Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kebenaran Mediatik, Kepentingan Politik Kekuasaan, dan Bangsa Pelupa

Kebenaran Mediatik, Kepentingan Politik Kekuasaan, dan Bangsa Pelupa

kebenaran-mediatik,-kepentingan-politik-kekuasaan,-dan-bangsa-pelupa
Kebenaran Mediatik, Kepentingan Politik Kekuasaan, dan Bangsa Pelupa
service

Ada masa ketika pers lahir dari semangat perlawanan. Ia bukan sekadar profesi, tetapi laku pengabdian. Surat kabar terbit bukan karena kalkulasi bisnis, melainkan karena kegelisahan moral. Wartawan tidak sekadar mencari berita, tetapi mencari kebenaran, lalu menuliskannya dengan risiko, bahkan dengan ancaman. 

Pada masa itu, jurnalisme adalah keberanian, kesediaan berdiri di sisi kebenaran, meski harus berhadapan dengan kekuasaan.

Kemarin, kita memperingati Hari Pers Nasional dalam suasana yang sangat berbeda. Media begitu banyak, berita mengalir tanpa henti, informasi datang setiap detik. Namun di balik kelimpahan itu, ada kegelisahan yang tak mudah disembunyikan: apakah pers masih berdiri di atas kebenaran, atau sudah tunduk pada kepentingan?

Sulit menutup mata terhadap kenyataan bahwa struktur kepemilikan media hari ini sarat dengan konflik kepentingan. Sebagian besar media besar, terutama televisi nasional, berada di tangan pengusaha yang juga politisi, atau setidaknya memiliki kepentingan politik yang jelas. Dalam situasi seperti itu, independensi redaksi bukan hanya soal integritas wartawan, tetapi juga soal struktur kekuasaan yang menaunginya.

Idealnya, jurnalis bekerja untuk kepentingan publik. Namun dalam kenyataan, media bekerja untuk pemilik modal. Dan pemilik modal sering kali bekerja untuk kepentingan politik. Di sinilah konflik itu lahir sejak awal. Jurnalis diminta mencari kebenaran, media diminta mencari keuntungan, sementara pemilik diminta menjaga kepentingannya. 

Tiga arah itu tidak selalu sejalan, bahkan sering kali saling bertabrakan. Dalam situasi seperti ini, kebenaran sering kali harus menunggu, atau bahkan harus mengalah.

Tak jarang, jurnalisme berubah menjadi alat tawar-menawar. Sebuah kasus bisa dibesar-besarkan untuk menekan pihak tertentu, sementara kasus lain diperkecil atau bahkan dihilangkan dari pemberitaan karena menyangkut relasi kekuasaan. 

Keputusan redaksional tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh nilai kebenaran, tetapi oleh nilai strategis, apakah berita ini menguntungkan atau merugikan? Jika merugikan, ia bisa ditunda. Jika berbahaya, ia bisa dikubur. Jika menguntungkan, ia bisa diangkat setinggi-tingginya. 

Di titik ini, jurnalisme kehilangan wataknya sebagai saksi. Ia berubah menjadi pemain.

Situasi ini menjadi semakin rumit karena kita hidup dalam masyarakat yang sangat mediatik. Apa yang muncul di media dianggap nyata. Apa yang tidak muncul dianggap tidak ada. Jika sebuah kasus besar tidak lagi diberitakan, publik mengira masalahnya sudah selesai, padahal sering kali ia tidak pernah selesai. Ia hanya berhenti dibicarakan.

Bangsa ini telah menyaksikan banyak kasus besar, korupsi kelas kakap, pelarian narapidana, penculikan aktivis, hingga skandal pejabat tinggi. Semua pernah menjadi isu nasional. Semua pernah memenuhi halaman depan. Namun satu per satu menghilang dari kesadaran publik, tanpa penyelesaian yang jelas. Bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena pemberitaannya berhenti.

Coba kita absen, dimana Edy Tansil saat ini, kasus penculikan apa kabar, Harun Masiku lagi apa, atau kasus Firly Bahuri misalkan, seakan baru ada kalau kita sebut dan bincangkan, inikah kebenaran? 

Di sinilah tragedi itu terjadi. Media tidak hanya menentukan apa yang dianggap penting, tetapi juga menentukan apa yang dilupakan. Dan bangsa yang hidup dalam sistem seperti itu, perlahan akan kehilangan ingatan kolektifnya. Kita bukan hanya bangsa yang mudah lupa, tetapi bangsa yang dipaksa hidup dalam sistem yang membuat lupa menjadi kebiasaan.

Laporan Dewan Pers sendiri menunjukkan bahwa pers hari ini menghadapi tiga krisis sekaligus, krisis kemerdekaan, krisis profesionalisme, dan krisis ekonomi. Kekerasan terhadap jurnalis masih terjadi, tekanan terhadap media masih nyata, dan pengaduan publik terhadap pemberitaan yang tidak profesional meningkat tajam. 

Di sisi lain, model bisnis media terguncang oleh disrupsi digital. Iklan berpindah ke platform teknologi, redaksi mengecil, dan wartawan dipaksa mengejar berita cepat, bukan berita benar.

Ketika ekonomi media melemah, profesionalisme ikut runtuh. Ketika profesionalisme runtuh, kepercayaan publik hilang. Ketika kepercayaan publik hilang, pers kehilangan kekuatan moralnya. Ia terjepit dari tiga arah sekaligus, kekuasaan, pasar, dan teknologi.

Padahal, dalam tradisi keilmuan yang sehat, kebenaran tidak ditentukan oleh sorotan. Ia tidak bergantung pada siapa yang membicarakan, atau seberapa sering ia muncul di layar. Tradisi pesantren mengajarkan bahwa manusia diukur oleh kebenaran, bukan kebenaran diukur oleh manusia. Sesuatu tetap benar, meski tidak populer. Sesuatu tetap salah, meski tidak diberitakan.

Namun dalam masyarakat yang terlalu mediatik, logika itu terbalik. Yang viral dianggap benar. Yang tidak viral dianggap tidak penting. Di sinilah krisis pers berubah menjadi krisis peradaban. Kita tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mengejar sorotan.

Pers seharusnya menjadi penjaga ingatan bangsa. Ia mencatat kesalahan, mengingatkan kejahatan, dan memastikan bahwa sejarah tidak dipalsukan. Namun ketika pers sendiri terjebak dalam kepentingan, ingatan publik menjadi rapuh. Kasus besar hilang tanpa penyelesaian. Keadilan tertunda tanpa pengawasan.

Padahal keadilan hanya mungkin jika ingatan dijaga. Keadilan tidak tumbuh di atas bangsa yang pelupa.

Hari Pers Nasional seharusnya bukan sekadar perayaan profesi. Ia harus menjadi momen muhasabah: apakah pers masih berdiri sebagai saksi kebenaran, atau sudah berubah menjadi alat kepentingan?

Sebab pada akhirnya, kebenaran yang ditunda akan dilupakan, dan keadilan yang dilupakan akan mati perlahan. Dan sebuah bangsa yang terlalu sering lupa, pada akhirnya akan kehilangan arah sejarahnya sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.