Sun,3 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Film Kill Bill: Perempuan Merebut Otonomi Tubuh, Tapi Male Gaze Membayangi

Film Kill Bill: Perempuan Merebut Otonomi Tubuh, Tapi Male Gaze Membayangi

film-kill-bill:-perempuan-merebut-otonomi-tubuh,-tapi-male-gaze-membayangi
Film Kill Bill: Perempuan Merebut Otonomi Tubuh, Tapi Male Gaze Membayangi
service

Kill Bill bukan hanya soal “perempuan kuat”, tetapi juga soal perempuan kuat untuk siapa, dan kuat dengan cara siapa.

Dalam teori feminisme, patriarki sering dimengerti tidak hanya sebagai relasi kuasa antara laki‑laki dengan perempuan, tetapi bagaimana sistem yang mengatur tubuh perempuan dipandang, diatur, dan dihukum ketika melanggar norma.

Perempuan tidak hanya ditekan secara politik atau ekonomi, tetapi juga secara simbolik, dengan tubuhnya menjadi ruang tarik-menarik kehormatan, hasrat, dan otoritas.

Dalam Film Kill Bill yang disutradarai Quentin Tarantino, pemeran utama Beatrix The Bride atau Kiddo merupakan korban simbol yang sempurna dari sistem tersebut. Beatrix ditembak, ditinggalkan, dan dihancurkan saat dalam kondisi hamil, dan dirinya dibunuh (femisida) sebelum sempat menyelesaikan perannya sebagai ibu dan perempuan yang memilih.

Adegan saat pembantaian yang berlokasi gereja itu tidak hanya sebagai bentuk kekerasan individu, namun menjadi metafora atas kekerasan kolektif yang menemukan jalan legalnya lewat pistol, darah, dan narasi terkhianati karena perempuan itu tidak bisa dikuasai.

Namun, dalam film ini narasi diputarbalikkan dari korban yang stagnan, Beatrix bangkit sebagai “agen yang marah” atas penindasan yang dialaminya. Dia tidak hanya menuntut keadilan, tetapi juga menuntut otonomi atas fisik dan hak politisnya.

Dalam bacaan feminisme, ini merupakan sebuah bentuk agensi; ketika perempuan tidak lagi hanya menangis, tetapi memilih untuk bertarung, dan mengambil alih kendali tubuh, masa lalu, dan identitasnya kembali. Darah yang dulu hanya menjadi simbol kelemahan, kini menjadi simbol perlawanan yang terorganisasi. 

Baca Juga: Stop Male Gaze, Bagaimana Seharusnya Media Memberitakan Kekerasan Seksual?

Film‑film aksi umumnya cenderung hanya menempatkan laki‑laki sebagai pejuang utama, sementara perempuan hanya hadir sebagai pemicu konflik. Contohnya: korban, istri yang hilang, atau motif  balas dendam.

Kill Bill mendobrak logika itu. Di sini, perempuan tidak ditampilkan sebagai protagonis yang tak berdaya, melainkan tampil dengan penuh karakter. O‑Ren Ishii, Vernita Green, dan Gogo Yubari adalah tokoh yang kompleks, penuh dengan ambisi, dan memiliki dunianya sendiri.

O‑Ren Ishii, misalnya, seorang perempuan yang terlahir dari kekerasan seksual dan kekerasan rasial, lalu membangun imperium kriminal di Jepang. O-Ren merebut ruang yang biasanya hanya ditempati oleh laki‑laki seperti dunia politik kekerasan, organisasi, dan jaringan. O-Ren menunjukkan bahwa kekuasaan bisa direbut melalui strategi, bukan hanya karena ketidaksengajaan. 

Beatrix sendiri menunjukkan perempuan yang bukan hanya berani, tetapi juga sangat terlatih. Beatrix tidak hanya tampil dengan gaya action menendang, menembak, dan menusuk, tetapi melakukan ritual disiplin, seperti belajar bela diri, berlatih sabar, dan menunggu momen yang tepat.

Dalam hal ini, Film Kill Bill memperlihatkan jelas bahwa perempuan juga bisa menjadi subjek kemarahan yang terorganisasi atas kekerasan yang dialaminya. Perempuan juga adalah subjek atas kemarahan terhadap sistem yang menciptakannya sebagai korban.

Belenggu Male Gaze dalam Narasi ‘Perempuan Kuat’ 

Istilah male gaze dikenal dari sosok Laura Mulvey. Ia berargumen tentang film tradisional yang selalu memandang perempuan sebagai objek yang dilihat oleh laki‑laki sebagai subjek yang dominan.

Meskipun dalam Film Kill Bill perempuan merupakan pusat cerita, dalam struktur film ini masih banyak dibentuk oleh mata Tarantino. Itu tampak pada kamera yang menyoroti tubuh Beatrix dalam pose yang provokatif, adegan laga yang dibuat cukup keren dan estetik, serta efek slow motion yang menonjolkan tubuh perempuan dalam posisi pertarungan yang sekaligus atraktif.

