Jakarta, Arina.id—Palestina memperkuat upaya perlindungan terhadap situs arkeologi dan sejarah yang menjadi bagian penting dari identitas nasional. Langkah tersebut dilakukan di tengah ancaman terhadap sejumlah situs akibat pendudukan Israel dan aksi pemukim.
Menteri Pariwisata dan Kepurbakalaan Palestina Hani Al-Hayek menekankan pentingnya pengawasan dan perlindungan nasional terhadap situs-situs bersejarah agar warisan sejarah Palestina tetap terjaga.
Hal itu disampaikan Al-Hayek saat meninjau sejumlah situs arkeologi di Kota Al-Karmel, Yatta, dan Beit ‘Amra, Kegubernuran Hebron, pada Sabtu (8/8), sebagaimana diberitakan media Palestina WAFA .
Dalam kunjungan tersebut, Al-Hayek meninjau situs arkeologi Qasr Al-Karmil, Qisarya, Khirbet Umm Al-Amad, dan Khirbet Beit ‘Amra. Ia mempelajari kondisi-masing situs sekaligus mengidentifikasi kebutuhan untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan masing-masingnya.
Menurut Al-Hayek, situs-situs tersebut tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas nasional Palestina. Oleh karena itu, keberadaannya perlu diperkuat dalam peta pariwisata Palestina sekaligus dilindungi dari berbagai ancaman.
Ia menegaskan para menterinya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat untuk menjaga dan mengembangkan situs-situs tersebut dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.
Kementerian juga akan berkontribusi dalam proses rehabilitasi agar situs-situs tersebut dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata yang ramah pengunjung dan menarik lebih banyak masyarakat serta wisatawan.
Al-Hayek menilai pengembangan situs arkeologi sebagai destinasi wisata dapat memberikan manfaat lebih luas. Selain mendorong sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat, kehadiran pengunjung juga dapat memperkuat masyarakat lokal dalam menjaga situs serta meningkatkan perhatian nasional terhadap kelestarian warisan sejarah Palestina.
Situs arkeologi kuno di Palestina terancam diambil alih oleh Israel dengan dalih pelestarian dan perlindungan warisan sejarah.
Salah satu situs tersebut adalah Sebastia, situs kuno di Tepi Barat. Otoritas nasional Israel berencana mengambil alih sekitar 182 hektar lahan di sekitarnya untuk melindungi dan mengembangkannya menjadi taman baru.
Rencana tersebut menuai penolakan dari warga Palestina. Sejumlah kelompok arkeologi menilai digunakan sebagai alasan memperluas kontrol Israel atas tanah Palestina.
Salah satu pemilik tanah, Abu Mudif, menyatakan telah menerima pemberitahuan bahwa lahannya masuk dalam kawasan seluas sekitar 450 hektar yang diambil alih otoritas Israel. Pengambilalihan ini merupakan bagian dari rencana pengembangan kawasan tersebut menjadi taman nasional baru yang luas.
Lahan tersebut merupakan sumber pendapatan vital bagi Abu Mudaf. Namun demikian, dampak penyertaan ini jauh melampaui urusan ekonomi. “Jika harus menggambarkannya, penjelasan paling mendekati adalah seperti jiwamu yang dicabut secara paksa. Saya tidak bisa membayangkan diri saya tanpa tanah ini,” demikian laporan BBC .
Kekhawatiran warga desa di sekitar Sebastia juga menjadi perhatian Badan Kebudayaan dan Pendidikan PBB, UNESCO. UNESCO kini tidak hanya menetapkan Sebastia sebagai Situs Warisan Dunia, tetapi juga memasukkannya ke dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam.
UNESCO menyatakan ancaman utama yang dihadapi situs tersebut berkaitan dengan “rencana pengambilalihan dan pembentukan taman nasional ‘Samaria’ (Shomron), yang berpotensi membagi kawasan tersebut.”




Comments are closed.