Setelah sempat menyentuh rekor nilai tertinggi (all-time high/ATH) pada kisaran US$5.400 hingga $5.600 per troy ounce atau setara Rp3,2 juta per gram pada akhir 2025 hingga januari 2026, harga emas mengalami koreksi lumayan tajam. Kini, emas dihargai di kisaran $4.100 per troy ounce atau sekitar Rp2,4 juta – Rp2,6 juta per gram. Hal ini lantas membuat banyak orang kebingungan, terlebih lagi untuk investor awam.
Di Podcast Suar Akademia kali ini, kami mengajak Rahmat Aryo Baskoro, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, untuk berdiskusi mengenai pergerakan harga emas, dan hakikat emas dalam portofolio keuangan.
Aryo, yang juga CEO dari platform perencanaan keuangan rencanaku.id, menekankan tentang pentingnya mendudukkan emas pada konsep dasar investasi jangka panjang yang benar. Ia menilai anggapan holding emas selama satu tahun adalah termasuk investasi jangka panjang adalah persepsi yang keliru.
Berdasarkan konsensus perencanaan keuangan ia membagi menjadi tiga periode waktu: jangka pendek untuk durasi di bawah 12 bulan, jangka menengah 1 hingga 3 tahun, dan jangka panjang untuk durasi di atas 3 hingga tahun–bahkan di atas 7 tahun. Artinya, kinerja imbal asil emas akan bekerja secara optimal apabila disimpan dalam rentang waktu minimal 3 hingga 5 tahun.
Lonjakan harga emas hingga sempat menyentuh ATH, menurut Aryo, dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Secara internal, ia mengatakan bahwa keterbatasan pasokan dan tingginya permintaan menjadi pendorong utama. Secara eksternal, eskalasi geopolitik global seperti konflik rusia-ukraina dan panasnya konflik timur tengah (Israel-Palestina, Iran-AS) mendorong negara di dunia memperbesar cadangan emas mereka sebagai aset aman (safe haven)
Aryo mengatakan bahwa penurunan tajam harga emas yang terjadi awal 2026 disebabkan oleh kondisi kejenuhan (buyer exhaustion). Menurutnya ketika harga emas meroket secara tidak rasional bahkan melampaui kemampuan daya beli pasar, permintaan pun mengalami penurunan yang cukup drastis. Hal ini terjadi karena faktor psikologis investor yang menilai harga sudah dianggap terlalu mahal dan akhirnya menahan laju pembelian. Akibatnya, pasar secara otomatis melakukan penyesuaian menuju harga yang lebih rasional, yakni di kisaran $4000-an per troy ounce, atau sekitar Rp2,5 juta per gram.
Aryo mengingatkan para investor untuk tidak FOMO dan juga tetap melakukan riset mendalam sebelum mengambil keputusan jual beli emas untuk menjaga keuangan tetap sehat.
Simak episode lengkapnya hanya di Suar Akademia, ngobrol seru isu terkini, bareng akademisi.




Comments are closed.