Thu,23 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Dunia Melalaikan: Saat Agama Hanya Dijadikan Formalitas

Dunia Melalaikan: Saat Agama Hanya Dijadikan Formalitas

dunia-melalaikan:-saat-agama-hanya-dijadikan-formalitas
Dunia Melalaikan: Saat Agama Hanya Dijadikan Formalitas
service

Dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 32 Allah berfirman:

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌۗ وَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ۝٣٢

Artinya: “Kehidupan dunia hanyalah permainan dan kelengahan, sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?”

Ayat ini merupakan jawaban tegas atas cara pandang kaum musyrik yang mengingkari hari kebangkitan dan pertemuan dengan Allah swt. Mereka memandang kehidupan ini sebatas dunia semata, tidak ada kehidupan setelahnya, tidak ada pertanggungjawaban, dan tidak ada makna spiritual yang lebih tinggi. Bagi mereka, hidup hanyalah tentang menikmati waktu, bersenang-senang, dan menghindari kesulitan. 

Dari cara pandang seperti ini, ibadah pun sering dianggap sebagai beban, bangun malam untuk tahajud terasa berat, bangun pagi untuk dhuha dianggap mengganggu istirahat, bahkan di tengah kesibukan kerja, panggilan shalat sering diabaikan. Semua itu lahir dari orientasi duniawiyah, yaitu menjadikan dunia sebagai tujuan utama dan melupakan kehidupan akhirat.

Allah kemudian menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan sekadar sarana. Namun, ketika manusia terjebak pada pandangan materialistik, seluruh hidupnya akan berputar pada kesenangan sesaat, kedudukan, dan kenikmatan lahiriah. 

Dalam kondisi seperti ini, agama pun bisa direduksi menjadi sekadar formalitas, dijalankan hanya untuk “pantas-pantasan”, bukan dengan kesungguhan. Tidak sedikit orang yang mengaku beriman, tetapi praktik keagamaannya sangat minim, bahkan syahadat yang seharusnya menjadi pengakuan iman yang terus hidup, hanya diucapkan sekali seumur hidup, misalnya saat menikah, sementara dalam shalat yang rutin justru ditinggalkan.

Berbeda dengan kehidupan dunia yang melalaikan, ketaatan kepada Allah adalah jalan menuju kehidupan yang sejati. Ketaatan ini mencakup seluruh dimensi manusia, mulai dari hati, pikiran, hingga perbuatan. Amal hati seperti niat dan keikhlasan menjadi fondasi utama, kemudian melahirkan cara berpikir yang benar, dan akhirnya terwujud dalam tindakan nyata melalui anggota badan. 

Karena itu, kualitas amal sangat ditentukan oleh niat. Sebagaimana sabda Nabi:

قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ آمْرِئٍ مَا نَوَي   

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niat. Dan sesungguhnya setiap orang (akan mendapatkan balasan dari) apa yang diniatkannya.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim).

Niat yang kuat akan melahirkan amal yang kuat, sedangkan hati yang lemah akan menghasilkan amal yang lemah pula.

Hal ini dapat kita lihat dalam kehidupan nyata. Ada orang yang secara fisik sudah lemah karena usia, namun tetap kuat dalam beribadah. Mereka mampu menjalankan shalat malam, tarawih panjang, bahkan dalam kondisi keterbatasan fisik. Kekuatan itu bukan berasal dari tubuh, melainkan dari hati yang penuh keyakinan, harapan akan ampunan, dan keinginan meraih rahmat Allah. 

Sebaliknya, ada yang secara fisik kuat dan muda, tetapi lemah dalam ibadah karena hatinya tidak memiliki dorongan yang kuat. Di sinilah pentingnya komitmen dan konsistensi, karena keduanya akan menentukan kualitas dan kuantitas amal seseorang.

Lebih jauh lagi, Allah menyebut kehidupan dunia sebagai “kesenangan yang menipu”. Kenikmatan dunia sering tampak indah di awal, tetapi tidak kekal dan sering kali berujung pada kekecewaan. Tidak ada kenikmatan dunia yang benar-benar abadi. Berbeda dengan kenikmatan ibadah yang menghadirkan ketenangan sejati. 

Rasulullah menyebut shalat sebagai penyejuk mata, karena di dalamnya manusia berhadapan langsung dengan Allah, sumber segala kebahagiaan. Sementara kenikmatan duniawi seperti harta, jabatan, dan keindahan, pada puncaknya justru bisa menimbulkan kejenuhan dan kehampaan.

Meski demikian, dunia pada hakikatnya bersifat netral. Ia bisa menjadi jalan menuju kebaikan atau justru menjauhkan manusia dari Allah. Harta dan fasilitas bisa digunakan untuk beribadah, seperti berhaji, bersedekah, dan membantu sesama. Namun, jika tidak disertai iman, dunia bisa menipu dan bahkan membutakan hati. 

Tidak jarang seseorang kehilangan kepekaan terhadap kebenaran karena sudah terlalu terikat pada kepentingan dunia, hingga tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Karena itu, Islam tidak melarang manusia untuk memiliki dunia, bahkan mendorong untuk mencarinya secara halal. Dengan memiliki harta, seseorang dapat memberi, bukan hanya menerima. Tangan yang memberi lebih mulia daripada tangan yang meminta.

Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan utama, melainkan harus dijadikan sarana untuk meraih kebahagiaan akhirat. Jika orientasi ini terjaga, maka dunia justru akan menjadi ladang amal yang mengantarkan manusia kepada ridha Allah.

Pada akhirnya, kehidupan dunia yang terbatas ini harus dipahami sebagai perjalanan menuju kehidupan akhirat yang kekal. Di akhirat tidak ada batas waktu, tidak ada kerusakan, dan kenikmatannya justru semakin bertambah. Berbeda dengan dunia yang memiliki batas dan masa “kedaluwarsa”, kenikmatan akhirat bersifat abadi dan terus meningkat. Inilah kehidupan yang sesungguhnya, tujuan akhir dari perjalanan manusia.

Oleh karena itu, kita diingatkan agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia. Dunia harus ditempatkan pada posisinya sebagai sarana, bukan tujuan. Agama harus dijalankan dengan kesungguhan, bukan sekadar formalitas. Niat harus terus diperbaiki, karena darinya lahir kualitas amal. Dan yang paling penting, orientasi hidup harus diarahkan pada akhirat sebagai kehidupan yang kekal.

Kesadaran ini kemudian melahirkan doa yang selalu dipanjatkan oleh seorang mukmin: “Ya Allah, selamatkanlah kami dari bahaya dunia dan dari siksa akhirat.” Doa ini bukan sekadar ucapan, tetapi cerminan dari pemahaman bahwa dunia bisa menjadi ujian yang menipu, sementara akhirat adalah tujuan yang harus diperjuangkan.

Dengan keseimbangan inilah, kehidupan dunia dapat dijalani dengan benar, sebagai jalan menuju kebahagiaan abadi di sisi Allah swt.

*Disarikan dari Ngaji Online Tafsir oleh KH Sujadi, Pengasuh Pesantren Nurul Ummah Pringsewu

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.