
Oleh: Dahlan Iskan
Perry Warjiyo tidak sakit. Tapi tiba-tiba saja ia mundur dari jabatan gubernur bank sentral Indonesia. Independensi Habibie Tentu juga bukan karena malu kok kurs rupiah begini lemahnya. Padahal salah satu tugas utama bank sentral adalah menjaga stabilitas nilai tukar mata uang.
Tugas utama lain bank sentral Anda sudah tahu: menjaga tidak terjadi inflasi yang tecermin dari naiknya harga-harga. Hanya di Amerika Serikat bank sentralnya punya tugas utama lain: menjaga agar tersedia cukup lapangan kerja.
Maka spekulasi pun seperti jamur di musim jamur. Spekulasi terbanyak adalah “akibat tekanan pemerintah”.
Anda sudah tahu: nilai tukar rupiah mengalami kemerosotan yang tajam sejak Januari 2025. Itu sama saja dengan mempermalukan Presiden Prabowo Subianto: baru tiga bulan menjabat rupiah jatuh: menjadi Rp16.255 per USD. Kejatuhan itu terus berlangsung sampai menjelang dua tahun masa jabatan Presiden Prabowo.
Tapi Presiden tidak bisa memecat seorang gubernur Bank Indonesia. Sejak tahun 1999 Bank Indonesia independen: agar tidak terjadi lagi krisis moneter. Anda belum lahir: tahun 1988 negara Anda ini dilanda krisis moneter yang luar biasa. Sampai Presiden Soeharto meletakkan jabatan.
Sejak itu pemerintah tidak bisa lagi mencampuri kebijakan bank sentral. Prabowo pasti uring-uringan melihat kurs yang mencoreng wajahnya. Padahal masa jabatan Perry masih dua tahun lagi. Kalau rupiah tidak bisa bangkit itu pertanda buruk bagi rapor masa jabatan pertama Prabowo.
Maka satu-satunya jalan, Perry harus di-OJK-kan. Waktu bursa saham tersungkur beberapa bulan lalu Ketua Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, mengundurkan diri. Tertanggal 30 Januari 2026. Tidak hanya Mahendra seorang. Seorang deputinya, Inarno Djajadi ikut mundur.
Setelah itu seorang wanita dipilih sebagai ketua OJK yang baru: Friderica Widyasari Dewi. Anda sering memanggilnyi Kiki.
Di Bank Indonesia hanya Perry yang mundur. Seperti juga di OJK seorang wanita ditampilkan untuk menjadi pimpinan BI sementara: Destry Damayanti. Dia alumnus Universitas Indonesia Jakarta yang meraih gelar doktor di Cornell University Amerika Serikat.
Tentu Perry punya prestasi besar: QRIS lahir di masa ia jadi gubernur bank sentral. Indonesia sangat maju dalam pengembangan uang digital. Secara internal Perry adalah pribadi yang menyenangkan. Suka menyanyi. Suka bergurau. Baru Perry gubernur bank sentral Indonesia yang dipilih kembali untuk masa jabatan kedua.
Secara eksternal kepemimpinan bidang keuangannya tidak menonjol. Dalam menjaga kurs dan inflasi tidak cukup mengandalkan kebijakan BI saja. Harus ada koordinasi dengan banyak lembaga. Di sini terlihat Perry tidak ambil posisi di depan. Ia seperti kalah agresif dengan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Bisa saja Perry jadi ”tertuduh” melemahnya kurs rupiah yang begitu berat. Atau ia hanya jadi kambing hitam yang harus disembelih. Analis akan mengamati apa yang akan terjadi sebelum dan setelah Perry mundur. Adakah bukti pemerintah telah ikut campur di BI.
Kekhawatiran akan campur tangannya pemerintah itulah yang membuat pasar kian tidak percaya. Kemarin rupiah kembali anjlok melewati Rp 18.000 per dolar.
Tentu tidak mudah bagi pemerintah untuk tidak ikut campur. Presiden Donald Trump pun menekan bank sentral Amerika sekuat tenaga. Terutama karena ia ingin suku bunga dibuat lebih rendah. Hanya saja Federal Reserve di Amerika tidak pernah takut kepada Presiden Trump –atau presiden siapa pun.
Apalagi di Jerman. Deutsche Bundesbank dikenal yang paling independen di dunia. Sistemnya dibuat sangat independen. Sampai masa jabatan pimpinan Deutsche Bundesbank dibuat tidak sama dengan masa jabatan pemerintah. Masa jabatan Deutsche Bundesbank dibuat delapan tahun.

Pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memastikan keberlangsungan kepemimpinan lembaga tetap berjalan setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur BI-disway.id/Anisha Aprilia –
Ketika Uni Eropa membentuk bank sentral Eropa mereka tidak mengadopsi sistem di Amerika atau Inggris. Tapi meng-copy sistem independensi Jerman.
Bukan hanya sistemnya. Independensi Deutsche Bundesbank sudah sangat membudaya. Rakyat akan marah kalau ada selentingan pemerintah ikut campur. Sistem sudah menyatu dengan budaya. Budaya menyatu dengan sistem.
Orang seperti Prof B.J. Habibie pun menjiwai budaya itu. Sebagai orang yang tinggal dan ikut sistem Jerman, Pak Habibie tahu apa yang harus diperbuat ketika tiba-tiba jadi presiden Indonesia. Meski Pak Harto sudah membudayakan Bank Indonesia bagian dari pemerintah Prof Habibie langsung menyatakan tidak mau ikut campur urusan bank sentral.
Konon sikap Presiden Habibie seperti itu yang membuat rupiah menguat luar biasa di masa jabatannya yang hanya satu tahun: dari sekitar Rp16.000 per dolar ke Rp8000/dolar.
Di Indonesia, seandainya pun presiden tidak ikut campur, aroma politik Bank Indonesia sangat dalam. Itu karena gubernur Bank Indonesia dipilih oleh DPR –atas calon yang diajukan pemerintah. BI pun tidak bisa berkutik ketika harus memberi jatah rupiah kepada mereka yang memilihnya.
Yang seperti itu yang membuat BI sulit independen –termasuk bisa saja pilihan mundur adalah lebih baik dari pada dikaitkan dengan aib besar itu. (Dahlan Iskan)




Comments are closed.