Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari senantiasa bersyukur dengan memanjatkan puji pada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, serta kesehatan kepada kita semua. Dengan nikmat itu, kita masih diberi kesempatan untuk terus menjalankan tugas utama kita di dunia yakni beribadah dengan menyembah Allah SWT.
Pada kesempatan mulia ini, mari kita juga meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya soal hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga bagaimana kita menjaga amanah yang dititipkan kepada kita, terutama keluarga dan generasi penerus. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan kita agar senantiasa menjaga keluarga. Bukan hanya menjaga soal pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga memastikan mereka tumbuh dengan iman yang kokoh dan akhlak yang mulia. Ini adalah tugas besar yang tidak bisa ditunda, tidak bisa dialihkan, dan tidak bisa dianggap ringan.
Terlebih saat ini, hadirin yang dimuliakan Allah,
Kita sedang hidup di era modern serba digital. Sebuah zaman yang menghadirkan kemudahan luar biasa. Apa yang kita inginkan dan ingin kita jangkau bisa diraih dalam hitungan detik. Bekerja, berkomunikasi, bepergian, dan berbagai aktivitas lainnya bisa dilakukan dengan cepat. Namun di balik itu semua, ada tantangan yang tidak kalah besar. Handphone, internet, dan media sosial, artificial intelligence (AI) telah mengubah cara manusia berpikir, berinteraksi, bahkan memandang kehidupan.
Jika dulu orang mencari ilmu harus datang ke majelis, hari ini ilmu dan pengetahuan bisa didapatkan di manapun dan kapanpun. Seolah dunia sudah ada dalam genggaman kita. Namun ironisnya, di saat akses ilmu begitu mudah, justru krisis akhlak semakin terasa. Mengapa ini bisa terjadi? Semua karena teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kesiapan moral manusia dalam menggunakannya.
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita jujur melihat realitas di sekitar kita. Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia layar. Lebih parah lagi mereka diasuh oleh media sosial. Sejak usia dini, mereka sudah terbiasa dengan smartphone dan sejenisnya. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bermain secara sehat, atau berinteraksi dengan keluarga, justru habis untuk menatap layar.
Remaja hidup dalam tekanan dunia digital. Mereka merasa harus selalu tampil sempurna di media sosial. Mereka mengejar “like”, komentar, dan pengakuan dari orang lain. Dari sinilah muncul budaya riya’ modern, pamer kehidupan, pamer kebahagiaan, bahkan pamer ibadah, padahal hati mereka gersang.
Lebih memprihatinkan lagi, konten negatif begitu mudah diakses. Tanpa filter yang kuat, generasi muda bisa terpapar pornografi, kekerasan, gaya hidup bebas, dan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Semua ini perlahan mengikis rasa malu, melemahkan iman, dan merusak akhlak.
Di sisi lain, adab mulai terkikis. Cara berbicara kepada orang tua tidak lagi santun. Menghormati guru tidak lagi menjadi prioritas. Di media sosial, orang dengan mudah mencela, menghina, dan menyebarkan kebencian tanpa merasa bersalah. Mereka bisa berbicara dan mengungkapkan isi hatinya tanpa etika.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Baihaqi, dan Hakim:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ
Artinya: “Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketika akhlak mulai runtuh, sebenarnya kita sedang kehilangan fondasi utama kehidupan. Ilmu tanpa akhlak bisa menjadi kesombongan. Kekuasaan tanpa akhlak bisa menjadi kezaliman. Teknologi tanpa akhlak bisa menjadi alat kerusakan.
Inilah yang harus kita sadari bersama. Krisis akhlak tidak terjadi secara tiba-tiba. Degradasi moral adalah hasil dari proses panjang, dari kelalaian kecil yang terus dibiarkan. Anak-anak diberi gadget agar tidak rewel, tetapi tanpa pengawasan. Mereka disibukkan dengan prestasi akademik, tetapi minim pembinaan karakter. Mereka mengenal dunia digital lebih cepat daripada mengenal sang pencipta alam raya.
Padahal dalam Islam, pendidikan dimulai dari iman dan akhlak. Rasulullah SAW membangun generasi sahabat bukan dengan teknologi, tetapi dengan nilai, dengan tauhid, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab.
Lalu apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi fenomena ini? Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,
Pertama, mari tanamkan iman sejak dini. Jangan biarkan anak mengenal dunia lebih dulu sebelum mengenal Tuhannya. Ajarkan mereka siapa Allah, mengapa kita sholat, dan untuk apa kita hidup.
Kedua, mari bangun kebiasaan akhlak mulia. Akhlak tidak cukup diajarkan, tetapi harus dibiasakan. Mulai dari hal sederhana seperti berkata jujur, menghormati orang tua, menjaga lisan, dan bertanggung jawab.
Ketiga, kelola teknologi dengan bijak. Teknologi tidak bisa kita tolak, tetapi harus kita arahkan. Buat aturan penggunaan handphone. Dampingi anak saat mengakses internet. Ajarkan mereka mana yang baik dan mana yang berbahaya.
Keempat, jadilah teladan. Ini yang paling penting. Anak tidak belajar dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang kita lakukan. Jika kita ingin anak tidak kecanduan HP, maka orang tua juga harus memberi contoh.
Kelima, bangun lingkungan yang mendukung. Lingkungan adalah “guru diam” yang sangat berpengaruh. Pilih pergaulan yang baik, ciptakan suasana rumah yang religius, dan libatkan anak dalam kegiatan positif.
Oleh karena itu, hadirin yang saya hormati,
Mari kita renungkan bersama. Generasi hari ini adalah pemimpin masa depan. Jika hari ini mereka tumbuh tanpa akhlak, maka esok hari kita akan menghadapi krisis yang lebih besar.
Jangan hanya menyalahkan zaman. Jangan hanya menyalahkan teknologi. Tetapi mari kita bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh mana kita menjaga keluarga kita?
Gunakan teknologi sebagai wasilah atau alat kebaikan, bukan ghayah atau tujuan. Jadikan HP sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan. Jadikan internet sebagai jalan dakwah, bukan pintu maksiat. Jadikan generasi kita pribadi yang bijak dalam menggunakan HP. Kita semua adalah pemimpin. Minimal bagi diri kita sendiri, dan bagi keluarga kita. Jangan sampai amanah ini kita abaikan.
Rasulullah bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mari kita jaga generasi kita dengan sungguh-sungguh. Kita tanamkan iman, kita kuatkan akhlak, dan kita arahkan mereka agar mampu hidup di zaman modern tanpa kehilangan jati diri sebagai seorang Muslim. Semoga Allah SWT membimbing langkah kita, menjaga keluarga kita, dan menjadikan generasi kita sebagai generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung




Comments are closed.