Ibuku juga dulunya muda. Ia pernah memiliki kaki yang kuat untuk berjalan jauh, stamina yang prima untuk menempa hari, dan kepala yang penuh dengan impian.
Namun, sebagai anak perempuan tertua yang harus memikul beban menghidupi adik-adiknya yang banyak, ia memilih mengubur semua mimpi itu dalam-dalam. Ia merelakan masa mudanya habis untuk bekerja keras, memastikan keluarganya bisa bertahan hidup.
“Ibumu itu sudah lelah sejak muda,” kalimat dari Bapak itu selalu terngiang di telingaku.
Kini, di tanah suci Makkah, aku akhirnya mengerti mimpi apa yang selama ini diam-diam selalu menyala di pelupuk mata Ibu. Mimpi yang membuatnya bertahan melewati belasan tahun menunggu dengan kesabaran penuh; berhaji ke Baitullah.
Sayangnya, fisik Ibu tak lagi sekuat dulu. Kedua kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya dengan baik hingga ia harus bertumpu pada tongkat untuk berjalan. Bahkan, sepanjang perjalanan haji ini, Ibu kerap bergantung pada kursi roda demi kelancaran mobilitasnya selama beribadah.
Kecemasan Menjelang Armuzna
Malam-malam menjelang puncak ibadah haji menjadi waktu yang panjang bagi Ibu. Di sebuah kamar pemondokan di wilayah Sisyah, Makkah, Ibu seringkali terjaga. Tatapannya lurus menatap langit-langit kamar. Hari yang ia tunggu seumur hidupnya tinggal hitungan jam. Ada binar tidak sabar, namun berkelindan dengan rasa khawatir yang hebat atas kondisi fisiknya yang tak lagi muda.
“Nanti di Armuzna kita bagaimana? Setelah dari sini, kita ke mana lagi?”
Pertanyaan itu diulangnya berkali-kali setiap hari. Ibu meminta penjelasan mendetail tentang alur pergerakan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Padahal, ini juga merupakan pengalaman pertamaku.
Aku sebisa mungkin menjelaskan pada Ibu, agar keresahan di dalam dirinya mereda. Kugenggam jemarinya yang mulai keriput dan berbisik, “Doa terus ya, Mak. Insya Allah semua dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah.”
Ketika hari yang dinanti tiba, bus yang membawa kami mulai membelah jalanan Makkah menuju Arafah. Di dalam bus, Ibu duduk dengan tubuh tegang. Pandangannya lurus ke luar jendela, menembus riuh kota suci, membawa seluruh harapan yang telah ia pupuk sejak puluhan tahun lalu.
Bus yang kami tumpangi sempat mogok dan stuck beberapa jam di tempat pemberhentian (rest area), bilah mata Ibu pun kian gusar. Namun aku meyakinkannya bahwa Arafah sudah di depan mata, sebentar lagi kita akan sampai.
Air Mata di Tenda Arafah
Puncak emosi itu tumpah saat kami berada di dalam tenda Arafah. Di tengah jutaan manusia yang bersimpuh memohon ampunan, Ibu tiba-tiba menangis. Bukan karena Ibu tidak berbahagia, melainkan karena rasa tak berdaya yang menyelimutinya.
“Ibu sedih karena jalan Ibu sudah susah. Ibu takut merepotkan banyak orang. Mau berdiri atau duduk lama saja sudah tidak kuat. Ibu juga malu kalau harus permisi berulang kali melewati orang-orang hanya untuk ke kamar mandi…” ucapnya lirih, terbata-bata.
Mendengar itu, dadaku bergemuruh. Aku mengelus punggungnya yang kini sudah membungkuk, mencoba menyalurkan seluruh kekuatan yang kupunya. Mataku sendiri ikut basah.
Di tengah hamparan padang Arafah, aku melangitkan doa terbaikku, “Ya Allah, biarkan ibuku menuai hasil dari usahanya sepanjang usia. Biarkan Ibu membayar tuntas seluruh lelahnya di sini, meski ia kini berada dalam keadaan tidak muda lagi.”
Mimpi Ibu yang Menjadi Nyata
Perjuangan fisik yang berat itu akhirnya berhasil dilewati babak demi babak. Kami bergerak ke Muzdalifah dengan skema murur. Bus yang kami tumpangi hanya berhenti sesaat di Musdalifah lalu melanjutkan perjalanan ke Mina.
Sesampainya di Mina, kami masih harus berebut tempat tidur di tenda. Bersyukurnya, Ibu bisa istirahat dan bermalam dengan tenang. Selama di Mina, Ibu selalu diberi kemudahan dalam melewati tantangan terbesarnya—antri kamar mandi. Kata Ibu, entah mengapa selalu lengang. Mungkin bentuk jawaban dari doa Ibu di Arafah, benakku.
Selanjutnya, aku beranjak ke Jamarat. Ibu tetap berada di tenda Mina. Mengingat kondisi fisik Ibu, aku memutuskan untuk membadalkan (menggantikan) ibadah melontar jumrah Ibu pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijjah di Jamarat—kami mengambil nafar awal.
Rangkaian ibadah itu akhirnya ditutup dengan indah melalui Tawaf Ifadah di Masjidil Haram.
Ketika melihat Ibu memandang Ka’bah, aku tahu mimpi yang menyala di matanya kini telah genap menjadi nyata.
Namun, perjalanan menjemput mimpi ini tidaklah gratis. Ada harga mahal yang harus dibayar oleh waktu. Dalam penantian panjangnya untuk bisa berangkat ke tanah suci, Ibu harus kehilangan separuh jiwanya—Bapak wafat sebelum sempat mendampingi Ibu ke baitullah.
Kini, rangkaian haji telah usai. Sebagai anak yang mendampingi Ibu dan menggantikan porsi Bapak, tiada harapan yang lebih besar selain berharap agar perjalanan spiritual ini menjadi memori terindah yang akan terus menghangatkan sisa usia Ibu.
Dan di atas segalanya, aku berharap, tugasku dalam mendampingi langkah kaki tuanya di sepanjang perjalanan panjang ini tidak menggores kekecewaan sedikit pun di hatinya
Makkah Al – Mukarramah , 13 Dzulhijjah 1447 H/30 Mei 2026.
Penulis: Annisa Moezha





Comments are closed.