Sun,16 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Hak Self-Care Istri dan Keadilan Relasi Islam

Hak Self-Care Istri dan Keadilan Relasi Islam

hak-self-care-istri-dan-keadilan-relasi-islam
Hak Self-Care Istri dan Keadilan Relasi Islam
service

Mubadalah.id – Kehidupan rumah tangga yang baik dan bermartabat tidak hanya tertopang oleh kecukupan materi. Di dalamnya, setiap anggota keluarga, termasuk istri, membutuhkan tubuh yang sehat, waktu istirahat yang cukup, serta ruang untuk merawat diri secara mandiri.

Sayangnya, dalam banyak rumah tangga, perempuan sering kali dituntut untuk selalu siap, tangguh, dan serbabisa. Seorang istri harapannya mampu mengurus rumah, merawat anak, memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan tetap tampil baik di hadapan pasangan. Namun, di tengah berbagai tuntutan tersebut, kebutuhan mereka untuk beristirahat dan memulihkan diri justru kerap dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan, bahkan egois.

Padahal, menjaga kesehatan fisik dan mental melalui self-care bukanlah bentuk keegoisan. Merawat diri adalah bagian dari upaya menjaga keberdayaan, agar seorang istri dapat menjalani kehidupan rumah tangga sebagai manusia yang utuh dan sebagai mitra yang setara dalam relasi perkawinan.

Mengapa Budaya Patriarki Menstigma Self-Care Istri sebagai Keegoisan?

Di banyak lapisan masyarakat, kita masih menemukan cara pandang patriarkal yang kaku terhadap peran perempuan di ruang domestik. Ada anggapan, meski tidak selalu terucapkan secara terang-terangan, bahwa seorang istri baru pantas memiliki waktu untuk diri sendiri setelah seluruh pekerjaan rumah selesai.

Waktu untuk beristirahat, menikmati secangkir teh dengan tenang, melakukan perawatan tubuh, atau sekadar menyendiri sejenak sering kali dianggap sebagai kemewahan. Seolah-olah perempuan tidak memiliki hak atas tubuh dan waktunya sendiri sebelum seluruh kewajiban domestiknya ia tuntaskan.

Cara pandang seperti ini pada akhirnya membuat banyak perempuan terbiasa menunda kebutuhannya sendiri. Mereka mengorbankan waktu istirahat, kesehatan fisik, bahkan ketenangan mental demi memastikan semua kebutuhan keluarga terpenuhi.

Padahal, kelelahan yang terus menumpuk tidak hanya berdampak pada tubuh. Stres kronis juga dapat memengaruhi kondisi emosional dan kualitas komunikasi dengan pasangan. Ketika seseorang terus-menerus berada dalam keadaan lelah tanpa memiliki ruang untuk pulih, konflik kecil pun lebih mudah muncul dan hubungan keluarga dapat ikut terdampak.

Karena itu, memberi ruang bagi istri untuk merawat diri sesungguhnya bukanlah ancaman bagi keluarga. Justru sebaliknya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan dan keberlangsungan relasi di dalam rumah tangga.

Membaca Pola Hidup Rasulullah: Merawat Diri sebagai Bagian dari Kehidupan

Meneladani kehidupan Rasulullah SAW dapat membantu kita memahami bahwa Islam tidak mengajarkan pengabaian terhadap tubuh dan diri sendiri. Kebersihan, kerapian, kesehatan, dan kenyamanan merupakan bagian dari perhatian dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW kita kenal menjaga kebersihan tubuh dan pakaiannya, menggunakan wewangian, serta bersiwak. Kebiasaan-kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa merawat diri bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan kesalehan.

Semangat inilah yang dapat kita bawa ke dalam kehidupan modern. Perawatan diri hari ini bisa kita lakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari menjaga kebersihan tubuh dan kesehatan kulit, berolahraga, tidur yang cukup, hingga menyediakan waktu untuk beristirahat dan menenangkan pikiran.

Tentu, self-care istri tidak harus selalu identik dengan produk perawatan atau aktivitas yang membutuhkan biaya besar. Kadang, merawat diri berarti tidur lebih awal, menikmati waktu sendiri, membaca buku, berjalan kaki, atau meminta pasangan mengambil alih pekerjaan rumah agar kita memiliki kesempatan untuk beristirahat.

Dalam konteks ini, merawat diri bukan sekadar memenuhi keinginan pribadi. Ia juga merupakan bentuk penghargaan terhadap tubuh yang telah Allah berikan dan bagian dari ikhtiar menjaga diri agar dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Membagi Waktu Istirahat Melalui Praktik Kesalingan

Perspektif Mubadalah menawarkan cara pandang yang penting dalam melihat persoalan ini. Hak untuk beristirahat dan merawat diri tidak boleh hanya dinikmati oleh salah satu pihak, melainkan harus menjadi hak bersama yang dijalankan secara timbal balik.

