Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Dulu Harmonis, Kini Masyarakat Bangka Belitung Berkonflik dengan Buaya Muara

Dulu Harmonis, Kini Masyarakat Bangka Belitung Berkonflik dengan Buaya Muara

dulu-harmonis,-kini-masyarakat-bangka-belitung-berkonflik-dengan-buaya-muara
Dulu Harmonis, Kini Masyarakat Bangka Belitung Berkonflik dengan Buaya Muara
service

Selama ratusan tahun, masyarakat yang hidup di sekitar lahan basah Sungai Menduk, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, hidup harmonis dengan buaya muara (Crocodylus porosus). Tapi sejak 2022, sering terjadi konflik manusia dengan buaya muara. Mengapa? “Ini terjadi karena banyak rawa dan anak sungai yang merupakan rumah (habitat) buaya muara rusak, akibat penambangan timah liar dan berubah menjadi perkebunan sawit,” kata Suhadi (32), warga Desa Menduk, Kecamatan Menduk Barat, Kabupaten Bangka, Minggu (22/3/2026). Tercatat, lima orang meninggal karena diserang buaya muara dan puluhan lainnya terluka. Mereka yang diserang, umumnya warga yang tengah beraktivitas di sekitar Sungai Menduk. Misalnya, tengah mencari ikan atau mandi. Terakhir Februari 2026, seorang warga  Bernama Jauhari (40) alias Buluk yang tengah mencari ikan di Sungai Menduk, tewas diserang buaya muara. Dijelaskan Suhadi, lahan basah Sungai Menduk yang luasnya mencapai 43.200 hektar, sekitar 1.500-1.600 hektar mengalami kerusakan atau berubah fungsi. “Sekitar 900-1000 hektar menjadi perkebunan sawit. Baik milik perusahaan maupun masyarakat. Sementara penambangan timah liar di lahan basah Menduk mencapai 250 titik,” jelas Suhadi, yang juga Manager WKR (Wilayah Kelola Rakyat) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kepulauan Bangka Belitung., Buaya muara yang berkonflik dengan manusia ini berada di penangkaran PPS Alobi Foundation, Bangka, Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indoinesia Sungai Menduk yang panjangnya 41,9 kilometer, merupakan sungai penting dalam sejarah peradaban masyarakat di Pulau Bangka. Di Desa Kota Kapur yang berada di muara Sungai Menduk atau menghadap Selat Bangka, terdapat situs Kedatuan Sriwijaya. Situs ini berupa benteng, pelabuhan, serta percandian Hindu pada masa abad 6-7 Masehi. Di situs tersebut juga…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.