Sat,15 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Leaky Pipeline: Ketika Sistem Mengeliminasi Karier Perempuan 

Leaky Pipeline: Ketika Sistem Mengeliminasi Karier Perempuan 

leaky-pipeline:-ketika-sistem-mengeliminasi-karier-perempuan 
Leaky Pipeline: Ketika Sistem Mengeliminasi Karier Perempuan 
service

Bincangperempuan.com- Sekilas, angka kesetaraan gender hari ini terlihat aman-aman saja. Di acara wisuda, deretan lulusan laki-laki dan perempuan duduk seimbang, 50:50. IPK sama menterengnya, karya riset sama kuatnya, dan ambisi mereka untuk mengubah dunia medis maupun akademis sama besarnya.

Namun, coba lompat dua puluh tahun ke depan. Saat kita mengecek jajaran pimpinan rumah sakit utama, posisi Dekan, Chief Medical Officer (CMO), Ketua Departemen, Editor Utama Jurnal Ilmiah, hingga jajaran Full Professor, wajah perempuan mendadak menjadi pemandangan yang amat langka. Ke mana perginya para perempuan yang dulu memadati ruang kuliah? 

Kebanyakan mereka tidak hengkang secara serentak. Tetapi mereka gugur secara bertahap: ada yang mundur saat jadi peneliti muda, ada yang tersangkut saat mau naik posisi jadi dosen tetap (tenure), ada yang terdepak begitu beban rumah tangga menumpuk, dan sisanya angkat kaki karena lelah.

Jika fenomena ini divisualisasikan, bentuknya persis seperti saluran pipa yang retak dan bocor di sepanjang jalurnya. Akibatnya, makin tinggi dan strategis suatu jabatan, makin sedikit perempuan yang tersisa di dalam sistem. Inilah mengapa fenomena ini disebut sebagai leaky pipeline.

Baca juga: Rollercoaster Kepemimpinan Perempuan di Media – Mendobrak Stigma, Mendorong Kuasa

Menakar Bocornya Saluran Karier: Apa Itu Leaky Pipeline?

Fenomena keroposnya sistem ini secara global dikenal dengan istilah leaky pipeline (pipa yang bocor). Mengutip M. A. Jackson dalam jurnal Missouri Medicine (2023), leaky pipeline merupakan sebuah metafora untuk mengidentifikasi hilangnya talenta perempuan di bidang sains dan kedokteran yang memilih keluar dari karier, di saat mereka sedang berada di fase mengepakkan sayap dan memperluas kiprahnya.

Walau kualifikasi dan jumlah lulusan perempuan melimpah, mereka jauh lebih jarang bersaing atau terpilih untuk posisi pimpinan puncak. Studi komprehensif yang mengamati lulusan kedokteran selama rentang waktu 35 tahun (1979–2013) menemukan fakta bahwa jumlah perempuan yang berhasil menembus jenjang profesor senior jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Celakanya, kesenjangan promosi ini nyaris tidak menunjukkan penyempitan yang signifikan selama lebih dari tiga dekade tersebut.

Meskipun beberapa pihak mengklaim kesenjangan kesetaraan mulai terkikis, lajunya bergerak sangat lambat. Ketimpangan ini bahkan makin parah jika kita menilik representasi kelompok yang lebih spesifik, seperti perempuan kulit berwarna (women of color) atau kelompok minoritas lainnya di kursi kepemimpinan.

Mengapa Pipanya Bocor?

Keretakan pada saluran karier ini sering secara keliru disederhanakan sebagai “kurangnya ambisi” atau semata-mata “pilihan pribadi” perempuan. Padahal, analisis berbasis data menunjukkan adanya impitan dari dua arah sekaligus: faktor penawaran (supply-side) dan faktor permintaan (demand-side).

1. Faktor Internal dan Domestik (Supply-Side)

Secara internal, minimnya sosok role model atau mentor perempuan di posisi pimpinan membuat jenjang karier tingkat atas terasa asing dan sulit dijangkau. Ditambah lagi, norma sosial masih membebankan urusan domestik dan pengasuhan anak secara tidak seimbang kepada perempuan. Ketika prioritas kehidupan pribadi dan tanggung jawab profesional berbenturan tanpa dukungan ekosistem yang fleksibel, mengalah dari karier akademik akhirnya menjadi satu-satunya pilihan yang rasional bagi perempuan.

