Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ancaman deforestasi hingga perburuan liar kian mengancam populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Alih fungsi lahan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan lainnya membuat habitatnya terpecah-pecah. Kondisi ini membuat perjumpaan dengan harimau sering terjadi. Kemunculannya ini sering kali dianggap tanda bahaya atau ancaman. Banyak yang mengira mereka adalah agresif, tapi apa itu benar atau hanya sebatas mitos? Padahal banyak penelitian menyebutkan spesies endemik ini cenderung menghindari manusia dan konflik yang muncul umumnya karena habitat menyempit dan sumber pakan yang berkurang di hutan. Padahal, harimau sumatera menjadi subspesies terakhir dari tiga subspesies endemik Indonesia. Harimau jawa dan harimau bali, misalnya yang kini sudah punah. Yuk, mari kita kenali subspesies endemik Indonesia ini lebih dekat lagi! 1. Paling kecil di antara subspesies lainnya Harimau sumatera yang terekam kamera jebak di hutan Kawasan Ekosistem Leuser, pada Oktober 2023. Foto: Figel dan kolega /Frontiers Harimau sering disebut sebagai “kucing besar”. Namun, tiap subspesies memiliki ciri fisik yang berbeda. Harimau sumatera, misalnya, termasuk subspesies harimau terkecil dibandingkan dengan subspesies harimau lainnya di dunia. Selain itu, ia juga memiliki loreng yang lebih padat dengan warna yang lebih gelap pula. Penelitian Fathoni (2022) menyebutkan harimau sumatera jantan memiliki bobot dan tubuh yang lebih besar dari betina. Jantan memiliki berat 100-140 kg dengan panjang tubuh 140-280 cm, sedangkan betina 100-140 kg dengan ukuran 80–90 cm. Ciri-ciri fisik ini bukan terjadi tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk adaptasi harimau terhadap habitatnya yang berada di iklim tropis tepat di…This article was originally published on Mongabay
Harimau Sumatera Si Penjaga Hutan, Tapi Stigma Agresif Melekat
Harimau Sumatera Si Penjaga Hutan, Tapi Stigma Agresif Melekat





Comments are closed.