
Anak Pramuka yang sedang berkegiatan | FAIZ DILA/WikimediaCommons
Siapa tak kenal dengan seragam berwarna cokelat dengan setangan leher merah putih yang umum dipakai siswa sekolah? Pemandangan semacam ini sangat lumrah ditemui di semua sekolah di Indonesia karena merupakan seragam wajib yang dikenakan setiap minggunya.
Pramuka sudah lama menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Anak-anak sekolah sudah dikenalkan dengan Pramuka sejak mereka duduk di bangku Sekolah Dasar. Bahkan, di jenjang yang lebih tinggi seperti universitas, kegiatan ini masih sangat beken dan diikuti oleh banyak mahasiswa.
Keberadaan gerakan kepanduan ini sudah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nonformal bagi anak-anak dan remaja di Indonesia. Namun, tahukah Kawan GNFI jika Indonesia merupakan negara dengan anggota Pramuka terbanyak di dunia?
Bahkan, saking banyaknya, Indonesia menyumbang hampir setengah anggota Pramuka di dunia. Seberapa banyak jumlahnya?
Daftar Negara dengan Anggota Pramuka Terbanyak di Dunia
Data yang dihimpun GoodStats dari World Organization of the Scout Movement (WOSM), di bawah ini adalah daftar 10 negara dengan anggota Pramuka terbanyak di dunia:
- Indonesia: 25,27 juta anggota
- India: 4,68 juta anggota
- Kenya: 4,43 juta anggota
- Filipina: 3,43 juta anggota
- Nigeria: 3,01 juta anggota
- Bangladesh: 2,69 juta anggota
- Amerika Serikat: 1,49 juta anggota
- Tanzania: 1,07 juta anggota
- Tailan: 0,80 juta anggota
- Britania Raya: 0,59 juta anggota
Dari data di atas, terlihat jelas bahwa Indonesia memiliki jumlah anggota Pramuka terbanyak di dunia. Mengapa anggotanya sangat banyak?
Kawan GNFI, sudah menjadi rahasia umum jika Pramuka dijadikan ekstrakulikuler wajib di sekolah-sekolah mulai dari jenjang Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Hal ini membuat jutaan siswa terdaftar secara otomatis sebagai anggota Pramuka.
Sejarah Pramuka di Indonesia
Disadur dari Museum Sumpah Pemuda yang dikelola Kementerian Kebudayaan RI, Gerakan kepanduan di Indonesia bermula sejak masa kolonial, tepatnya pada tahun 1912 lewat organisasi bentukan Belanda bernama NPO. Nama tersebut kemudian berganti menjadi Nederlands Indische Padvinders Vereniging (NIVP) pada tahun 1916.
Pada tahun yang sama, Mangkunegara VII memprakarsai berdirinya organisasi kepanduan pertama milik pribumi bernama Javaansche Padvinder Organisatie (JPO). Munculnya JPO mendorong lahirnya organisasi serupa lainnya seperti Hizbul Wahton dan Jong Java Padvinderij.
Saat itu, Belanda melarang organisasi lokal menggunakan istilah Padvinder, K.H. Agus Salim memperkenalkan istilah “Pandu” atau “Kepanduan”. Penggunaan istilah ini kemudian menjadi identitas bagi gerakan kepanduan nasional milik bangsa Indonesia.
Setelah masa kemerdekaan, terdapat ratusan organisasi kepanduan yang terbagi dalam berbagai federasi di seluruh wilayah. Hal ini memicu keinginan pemerintah untuk memperbaharui dan menyatukan seluruh organisasi tersebut ke dalam satu wadah tunggal.
Presiden Soekarno akhirnya memutuskan untuk melebur seluruh organisasi kepanduan menjadi Gerakan Pramuka pada tahun 1961. Tokoh kunci seperti Sultan Hamengkubuwono IX berperan besar dalam proses pembentukan organisasi nasional ini.
Puncaknya terjadi pada 14 Agustus 1961. Kala itu, dilakukan penyerahan panji-panji Pramuka kepada para tokoh kepanduan di depan ribuan anggota. Sejak saat itu, 14 Agustus selalu diperingati sebagai Hari Pramuka hingga saat ini.
Kenapa Pramuka Penting?
Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Pramuka memiliki peran krusial sebagai wadah pembentukan karakter yang menanamkan nilai disiplin, kejujuran, hingga tanggung jawab. Melalui kegiatan di alam terbuka seperti perkemahan, peserta didik belajar untuk membangun ketahanan mental dan fisik.
Data BPS 2024 menunjukkan bahwa pramuka merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang paling diminati dengan tingkat partisipasi mencapai 64,46%. Angka partisipasi ini jauh mengungguli minat peserta didik pada bidang olahraga maupun seni dan budaya.
Selain pembentukan karakter, pramuka juga menjadi ruang bagi pemuda untuk mengasah keterampilan sosial dan kepemimpinan. Anggota diajarkan untuk bekerja sama dalam kelompok, mengelola konflik, dan mengambil keputusan secara mandiri.
Pramuka juga menanamkan prinsip pengabdian kepada masyarakat melalui berbagai aksi sosial dan kepedulian lingkungan. Relevansi gerakan ini tetap terjaga di era digital sebagai sarana belajar nilai-nilai kebersamaan bagi generasi penerus bangsa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.
Tim Editor




Comments are closed.