Mon,11 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Hadirnya Senang dan Susah adalah Cara Allah Mengajarkan Manusia Tidak Bergantung pada Dunia

Hadirnya Senang dan Susah adalah Cara Allah Mengajarkan Manusia Tidak Bergantung pada Dunia

hadirnya-senang-dan-susah-adalah-cara-allah-mengajarkan-manusia-tidak-bergantung-pada-dunia
Hadirnya Senang dan Susah adalah Cara Allah Mengajarkan Manusia Tidak Bergantung pada Dunia
service

Jakarta, Arina.id Akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahrudin Faiz, menjelaskan bahwa pergantian antara kebahagiaan dan kesulitan dalam hidup merupakan bagian dari hikmah Allah agar manusia tidak menggantungkan hidupnya kepada selain-Nya.

Dalam kajian tasawuffilsafat yang membahas pemikiran Ibnu Athaillah, Fahrudin Faiz mengatakan manusia sering mempertanyakan mengapa hidup tidak selalu bahagia atau mengapa kesulitan terus datang silih berganti. Menurutnya, kondisi tersebut justru memiliki hikmah besar dalam perjalanan spiritual manusia.

“Kalau ada sesuatu membuat enak terus, senang terus, itu menjebak kita. Akhirnya kita tergantung pada hal itu,” ujar Fahrudin Faiz. dalam tayangan di akun YouTube Mengaji Hening diakses Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, apabila manusia terus-menerus berada dalam kenyamanan, maka ia akan mudah terikat pada dunia, harta, jabatan, atau berbagai kenikmatan lainnya. Karena itu, Allah menghadirkan pergantian keadaan dalam hidup agar manusia tidak menjadikan selain Allah sebagai sandaran utama.

“Tapi kalau kadang enak, kadang tidak enak, membuat kita tidak terlalu terikat. Kadang menang, kadang kalah. Itu membuat kita lebih mudah untuk tidak tergantung,” lanjutnya.

Menurut Fahrudin Faiz, kehidupan yang selalu nyaman justru dapat membuat manusia sulit melepaskan diri dari ketergantungan terhadap hal-hal duniawi. Sebaliknya, perubahan antara lapang dan sempit membuat manusia belajar bahwa segala sesuatu di dunia tidak bersifat abadi.

“Senang itu tidak terus, sedih juga tidak terus. Hidup ini kadang longgar, kadang sempit. Itu memang ketetapan Allah agar kita tidak tergantung. Supaya satu-satunya ketergantungan kita hanya kepada Allah,” katanya.

Allah Harus Menjadi Prioritas Utama
Dalam penjelasannya, Fahrudin Faiz menekankan pentingnya menempatkan Allah sebagai prioritas utama dalam kehidupan. Ia menyebut ajaran tersebut sebagai inti dari perjalanan spiritual para sufi.

“Allah harus selalu nomor satu. Jangan sampai dinomor duakan dalam hal apa pun,” tegasnya.

Ia kemudian mengutip salah satu ajaran Ibnu Athaillah yang berbunyi, “Siapa yang mengenal al-Haq, maka ia akan menyaksikannya pada segala sesuatu. Dan siapa yang mencintai Allah, maka dia akan mengutamakannya dari segala sesuatu.”

Menurut Fahrudin Faiz, seseorang yang benar-benar mencintai Allah akan menjadikan segala aktivitas dan keputusan hidupnya berorientasi kepada Allah, termasuk saat menghadapi berbagai persoalan hidup.

“Dalam hidup ini ada macam-macam masalah, kebutuhan, kepentingan, dan tabrakan kepentingan. Rumusnya jangan lupa, Allah tetap harus dinomor satukan,” ujarnya.

Ketakutan Kehilangan Dunia Menunjukkan Hati Masih Terikat
Fahrudin Faiz juga menjelaskan bahwa rasa takut berlebihan kehilangan harta, jabatan, atau kenyamanan hidup merupakan tanda bahwa seseorang masih menggantungkan kebahagiaannya pada selain Allah.

Ia mengutip ajaran Ibnu Athaillah, “Keinginanmu akan tetapnya sesuatu selain Allah menunjukkan bahwa engkau belum menemukannya. Dan kegelisahanmu terhadap hilangnya sesuatu selainnya adalah bukti kalau engkau belum sampai kepada-Nya.”

Menurutnya, manusia sering merasa bahwa kebahagiaan hanya bisa diperoleh melalui kekayaan atau kenyamanan materi. Padahal, sikap tersebut menunjukkan hati yang masih terikat pada dunia.

“Kalau kita menggantungkan kebahagiaan pada harta, berarti kita memang belum ketemu dengan Allah,” katanya.

Ia mencontohkan seseorang yang merasa hidupnya akan hancur apabila kehilangan kekayaan yang dimiliki. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan bahwa hati masih terlalu bergantung pada hal-hal fana.

“Kalau hilang sedikit saja lalu merasa kiamat, itu berarti kita memang belum sampai kepada Allah,” ujarnya.

Jalan Kebahagiaan Menurut Kaum Sufi
Fahrudin Faiz mengatakan para sufi memandang bahwa jalan menuju kebahagiaan sejati bukan terletak pada dunia, melainkan pada kedekatan dengan Allah.

“Kalau bagi para sufi, jalan untuk bahagia itu Allah satu-satunya. Karena selain Allah sifatnya fana,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa segala sesuatu selain Allah bersifat sementara dan tidak dapat menjadi tempat bersandar sepenuhnya. Oleh sebab itu, manusia diajak untuk melatih diri agar tidak terlalu takut kehilangan dunia dan tidak menjadikan materi sebagai sumber kebahagiaan utama.

“Semuanya tergantung kepada Allah. Jadi kita ayo pegangan pada Allah saja,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.