Mubadalah.id – Selaput dara kerap dipahami secara sempit dan dilekatkan dengan berbagai penilaian terhadap perempuan. Padahal, secara medis, kondisi selaput dara sangat beragam dan tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai pengalaman maupun “keperawanan” perempuan.
Karena itu, penting untuk memahami fakta-fakta dasar mengenai selaput dara agar tidak terjebak pada anggapan yang keliru.
Ada beberapa keterangan penting yang mesti Anda ketahui tentang selaput dara:
Pertama, selaput dara bisa meregang, robek, dan sedikit mengeluarkan darah bila Anda melakukan pekerjaan berat, berolahraga, atau kegiatan-kegiatan lain. Bisa juga sobek bila Anda mengalami kecelakaan yang menyebabkan perenggangan selaput ini melebihi daya regangnya, misalnya bila Anda jatuh dari sepeda.
Kedua, selaput dara bisa sobek bila Anda melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya. Namun, seperti telah kita jelaskan sebelumnya, selaput dara yang sobek tidak selalu menandakan seorang perempuan “tidak perawan” lagi.
Ketiga, semua selaput dara berbeda-beda kondisinya pada tiap perempuan. Ada yang sangat rapuh dan mudah sobek, ada yang sangat kuat dan sulit robek. Bila selaput dara sangat “alot”, mungkin saja Anda melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya tanpa mengeluarkan darah dan selaput Anda masih tetap utuh.
Keempat, ada perempuan yang tidak memiliki selaput dara sama sekali. Dengan sendirinya, perempuan tersebut tidak akan mengalami robek atau pendarahan selaput akibat kegiatan berat, kecelakaan, ataupun hubungan seksual yang pertama.
Jadi, pandangan bahwa selaput dara menjadi ukuran “keperawanan” atau bahkan “kesucian” seorang perempuan tidak bisa kita terapkan begitu saja pada semua perempuan tanpa pandang bulu. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Burns dkk, hlm 61.





Comments are closed.