Wed,20 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Goresan Cahaya di Tengah Malam dari Tangan Syauqi Aska Fatimatuzzahra

Goresan Cahaya di Tengah Malam dari Tangan Syauqi Aska Fatimatuzzahra

goresan-cahaya-di-tengah-malam-dari-tangan-syauqi-aska-fatimatuzzahra
Goresan Cahaya di Tengah Malam dari Tangan Syauqi Aska Fatimatuzzahra
service

Di sudut ruangan pondok pesantren yang tenang, saat langit mulai gelap dan suara mengaji bergema dari kamar-kamar santri, seorang remaja perempuan duduk di depan kertas putih, menggenggam alat lukis. Goresan tangan mengalir perlahan, membentuk huruf demi huruf arab yang bukan hanya indah, tetapi juga penuh makna. Di balik setiap goresan itu, ada perjuangan, cinta, dan harapan yang tak pernah padam.

Namanya Syauqi Aska Fatimatuzzahra. Usianya baru 16 tahun, siswi kelas XI di SMA PDF Ulya Fadlun Minalloh, Yogyakarta. Tapi semangatnya jauh melampaui angka itu. Ia bukan hanya pelajar, bukan hanya santri, tapi juga seorang seniman muda yang sedang menapaki jalan panjang dalam dunia kaligrafi—seni menulis indah.

Prestasi yang dicapai Syauqi sangat banyak. Dari tingkat kota hingga nasional, semua sudah ia raih. Beberapa di antaranya

  • Juara 3 Kaligrafi SMP FSQ#05 MA Mafaza Bantul (Tingkat Provinsi DIY dan Jawa Tengah)
  • Juara 2 Kaligrafi Mushaf Kantara 2023 SMA MUH 3 Yogyakarta (Tingkat Provinsi DIY)
  • Juara 1 Kaligrafi SMP Haspi PPTQ Harun Asy-Syafi’I Putri (Tingkat Provinsi DIY)
  • Juara 1 Kaligrafi SMP festival kaligrafi LKP Jogja Kaligrafi (Tingkat Provinsi DIY & Jawa Tengah)
  • Juara 3 Kaligrafi IEC 2025 UMY (Tingkat Nasional)
  • Juara 1 Kaligrafi Festival Akholla UAD (Tingkat Nasional).

Syauqi mengenal dunia kaligrafi bukan dari sekolah khusus seni pun buku-buku mahal. Ia mengenalnya di pondok pesantren, tempatnya tinggal dan belajar selama lima tahun.

“Awalnya saya cuma bisa gambar gunung dua dan jalan di tengah,” kenangnya sambil tertawa kecil.

Tapi dari sanggar Al-Kahf, ia mulai mengenal kaligrafi sebagai seni yang bukan hanya indah, tapi juga dalam.

“Ternyata asyik banget dunia kaligrafi,” katanya. Sejak itu, ia jatuh cinta.

Ketika masih anak-anak, Syauqi memang sudah mencintai dunia lukis. Remaja yang menyukai nasi goreng itu menceritakan pengalaman masa kecilnya yang dekat dengan aktivitas menggambar dan mewarnai. Meski pada saat itu ia belum mengetahui memiliki bakat di dunia kaligrafi, ia tetap menikmati aktivitas menggambar sebagai hal yang menyenangkan untuk dirinya. Kini, ketika deretan juara dari tingkat provinsi hingga nasional sudah diraih, ia tetap menjadi pribadi yang rendah hati, “Kadang kalau pas menang juara satu itu, setelahnya saya sering mikir kok bisa, ya. Saya benar-benar gak nyangka bisa sejauh ini,” ucapnya.

Dari puluhan ayat yang telah ia lukiskan dalam karyanya, salah satu ayat favoritnya adalah Innallaha ma’ash-shabirin, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah ayat 153). Ayat itu bukan hanya sekadar hiasan dalam karyanya, tapi juga mantra yang diulang-ulang saat malam semakin larut dan mata mulai berat. Ia meyakini kesabaran akan menuntun seseorang lebih dekat pada Allah, juga impiannya. Maka, ia selalu sabar dalam menghadapi segala tantangan ketika bergelut dalam dunia kaligrafi.

Misalnya, ketika mempersiapkan lomba baik tingkat provinsi maupun nasional, Syauqi menceritakan terjadi perubahan dalam pola hidupnya. “Jam tidur saya hancur,” katanya jujur. Latihan bisa berlangsung hingga pukul satu malam, bahkan menjelang subuh. Belum lagi ia harus membagi waktu dengan aktivitas ngaji yang dilakukan setiap malam. 

