Sat,29 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan

Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan

kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan
Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan
service

Sumatera Selatan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran di lahan gambut dan mineral ini menciptakan kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat Palembang. Mengapa persoalan ini tidak kunjung teratasi sejak 1997? “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” kata Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Minggu (23/8/26). Masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan dalam memanfaatkan atau mengelola lahan gambut untuk pertanian dan perkebunan, saat ini mulai memahaminya. Mereka tidak hanya mengelola lahan mineral, juga gambut. Pengetahuan ini mereka dapatkan dari aktivitas perusahaan yang memanfaatkan gambut, seperti yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). “Berdasarkan pemantauan saya di beberapa desa atau dusun di Sumatera Selatan yang wilayahnya terdapat gambut, sebagian besar masyarakat sudah memanfaatkan lahan ini untuk berkebun sawit. Luasannya mulai setengah hektar hingga puluhan hektar. Gambut bukan lagi dipahami sebagai hutan,” jelas Yulion, yang pernah terlibat dalam beberapa penelitian restorasi gambut di Sumatera Selatan. Kebakaran lahan gambut di Desa Babatan Saudagar, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, awal Agustus 2026. Foto: Ahmad Rizki Prabu/Mongabay Indonesia. Kedua, pengetahuan atau teknologi mengelola lahan mineral dan lahan gambut yang baik, tidak terlihat. Membakar lahan tetap dipahami sebagai tindakan terbaik dalam mengelola lahan. Cepat dan murah. Bahkan, bukan hanya lahan gambut yang mereka olah menjadi perkebunan. Rawa dan mangrove turut diubah menjadi perkebunan. Pengeringan lahan dengan cara membangun kanal sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat desa. Dua hal ini yang menyebabkan lahan mineral dan lahan gambut terus mengalami…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.