Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Industri Nikel: Racun Bagi Warga dan Lingkungan

Industri Nikel: Racun Bagi Warga dan Lingkungan

industri-nikel:-racun-bagi-warga-dan-lingkungan
Industri Nikel: Racun Bagi Warga dan Lingkungan
service

Industri nikel meninggalkan kerusakan hutan bagi sosial dan lingkungan. Tak hanya keanekaragaman hayati yang hilang, kini masyarakat dihadapkan pada pencemaran, bencana dan konflik laten.  Masyarakat adat yang melawan dan bersuara untuk mempertahankan tanah malahan dikriminalisasi. Mereka dijerat hukum secara sewenang-wenang.  Ekspansi tambang nikel, dari hulu hingga hilir mengancam kehidupan masyarakat lokal. Suku seperti Tobelo Dalam misalnya yang dipaksa keluar hutan, kehilangan tradisi dan ruang hidup mereka. Padahal mereka adalah penjaga hutan.  Limbah industri wilayah pesisir juga menyebabkan air laut tercemar. Bahkan ikan-ikan di perairan tersebut terkontaminasi zat beracun.   Gemerlap mobil listrik ‘nol karbon’ terus menggelora di dunia, seolah menjadi simbol masa depan. Tapi di balik itu, industri nikel yang menjadi bahan utama baterai listrik menyisakan luka bagi lingkungan dan masyarakat. Banyak jejak karbon dan luka ekologis yang belum sembuh hingga hari ini. Salah satunya, industri nikel di Maluku Utara yang menyebabkan kerusakan lingkungan, bencana, dampak sosial ekonomi hingga kriminalisasi warga. Berdasarkan data Climate Rights International, hutan tropis yang hilang akibat industri nikel di Halmahera, Maluku Utara mencapai 5.300 hektar. Tak hanya kehilangan keanekaragaman hayati, kehilangan hutan menyebabkan bencana banjir lumpur hingga merampas ruang hidup masyarakat. Salah satunya, masyarakat adat O’Hongana Manyawa yang selama ini menjaga hutan Halmahera. Hutan, rumah Orang O’fongana Manyawa, di Halmahera, Maluku Utara, terus tergerus industri nikel. Foto: Irfan Maulana/Mongabay Indonesia Aktivitas industri nikel pun turut mencemari lingkungan hingga mengancam biodiversitas laut. Ada tiga wilayah perairan yang terindikasi tercemar, yakni Teluk Buli, Teluk Weda dan Pulau Obi. Merkuri dan logam berat mencemari pesisir dan mengancam kesehatan…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.