Sat,15 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Guru Besar UGM: Deforestasi Tak Terkendali Picu Bencana Ekologis Berulang

Guru Besar UGM: Deforestasi Tak Terkendali Picu Bencana Ekologis Berulang

guru-besar-ugm:-deforestasi-tak-terkendali-picu-bencana-ekologis-berulang
Guru Besar UGM: Deforestasi Tak Terkendali Picu Bencana Ekologis Berulang
service

Jakarta, NU Online

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Bidang Geologi Lingkungan dan Mitigasi Bencana Prof Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa deforestasi yang tak terkendali menjadi penyebab utama bencana ekologis yang terus berulang di Indonesia. Ia menilai bahwa hilangnya tutupan hutan memperparah dampak banjir, longsor, hingga krisis iklim di berbagai daerah.

Sepanjang 2025, Indonesia dilanda beragam bencana ekologis, mulai dari banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, hingga fenomena krisis iklim yang terjadi silih berganti. Kondisi ini menunjukkan rapuhnya tata kelola lingkungan dan wilayah, terutama akibat pembukaan hutan secara besar-besaran yang tidak diimbangi dengan perencanaan yang berkelanjutan.

Salah satu peristiwa paling mematikan terjadi pada akhir November 2025 di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Bencana tersebut mengakibatkan ribuan warga meninggal dunia, ratusan ribu orang mengungsi dan mengalami gangguan kesehatan, serta ribuan rumah mengalami kerusakan.

Prof Dwikorita menyoroti bahwa pembukaan hutan merupakan penyebab mendasar bencana ekologis yang terus berulang. Menurutnya, hilangnya tutupan hutan mengganggu keseimbangan siklus air karena akar pohon berfungsi sebagai pengendali alami air hujan.

“Pembukaan hutan itu selalu mengakibatkan air hujan yang harusnya meresap ke dalam akar hutan, semakin lebat akar-akarnya semakin banyak menyimpan air,” ujarnya kepada NU Online pada Rabu (25/2/2026).

Ia menjelaskan, tanpa keberadaan akar pohon, air hujan tidak lagi terserap secara optimal ke dalam tanah. Akibatnya, air lebih banyak mengalir di permukaan dan meningkatkan risiko banjir serta tanah longsor.

“Kalau akar itu hilang atau kalau hutan itu hilang berarti akar yang mengendalikan air di bawah tanah juga hilang. Jika hutan hilang, saya kira bencana-bencana tersebut akan terus berulang di Indonesia,” lanjutnya.

Selain deforestasi, Prof Dwikorita juga menekankan pentingnya tata kelola wilayah yang memperhatikan sistem drainase.

Menurutnya, keberadaan drainase tidak cukup hanya sekadar tersedia, tetapi harus dirancang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi wilayah setempat agar mampu menampung dan mengalirkan air secara efektif.

“Drainase juga bukan cuman ada tetapi disesuaikan dengan kebutuhan warga setempat,” katanya.

Lebih lanjut, ia merekomendasikan agar pemerintah melakukan relokasi warga yang tinggal di wilayah rawan bencana ke hunian yang lebih aman. Upaya penghijauan dan rehabilitasi hutan juga perlu dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan masyarakat.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemulihan hutan bukan proses yang instan. Lahan hutan yang rusak memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk kembali pulih melalui proses konservasi dan penghijauan.

“Makanya kita dilarang untuk merusak lingkungan karena membenahinya itu bahkan sudah tidak bisa tapi merusaknya itu cepat dampaknya cepat,” tegas Prof Dwikorita.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.