Jakarta, Arina.id — Perjalanan spiritual manusia menuju Allah Swt tidak berhenti pada tawakal semata, melainkan berlanjut menuju mahabbah atau cinta kepada Tuhan.
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrudin Faiz, menjelaskan hal itu sebagaimana ditayangkan akun YouTube Mengaji Hening diakses Selasa (5/5/2026).
Fahrudin Faiz menyebut mahabbah sebagai tahapan lanjutan setelah seseorang mampu menjalani ikhtiar dan tawakal secara benar. Dari mahabbah, kata dia, seseorang kemudian dapat mencapai makrifat, yakni pengenalan yang mendalam kepada Allah.
“Setelah tawakal terus nanti akan muncul mahabbah. Jadi kalau sudah mahabbah nanti buahnya makrifat,” ujar Fahrudin Faiz.
Ia menjelaskan, pada tingkat spiritual tertentu seseorang mungkin dapat mencapai kondisi tajrid, yakni keadaan ketika hidup sepenuhnya diabdikan hanya untuk Allah. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua orang berada pada tingkatan tersebut.
Menurutnya, seseorang perlu menyadari kapasitas spiritual atau “maqam” masing-masing agar tidak keliru memahami jalan cinta kepada Allah.
“Jalan cinta juga harus sadar maqam kita. Kita mencintai Allah sesuai kapasitas kemampuan dan kedudukan kita,” katanya.
Fahrudin Faiz mengkritik sikap sebagian orang yang ingin meninggalkan kehidupan dunia sepenuhnya, padahal belum memiliki kesiapan spiritual yang memadai.
Ia mencontohkan orang yang ingin hidup menyendiri demi beribadah sepenuhnya kepada Allah, tetapi dalam praktik dasar keagamaan sehari-hari masih belum konsisten.
“Jangan tiba-tiba ingin meninggalkan dunia sepenuhnya untuk hidup di hutan demi Allah saja. Salat lima waktu saja masih bolong-bolong, bagaimana mau uzlah,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menerima kenyataan bahwa sebagian besar manusia masih berada pada maqam asbab, yakni kondisi ketika manusia tetap harus menjalani kehidupan dunia dengan bekerja, berusaha, dan berikhtiar.
Menurutnya, kondisi tersebut bukanlah sesuatu yang buruk. Setiap maqam spiritual memiliki jalan kebaikannya masing-masing.
“Yuk disadari saja kita masih di makam asbab. Bukan jelek. Setiap maqam ada rumus kebaikannya sendiri-sendiri,” katanya.
Dalam penjelasannya, Fahrudin Faiz juga mengutip pandangan Syekh Ibnu Athaillah tentang pentingnya menjaga hati dari berbagai distraksi dalam perjalanan menuju Allah.
Ia mengatakan, seorang salik atau penempuh jalan spiritual harus menguatkan hati agar tidak tergoda oleh apa pun selain Allah. Termasuk ketika seseorang mendapatkan pengalaman spiritual, karamah, atau berbagai keistimewaan.
Menurutnya, banyak orang justru terjebak pada rasa kagum terhadap karamah dan pengalaman luar biasa yang mereka peroleh, sehingga lupa pada tujuan utama perjalanan spiritual itu sendiri.
“Kadang-kadang orang ketika diberi Allah keistimewaan-keistimewaan justru lupa bahwa tujuannya bukan itu. Tujuannya ya Allah,” ujarnya.
Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa dalam perspektif tasawuf, berbagai kenikmatan, keistimewaan, maupun keindahan dunia pada hakikatnya hanyalah ujian.
Ia mengutip pesan Syekh Ibnu Athaillah bahwa ketika seseorang menyaksikan berbagai keindahan atau memperoleh nikmat besar, hakikat akan berseru bahwa semua itu hanyalah fitnah atau ujian agar manusia tidak berpaling dari Allah.
“Kalau sedang mendapat nikmat besar, jangan terdistraksi. Ingat, apa yang engkau cari masih di depanmu,” katanya.
Pesan tersebut berlaku untuk seluruh bentuk kenikmatan dunia, baik berupa rezeki, jabatan, popularitas, maupun pengalaman spiritual.
“Ketika mendapat rezeki besar, itu bukan finalnya. Ketika mendapat anugerah tertentu, itu juga bukan tujuan akhirnya. Tujuan akhirnya tetap Allah,” ujarnya.
Ia menambahkan, jalan cinta kepada Allah pada akhirnya merupakan jalan istiqamah, yakni keteguhan hati untuk tetap berjalan menuju Allah dalam segala keadaan.
“Jalan cinta itu jalan istiqamah. Pokoknya menuju Allah, demi Allah, dan untuk Allah saja,” kata Fahrudin Faiz.





Comments are closed.