidak otomatis membuat harga saham ikut menguat.
Pada perdagangan akhir Mei tersebut, derasnya perputaran dana justru dibarengi distribusi asing yang cukup agresif pada sejumlah saham kapitalisasi besar.
Secara keseluruhan, IHSG sendiri ditutup melemah tipis 0,05 persen ke level 6.127,38. Total nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp50,15 triliun dengan frekuensi transaksi sekitar 2,38 juta kali.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.