Pernikahan bukanlah ikatan yang mengubah salah satu pihak menjadi pelayan bagi pihak lainnya. Suami dan istri sama-sama manusia yang memiliki tubuh, kebutuhan biologis, kondisi psikologis, serta batas kemampuan.

Karena itu, praktik kesalingan perlu kita wujudkan dalam tindakan sehari-hari. Ketika seorang suami bersedia menjaga anak atau mencuci piring agar istrinya memiliki waktu lima belas menit untuk beristirahat, ia sesungguhnya sedang menjalankan tanggung jawab bersama dalam rumah tangga.

Begitu pula sebaliknya. Istri juga dapat memberikan ruang kepada suami untuk beristirahat dan memulihkan tenaga. Yang terpenting, ruang istirahat tersebut tidak terbangun di atas pengorbanan sepihak.

Pembagian seperti inilah yang menjadikan prinsip mu’asyarah bil ma’ruf, yaitu memperlakukan pasangan dengan baik, hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berbuat baik kepada pasangan tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Kadang, ia sesederhana mengatakan, “Kamu istirahat dulu, biar yang ini aku kerjakan.”

Landasan Teologis tentang Hak Tubuh dalam Rumah Tangga

Islam juga memberikan perhatian yang kuat terhadap hak tubuh untuk beristirahat dan kita rawat. Salah satu kisah yang sering dikutip adalah teguran Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Amr bin Ash yang terlalu berlebihan dalam berpuasa dan beribadah hingga mengabaikan kondisi dirinya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Berpuasalah dan berbukalah, salat malamlah dan tidurlah. Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu, kedua matamu mempunyai hak atasmu, dan istrimu mempunyai hak atasmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pesan hadis ini sangat penting. Bahkan dalam menjalankan ibadah, seseorang tidak dibenarkan mengabaikan hak tubuhnya sendiri. Tubuh memiliki batas dan membutuhkan istirahat.

Jika tubuh memiliki hak yang harus terpenuhi ketika seseorang sedang menjalankan ibadah, maka tentu tidak semestinya seseorang terus-menerus mengabaikan dirinya demi pekerjaan domestik yang seolah tidak pernah selesai.

Dalam perspektif Mubadalah, prinsip tersebut dapat kita baca secara timbal balik. Baik suami maupun istri memiliki hak atas kesehatan, waktu istirahat, kenyamanan, dan kondisi psikologisnya. Karena itu, keduanya juga memiliki tanggung jawab untuk saling membantu agar hak-hak tersebut dapat terpenuhi.

Saling Menjaga dan Memuliakan

Pernikahan dalam Islam adalah mitsaqan ghalizhan, sebuah ikatan atau perjanjian yang kokoh. Karena itu, relasi suami dan istri semestinya tidak terbangun hanya di atas daftar kewajiban, tetapi juga atas kesadaran untuk saling menjaga dan memuliakan.

Di tengah tuntutan kehidupan yang semakin berat, pasangan perlu belajar untuk saling melihat kelelahan satu sama lain. Tidak semua lelah selalu terucapkan. Ada kalanya seseorang tetap memasak, bekerja, mengurus anak, atau melayani keluarga, padahal tubuh dan pikirannya sudah lama meminta waktu untuk berhenti.

Mengakui kelelahan pasangan dan memberikan ruang baginya untuk beristirahat adalah bentuk sederhana dari cinta dan kemanusiaan. Begitu pula dengan memberikan kesempatan kepada pasangan untuk merawat tubuh, menenangkan pikiran, dan melakukan hal-hal yang membuatnya kembali merasa utuh.

Pada akhirnya, rumah tangga yang kuat bukanlah rumah tangga yang menuntut salah satu pihak untuk terus berkorban hingga mengabaikan dirinya sendiri. Rumah tangga yang sehat adalah ruang di mana suami dan istri dapat saling menyangga, berbagi beban, dan memberikan kesempatan kepada satu sama lain untuk beristirahat.

Self-care bagi istri, demikian pula bagi suami, bukanlah bentuk keegoisan. Ia adalah bagian dari hak manusia atas tubuh dan dirinya sendiri. Dalam semangat kesalingan, merawat diri dan memberi pasangan ruang untuk merawat dirinya adalah salah satu cara sederhana untuk menghadirkan mu’asyarah bil ma’ruf dalam kehidupan rumah tangga.

Sebab, memuliakan pasangan tidak selalu kita mulai dari hal-hal besar. Kadang, ia bermula dari kesediaan untuk berbagi pekerjaan, memahami kelelahan, dan berkata, “Hari ini, kamu istirahat dulu. Aku yang melanjutkan.” []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.