Kemarau panjang, Kalimantan Tengah, pun kembali membara, kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) pun menyelimuti kota dan kabupaten di provinsi ini. Dari alat pemantau kualitas udara, IQAir, pada 28 Agustus 2026, pagi, USIQ pada angka 564 dengan status berbahaya (hazardous). Level PM2,5 mencapai 357.4 5 µg/m.³ Level bahaya juga terlihat di Kabupaten Kota Waringin Timur, dengan USIQ475, tingkat PM2,5 312 µg/m.³ Ahmad Toyib, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah, menyampaikan data 1 Januari-22 Agustus 2026 ada 19.992 titik panas di provinsi ini. Dalam periode sama, tercatat 1.639 karhutla mencapai 4.499,21 hektar. Data itu dari laporan harian 14 kabupaten, kota melalui Pusdalops Satgas Karhutla, Kalimantan Tengah. “Kami berharap dukungan penanganan karhutla dapat ditingkatkan, khususnya dengan menambah dua hingga tiga helikopter water bombing untuk melengkapi empat yang saat ini sudah beroperasi,” katanya, saat rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Posko Satgas Udara Aju Penanganan Karhutla Kalteng di Palangka Raya, Sabtu (22/8/26), dikutip dari laman resmi Pemerintah Kalteng. Selain itu, mereka juga perlu tambahan sekitar 100-200 pompa air untuk memperkuat efektivitas penanganan karhutla melalui jalur darat. Kualitas udara di Palangka Raya, 28 Agustus 2026. Foto: rekam IQAir Kanal dan parit yang biasa menjadi sumber air mulai mengering. Seperti di tengah lahan yang membara di Kelurahan Petuk Ketimpun, Palangka Raya, tim pemadam harus mencari sumber air yang tersisa untuk memadamkan api yang terus menjalar di lahan gambut. Saat itu, presiden memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah pejabat pusat dan daerah, termasuk Mensesneg Prasetyo Hadi, Mendagri Tito Karnavian,…This article was originally published on Mongabay
Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara
Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara





Comments are closed.