Tapi Syauqi tahu, karya yang maksimal tak lahir dari kenyamanan. “Saya harus memikirkan bagaimana caranya membagi waktu,” ujarnya. 

Di pondok, ia tetap menjadikan ngaji sebagai prioritas nomor satu. Kaligrafi baginya adalah bonus yang harus diperjuangkan. “Kalau saya harus memilih, saya tidak mungkin mengendorkan ngaji. Tapi saya juga tidak bisa meninggalkan kaligrafi. Saya agak bingung, tapi tetap harus jalan.”

Dalam meraih impiannya, Syauqi bukan hanya berjuang melawan kantuk, tapi juga melawan keraguan. Keseriusan Syauqi mendalami passionnya—kaligrafi—membuat ia mampu menahan segala konsekuensi yang harus ia jalani. Ia memegang prinsip: kalau sudah terlanjur “nyebur ke pantai,” tidak ada pilihan lain selain “ditelesi”—dijalani sepenuh hati. Itulah yang ia jadikan pijakan hingga saat ini.

Ada banyak cerita dibalik perlombaan yang ia ikuti, salah satunya tentang ketakutan. Syauqi menceritakan pengalamannya ketika mengikuti lomba kaligrafi tingkat nasional. Ia merasa tantangannya bukan hanya teknis, tapi juga mental. “Yang saya takuti itu lawan,” katanya. Di tingkat nasional, peserta tidak dibatasi usia, ini sempat membuat Syauqi merasa minder dan takut. Tapi gurunya pernah berkata, “Lomba itu cari pengalaman, bukan menang.” Kalimat itu menjadi pegangan.

Ia pernah merasa kecil di antara peserta lain. Tapi justru saat itu ia mendapat juara harapan II di awal pengalamannya mengikuti lomba. “Kata juri, khat saya paling beda. Itu yang bikin saya senang banget,” kenangnya. Ia terharu, bukan karena piala, tapi karena ia bisa menembus batas yang dulu tak ia bayangkan. “Kok bisa sejauh ini, kok aku bisa ngalahin orang-orang hebat,” jelasnya.

Namun, tidak semua perjalanan mulus. Ada tarik-ulur antara sanggar dan jadwal ngaji, ada kendala teknis seperti handphone, dan ada rasa sedih saat kalah. Tapi Syauqi selalu bangkit. “Kalau kalah, aku tetap berusaha belajar lagi. Aku terus berjuang lagi.”

Bagi Syauqi, kaligrafi bukan hanya seni, tapi juga media dakwah dan aktualisasi diri. Ia membayangkan kelak bisa membuat kaligrafi yang menghiasi masjid, mengikuti ajang pameran, hingga berkecimpung dalam dunia siluet huruf Arab. Tapi lebih dari itu, ia ingin menjadi pengajar.

“Saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain, tidak hanya diri sendiri,” katanya. Ia bermimpi bisa berkarya dari rumah, bersama keluarga kecil, dan mengajarkan adik-adik tingkatnya hingga bisa meraih prestasi lebih dari yang ia capai sekarang.

Ditanya tentang masa depan, Syauqi belum tahu pasti akan melanjutkan ke universitas mana, tapi ia sudah berpikir tentang jurusan, berharap bisa melanjutkan pendidikan di bidang seni atau tarbiyah.

Di tengah harapan itu, ada ketakutan yang membayangi pikirannya. Ia khawatir saat menduduki bangku kuliah fokusnya pada kaligrafi akan terganggu. Ia juga takut tak bisa mengajari adik tingkatnya di sanggar dengan maksimal karena kesibukan kuliah. Meski begitu, ia berupaya menepis ketakutannya dengan berpikir semua akan baik-baik saja, hanya perlu berani untuk menjalaninya. 

Saat ini, satu hal yang ingin ia fokuskan: terus berkarya—belajar kaligrafi lebih dalam— agar dapat menyelesaikan setiap lomba dengan maksimal. Baginya, menyelesaikan karya dengan optimal sangat penting, karena dari hal itu ia bisa menjadi juara. “Kalau karya belum selesai, tidak ada harapan untuk juara, tapi kalau selesai dan maksimal, ada harapan untuk menang,” ujarnya.

Pesannya bagi generasi muda yang ingin ikut mendalami dunia kaligrafi sederhana namun dalam: “Jangan menyerah. Kaligrafi memang butuh kesabaran. Tapi suatu saat kamu akan merasakan manisnya kepahitan yang kamu alami.”

Pada akhirnya, Syauqi menulis bukan hanya huruf, tapi juga harapan. Dan dari setiap goresan tinta, kita belajar bahwa seni bukan hanya tentang keindahan, tapi juga tentang ketekunan, pengorbanan, dan kerja keras yang tak kenal lelah.
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.