2. Bias Struktural dan Institutional (Demand-Side)

Peneliti dan akademisi perempuan kerap dibebani invisible work seperti pekerjaan komite, panitia internal, atau tugas keorganisasian yang menyita waktu tetapi minim apresiasi untuk promosi jabatan.

Selain itu, karya ilmiah perempuan terbukti lebih jarang disitasi, kontribusi mereka dalam tim riset sering mendapat credit yang lebih rendah, serta akses mereka terhadap hibah pendanaan dan mentorship jauh lebih terbatas. Ada stereotip yang secara implisit menganggap perempuan kurang kompeten dibanding kolega laki-lakinya.

Kondisi ini makin diperparah di sektor kesehatan pasca-pandemi COVID-19. Selain menangani pasien, dokter perempuan terbukti menghabiskan waktu yang jauh lebih proporsional untuk pekerjaan non-klinis, seperti penulisan catatan medis (clinical note writing) dan merespons portal komunikasi pasien. Beban administratif yang tak kasat mata ini memicu gelombang burnout hebat, yang berujung pada eksodus besar-besaran perempuan dari praktik kedokteran dan akademisi.

Baca juga: Mengoreksi Bias, Menguatkan Suara Perempuan: Pentingnya Liputan Sensitif Gender

Membedah Istilah Kerabat: Glass Ceiling, Sticky Floor, hingga Glass Cliff

Selain itu leaky pipeline masih beririsan erat dengan beberapa konsep ketimpangan gender lain yang saling melengkapi dalam menggambarkan pahitnya dunia kerja:

1. Glass Ceiling 

Jika leaky pipeline menekankan pada proses kebocoran yang bertahap sepanjang alur karier, glass ceiling menggambarkan hambatan tak kasat mata di titik puncak. Glass ceiling adalah barikade transparan tetapi kokoh yang menghalangi perempuan untuk naik ke posisi eksekutif tertinggi, meski mereka memiliki kualifikasi yang setara. Leaky pipeline adalah alasan mengapa banyak perempuan berguguran di tengah jalan sebelum sempat menyentuh sang glass ceiling.

2. Sticky Floor 

Sticky floor menggambarkan kondisi di mana pekerja perempuan seolah “tertempel” di posisi paling bawah. Ini adalah fenomena yang menahan perempuan dalam pekerjaan berupah rendah, bernilai administratif, dan minim prospek mobilitas karier sejak awal masuk kerja, sehingga mereka sulit bahkan untuk sekadar memulai pemanjatan alur karier.

3. Glass Cliff

Fenomena unik di mana perempuan baru mendapatkan kesempatan menduduki posisi kepemimpinan justru ketika organisasi sedang berada dalam kondisi krisis finansial, konflik, atau ancaman kegagalan tinggi. Situasi ini menempatkan pimpinan perempuan di tepi jurang yang rentan jatuh, menjadikan mereka sasaran empuk kambing hitam ketika kegagalan terjadi.

Menyumbat Kebocoran: Lebih dari Sekadar Slogan Kesetaraan

Ketiadaan perempuan di kursi penentu kebijakan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat luas.Ketika riset medis dan inovasi teknologi didominasi oleh kelompok yang homogen, lahirlah blindspot. Selama puluhan tahun, penelitian kesehatan dan uji klinis sering menjadikan tubuh laki-laki sebagai “standar utama”. Akibatnya, gejala penyakit seperti serangan jantung pada perempuan sering terlambat didiagnosis, atau dosis obat kurang presisi. Di dunia teknologi, algoritma hingga desain produk rentan melanggengkan bias gender karena tidak ada perspektif perempuan di meja perancangnya.

Perempuan di posisi pimpinan STEM dan kesehatan bisa memastikan ilmu pengetahuan dan layanan publik tidak berat sebelah. Tanpa intervensi struktural untuk menyumbat leaky pipeline, kita tidak hanya kehilangan talenta terbaik, tetapi juga membiarkan produk sains dan kesehatan berjalan dengan standar yang bias gender.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.