Suara deru alat berat mengiringi azan magrib di Dusun Otak Keris, Desa Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), medio Mei lalu. Mata Jumari berkaca-kaca ketika bercerita kondisi mereka yang tinggal di sekitar pabrik peleburan mineral tembaga, emas dan ikutannya itu. “Kita manusia, bukan binatang! Jadi, harapan kita datang baik-baik, tapi ini ndak. Jadi Otak Keris itu dibelinya dipaksa!” katanya kepada Mongabay Indonesia. Jumari menuturkan kembali hal yang mengubah hidup warga Dusun Otak Keris. Tujuh tahun silam, warga harus angkat kaki dari rumah dan lahan mereka. Pemukiman mereka yang masuk Desa Maluk itu, tergusur pabrik pemurnian tembaga dan emas PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Semula bupati datang ke dusun, bicara dengan warga rencana pembangunan smelter bakal menggusur pemukiman dan kebun. Menurut Jumari, bupati meminta warga mendukung proyek tambang itu. Bupati pun menasehati warga agar rela melepas ruang hidup mereka dan berjanji memberikan kehidupan layak. Citra satelit lahan pertanian Otak Keris sebelum (2017) dan sesudah (2026) menjadi smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia diolah dari Google Earth. Hari demi hari berlalu. Tibalah saat penggusuran itu. Bupati tak pernah kembali ke Dusun Otak Keris. Warga justru berhadapan dengan preman, yang bertindak sewenang-wenang. “[Kala itu] saya melihat preman menutup (akses) jalan pakai pagar bambu. Saya nggak tau tujuannya apa,” ucapnya. Warga menolak penggusuran. Mereka memasang spanduk penolakan di sudut dusun. Penolakan itu tak berlangsung lama. Warga tak kuasa menahan tekanan dari preman–mereka akhirnya melepas rumah dan tanah. Tak ada catatan pasti total warga Otak Keris…This article was originally published on Mongabay
Nasib Warga Sumbawa Barat Ketika Tambang dan Smelter Tembaga Datang
Nasib Warga Sumbawa Barat Ketika Tambang dan Smelter Tembaga Datang





Comments are closed.