Jakarta, Arina.id – Di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki dan kurang menjanjikan secara ekonomi, Mila Arlinda justru memilih jalan yang berbeda. Perempuan asal Tuban, Jawa Timur, ini membuktikan bahwa usaha peternakan dapat berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan jika dikelola dengan ilmu, ketekunan, dan kemauan belajar yang kuat.
Pemilik Kerabat Ternak itu kini mengelola tiga kandang peternakan yang berlokasi di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Namun, pencapaian tersebut tidak diraih secara instan. Semua berawal dari kecintaannya terhadap kambing dan domba sejak usia muda.
“Saya memang dari dulu suka hewan, terutama kambing dan domba. Selain karena lucu, saya juga melihat bahwa kambing dan domba memiliki peluang bisnis yang besar karena kebutuhan konsumsi masyarakat terus meningkat,” ujar Mila dalam tayangan Susun Strategi diakses Minggu (31/5/2026)..
Pilih Fakultas Peternakan UGM
Ketertarikan itu kemudian membawanya memilih Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Pilihan tersebut sempat menimbulkan pertanyaan dari banyak orang karena peternakan masih dianggap sebagai bidang yang lebih cocok ditekuni laki-laki.
Mila mengaku alasan memilih jurusan peternakan sebenarnya cukup sederhana. Ia ingin memiliki keahlian yang dapat dijalankan dari rumah ketika kelak berkeluarga.
“Saya berpikir, suatu saat akan menjadi ibu rumah tangga. Saya ingin tetap bisa bekerja dari rumah dan memiliki usaha sendiri. Karena saya suka ternak, akhirnya saya memilih Fakultas Peternakan untuk memperdalam ilmu yang saya sukai,” katanya.
Selain untuk mengembangkan usaha pribadi, Mila berharap ilmu yang diperolehnya juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya para peternak di daerahnya.
Meski demikian, perjalanan yang ditempuh tidak selalu mudah. Menurutnya, tantangan terbesar justru muncul saat ia memutuskan menekuni dunia peternakan.
“Banyak yang memandang sebelah mata peternakan. Bahkan ada anggapan, masa peternak bisa sukses dan kaya. Tidak sedikit yang meremehkan profesi peternak,” ungkapnya.
Keraguan itu bahkan datang dari lingkungan terdekatnya sendiri. Namun, alih-alih menyerah, pandangan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk membuktikan bahwa sektor peternakan memiliki prospek yang besar.
“Dari situlah semangat saya muncul. Saya ingin membuktikan bahwa peternakan tidak seperti yang dibayangkan banyak orang. Potensinya jauh lebih besar,” ujarnya.
Aplikasikan ilmu dari perkuliahan
Keseriusan Mila terlihat sejak masa kuliah. Ia tidak hanya mengandalkan teori yang diperoleh di ruang kelas, tetapi juga langsung mempraktikkan ilmu tersebut pada ternak yang dipeliharanya di rumah.
Setiap kali pulang kuliah, ia menerapkan berbagai pengetahuan yang didapat dari kampus. Ketika menemukan kendala di lapangan, ia kembali berdiskusi dengan para dosen untuk mencari solusi.
“Kalau ada masalah di kandang, saya catat lalu saya tanyakan kepada dosen. Setelah mendapat penjelasan, saya praktikkan lagi di rumah. Begitu terus selama kuliah,” tuturnya.
Tidak hanya belajar dari kampus, Mila juga aktif mengunjungi berbagai peternak dan senior di berbagai daerah untuk memperkaya pengalaman lapangan. Menurutnya, keberhasilan dalam peternakan membutuhkan keseimbangan antara teori dan praktik.
“Ilmu teori saja tidak cukup. Kita harus memahami kondisi lapangan secara langsung. Karena itu saya banyak belajar dari peternak-peternak yang sudah lebih dulu berpengalaman,” katanya.
Dirintis sejak SMA
Usaha Kerabat Ternak sendiri mulai dirintis sejak 2014 saat Mila masih duduk di bangku kelas dua SMA. Saat itu ia hanya memiliki lima ekor domba yang dibeli dari tabungannya dan dirawat bersama keluarga.
Seiring waktu, usaha tersebut terus berkembang. Setelah lulus dari Fakultas Peternakan UGM pada 2020, Mila mulai fokus mengembangkan bisnis peternakannya secara profesional dengan menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah dan pengalaman lapangan yang telah dikumpulkannya.
Kini, Kerabat Ternak telah berkembang menjadi usaha peternakan dengan tiga kandang. Meski demikian, Mila mengaku tidak pernah berhenti belajar. Ia rutin membaca jurnal ilmiah, mengikuti perkembangan penelitian, serta menjalin komunikasi dengan sesama peternak untuk terus meningkatkan kualitas usahanya.
“Sampai sekarang saya masih terus belajar. Saya membaca jurnal, mengikuti penelitian terbaru, dan berdiskusi dengan peternak lain. Karena pengembangan usaha itu tidak pernah berhenti,” pungkasnya.





Comments are closed.