Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengantisipasi potensi masuknya hantavirus ke Indonesia setelah muncul wabah Andes hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Hingga saat ini, delapan orang dilaporkan diduga tertular dan tiga di antaranya meninggal dunia.
Laman pandemictalks menyatakan pemerintah Indonesia sudah berkoordinasi dengan World Health Organization (WHO) untuk mendapatkan panduan deteksi dini dan langkah skrining di pintu masuk negara. Budi menyebut virus ini “lumayan berbahaya”.
Sehingga Indonesia mulai memperkuat sistem deteksi menggunakan rapid test maupun PCR yang infrastrukturnya kini sudah lebih siap dibanding masa awal pandemi COVID-19.
Meski demikian, WHO menyatakan penyebaran hantavirus saat ini masih terkonsentrasi di kapal pesiar berbendera Belanda itu dan belum meluas ke banyak wilayah.
Varian yang ditemukan adalah Andes hantavirus, salah satu jenis hantavirus langka yang dapat menular antarmanusia melalui kontak sangat dekat. Misalnya berbagi kabin atau perawatan langsung, tapi tidak semudah COVID-19 atau influenza.
Pemerintah juga memperketat pengawasan di gerbang kedatangan internasional. Selain itu, pemerintah menyiapkan langkah mitigasi jika ada kasus terdeteksi di Indonesia.
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Laura Navika Yamani, menjelaskan hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Ia menilai, kondisi itu lebih mengarah pada kemungkinan paparan awal sebelum perjalanan atau saat individu berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.
Ia mengatakan masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga, kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi. Ia menambahkan mobilitas lintas negara dalam perjalanan laut berpotensi memperluas jangkauan deteksi kasus tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung.
Laura menjelaskan bahwa hantavirus menular melalui paparan partikel yang berasal dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan tidak memerlukan kontak langsung, melainkan cukup melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi.
Kondisi ini membuat aktivitas di lingkungan dengan populasi hewan pengerat tinggi berisiko meningkatkan infeksi. Ia menekankan sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antarmanusia.
Namun, beberapa strain tertentu seperti Andes virus memiliki kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia. Oleh karena itu, ia menilai investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi.
Selain itu, perubahan lingkungan seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan juga ikut memengaruhi distribusi reservoir penyakit. “Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu,” ujarnya.






Comments are closed.