Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kemanusiaan Yang Hadir Dalam Logika “Makan” Ilahiah

Kemanusiaan Yang Hadir Dalam Logika “Makan” Ilahiah

kemanusiaan-yang-hadir-dalam-logika-“makan”-ilahiah
Kemanusiaan Yang Hadir Dalam Logika “Makan” Ilahiah
service

Mubadalah.id – Ketika Al-Qur’an berbicara soal makan, ia tidak sekadar memberi panduan gizi, ia sedang berbicara siapa kita, bagaimana kita hidup, dan untuk apa kita di dunia.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam kata “makan”. Ia adalah kebutuhan paling purba, paling klasik namun paling jujur, dan paling merata dari kalangan raja hingga petani, dari pemimpin hingga ke anak kecil pesisir desa.

Meskipun Al-Qur’an menyebut aktivitas makan dalam lebih dari seratus ayat, apabila tidak dibarengi dengan jaminan atas kesuburan ladang pangan manusia, maka secara perlahan dehumanisasi akbar akan berjalan dengan sendirinya.

Makan adalah bahasa universal bagi semua makhluk hidup tidak terkecuali hewan dan tumbuhan. Bedanya, manusia punya negara. Dan negara yang baik adalah negara yang tidak membiarkan urusan perut warganya diselesaikan sendirian.

Sekilas Tentang Makan Dalam Al-Qur’an

Secara historis, manusia yang mengenalkan makan di bumi adalah Nabiyullah Adam dan Ibunda Hawa. Cerita ini sering terdengar ketika nabi Adam dan Siti Hawa memakan buah Khuldi yang telah tersaji nan menggoda.

Term makan dapat kita temui dalam Al-Qur’an dengan diksi أَكَلَ dan طَعَام  yang menunjukkan makna makan dan makanan. Universalitas perintah untuk makan teralokasikan ke dalam aspek-aspek kemanusiaan.

Seperti surat Al-Baqarah ayat 68

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ

Ayat yang mengandung intruksi kepada seluruh manusia agar memakan apapun yang ada di bumi dengan cara yang halal, bai, layak, dan bergizi. Kemudian lebih spesifik Al-Qur’an menegaskan kepada orang mukmin agar mensyukuri rezeki dari Allah dengan menikmati makanan yang layak (Al-Baqarah ayat 172)

يَـــــأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبـــــــــــتِ مَا رَزَقْنــــــــكُمْ

Selain itu, tingkat perhatian dan ketelitian manusia agar memilih dan memilah dalam mencari dan menghasilkan makanan dijelaskan juga dalam surat Abasa ayat 24, bahwa Allah menyuruh agar manusia memperhatikan makanan yang mengandung karbohidrat, gizi, vitamin, protein dan sebagainya agar menjadi pendorong bagi pemeliharaan tubuhnya guna lebih kuat menjalankan tugas kemanusiaan (Khalifah Fil Ard).

Lebih dari itu, perihal halalan thayyiban menjadi standar mutu yang tidak bisa dinegosiasi. Halal soal asal-usul (epistemologi), thayyiban soal kualitas ; bersih, menyehatkan dan tidak membahayakan (ontologi). Ini bukan sekadar panduan konsumsi, namun sebuah pernyataan bahwa tubuh manusia adalah Amanah, dan apa yang kita makan merupakan pertanggungjawaban kelak.

Jangan Sampai Kemanusiaan Hilang Karena Rebutan Makan

Hal yang paling fundamental dalam hidup adalah bertahan hidup, dan makan-lah sebagai hal krusialnya. Tidak sedikit dari kita terbenak dalam pikiran “besok bisa makan apa ya” atau bagaimana caranya hari ini menyiapkan makanan untuk hari kedepan ya.

Sekilas, pertanyaan tersebut tampak sepele, namun sebagai alarm kemanusiaan yang nyata. Karena sejarah mencatat bahwa kelaparan bukan hanya membunuh tubuh, ia membunuh adab, solidaritas, bahkan identitas.

Ketika perut kosong terlalu lama, manusia otomatis bisa berubah, yang mulanya berbagi menjadi berebut, yang empati menjadi curiga, yang awalnya bergandengan menjadi bersikutan. Padahal inilah letak ujian kemanusiaaan yang sesungguhnya, bukan ketika kenyang dan nyaman, melainkan ketika lapar dan terjepit. Apakah kita masih mampu menjaga adab di tengah desakan kebutuhan?

Al-Qur’an sendiri tidak menyebut nama negara atau rezim mana pun dalam menegakkan keadilan memberi makan. Pesan surat Al-Ma’un ayat 2-3 menembus zaman; siapapun yang memiliki kuasa namun membiarkan kelaparan berlangsung, bahkan mempergunakannya sebagai alat kekuasaan, mereka adalah pengkhianat sejati dari keberadaan manusia du muka bumi.

Dalam Indeks Kelaparan Global 2025, Indonesia berada di peringkat ke-70 dari 123 negara. Dengan skor 14,6 dalam Indeks Kelaparan Global 2025, Indonesia memiliki tingkat kelaparan yang moderat.

Meskipun data tersebut lebih baik dari data sebelumnya yang menempati prestasi peringkat 77 dari 127 negara dengan skor 16,9, faktanya masih banyak kaum dhuafa yang terpinggirkan, dan pejabat terus mengeruk kekayaan alam secara sepihak.

Oleh karena itu, Al-Qur’an menyerukan agar tidak hanya memberi makan, tetapi juga mendorong orang lain untuk memberi makan, memenuhi asupan perut manusia adalah upaya menjadi manusia seutuhnya serta berkeadilan dalam seonggok beras.

Yth, Negara Yang Terhormat

Dalam literatur Islam, negara merupakan wasilah (sarana), bukan ghayah (tujuan). Setiap perkara yang masuk kategori Ghayah, mengharuskan tegaknya keadilan secara merata pada rakyat, sehingga rakyat menjadi makmur, tenteram dan sejahtera.

Oleh karena itu, menjadi logis, jika bentuk negara tidak tertulis secara tersurat dan terperinci dalam teks wahyu. Dalam kata lain, semua manusia bisa merumuskan sistem kebijakan dan program negaranya sendiri, selama ruhnya masih keadilan.

Sementara dalam konteks makan, negara yang besar tampak mentereng dari seberapa jauh ia mampu menjamin ketahanan pangan dan perihal keamanan perut rakyatnya agar tidak kosong. Nabi Yusuf memiliki strategi epic yang terabadikan dalam Al-Qur’an (Q.S. Yusuf:47).

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدتُّمْ فَذَرُوهُ فِى سُنبُلِهِۦٓ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ

Ayat tersebut menunjukkan strategi Nabi Yusuf dalam mengelola dan melindungi pangan kerajaan di masa nya. Ketika tafsir mimpi raja tentang tujuh sapi gemuk dan tujuh sapi kurus terurai, Yusuf tidak sekadar meramal, ia merancang sistem cadangan pangan negara yang menyelamatkan jutaan jiwa dari ancaman kelaparan selama bertahun-tahun.

Sebelum ada negara, Al-Qur’an sudah bicara soal makan. Pesannya tak berubah: setiap perut yang lapar adalah tanggung jawab dan kelak, bukan suara rakyat yang menghitungnya, melainkan catatan amal yang tidak bisa dimanipulasi.

Jangan sampai sebuah negara memprioritaskan kepentingan politik yang menguntungkan sebagian, karena kelaparan bukan hanya kekurangan produksi pangan. Ia adalah soal keputusan politik tentang keadilan dalam distribusi dan akses terhadap sumber daya. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.