Dalam beberapa adegan, Beatrix tidak hanya membunuh, tetapi juga terlihat sedang membunuh. Para penonton laki‑laki tidak hanya menikmati kekerasan, tetapi juga  gerakannya, bahkan caranya memegang pedang.

Dalam konteks feminisme, ini menunjukkan bahwa kekuatan perempuan dalam film ini tidak sepenuhnya terlepas dari fantasi laki‑laki, ia tetap menjadi objek yang menarik, bahkan ketika ia adalah pelaku.

Dalam konteks Indonesia, hal ini cukup  relevan dengan cara pembingkaian media yang sering memakai perempuan kuat hanya sebagai komoditas, seperti contohnya perempuan pekerja, perempuan yang menjadi korban kekerasan, atau perempuan pejabat yang diperlihatkan seperti paras yang cantik dan mentalitas yang berani justru dipasarkan sebagai objek tontonan, bukan sebagai ruang refleksi.

Film Kill Bill mengulang pola yang sama, yakni ketika perempuan kuat muncul, ia sering kali dibingkai menjadi penari di atas panggung laki‑laki yang mengatur narasi.

Apakah perempuan hanya boleh melawan dengan kekerasan?

Teori feminisme tidak hanya menuntut keberadaan perempuan sebagai aktor, tetapi juga menuntut pertanyaan etis tentang cara bagaimana kekuasaan itu direbut. Ketika Bill dan para pembunuhnya membunuh demi mendapatkan kehormatan, uang, atau kekuasaan, itu di framing sebagai praktik patriarki.

Namun ketika Beatrix melakukan hal yang sama, seperti membunuh, menakut‑nakuti, dan menggunakan kekerasan sebagai bahasa utama, apakah hal tersebut justru membongkar sistem, atau hanya menegaskan bahwa, jalan satu‑satunya adalah kekerasan yang sama?

Dalam banyaknya adegan, dalam film ini menunjukkan bahwa kekerasan yang selalu diperankan oleh laki‑laki kini juga dapat dilakukan oleh pemeran perempuan.

Ia tidak hanya menuntut keadilan, tetapi juga menuntut kepuasan simbolik lewat darah.  Dari sudut pandang feminis, cara ini adalah area yang penuh jebakan, seperti halnya ketika perempuan hanya diberi ruang untuk melawan dengan cara yang sama, tetapi  tidak benar‑benar menggantikan bentuk patriarki, namun hanya mengganti peran aktornya.

Dalam konteks film di Indonesia, hal ini membahas langsung terhadap narasi media, yang sering kali memakai perempuan sebagai simbol kekerasan, seperti contohnya korban pemerkosaan, pekerja seksual, atau perempuan yang marah di media sosial.

Namun, media selalu tidak menawarkan bentuk struktur alternatif, yang menegaskan bentuk simbol lembut, solidaritas, dan keadilan sosial. Kill Bill menjadi sosok cermin ketika perempuan hanya diberi ruang untuk balas dendam dengan cara yang sama, film ini tetap terjebak dalam logika yang sama seperti yang menimpa awalnya.

Kill Bill kenyataannya merupakan film yang menarik bagi kritik feminis sebab ia menunjukkan bahwa perempuan bisa menjadi subjek kuat, tetapi juga menunjukkan bahwa kekuatan itu bisa tetap terinjak oleh framing kamera yang menatapnya.

Baca Juga: Kamus Feminis: Apa Itu Male Gaze? Objektifikasi Perempuan di Media untuk Penuhi Hasrat Laki-Laki

Film ini menunjukkan bahwa perempuan bisa merebut kembali tubuh, kekuasaan, dan narasi, tetapi juga menunjukkan bahwa kekerasan yang sama bisa menjadi jebakan seperti ketika satu‑satunya cara yang dihargai adalah melawan dengan cara yang sama seperti ketika mereka menindas.

Dalam konteks Indonesia, Film Kill Bill bisa menjadi ajakan untuk bertanya dengan sudut pandang lebih tajam, seperti apakah kita ingin perempuan hanya kuat hanya dalam skenario balas dendam, atau juga ingin kuat dalam membangun dunia yang tidak lagi mengandalkan kekerasan sebagai bahasa utama?

Feminisme menuntut lebih dari sekadar adegan film perempuan yang membunuh ia menuntut perempuan yang bisa menentukan narasi, ruang, dan bentuk kekuasaan yang mereka pilih.

Dalam bacaan ini, Film Kill Bill bukan hanya menjadi film perempuan bertemakan balas dendam, tetapi juga sebagai cermin tentang betapa kerasnya jalan perempuan sendiri untuk bisa benar‑benar lepas dari kamera yang menatapnya.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

(Sumber Gambar: Popline)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.