Jakarta, Arina.id—Pemerintah mengajak para orang tua memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dengan menghadirkan lebih banyak waktu bermain bersama anak. Ajakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengasuhan sekaligus menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Asisten Deputi Penyedia Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Ciput Eka Purwanti, mengatakan Hari Anak Nasional bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk mengingatkan seluruh orang dewasa bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama.
“Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, rangkaian Hari Anak Nasional tahun ini berkolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, media, hingga keluarga agar bersama-sama menghadirkan ruang yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Ciput dalam Media Talk Kemen PPPA di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, peringatan Hari Anak Nasional ke-42 bertujuan memperkuat penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus bangsa. Salah satu hak yang didorong untuk dipenuhi adalah hak anak untuk bermain, berpartisipasi, serta tumbuh dalam lingkungan yang bebas dari kekerasan.
Menurut Ciput, keluarga merupakan fondasi utama perlindungan anak. Karena itu, Hari Anak Nasional dapat dimaknai dengan kegiatan sederhana seperti bermain bersama anak, mendampingi mereka, dan membangun komunikasi yang hangat di dalam keluarga.
“Hulu dari perlindungan anak sesungguhnya dimulai dari keluarga. Ketika keluarga mampu memberikan pengasuhan yang baik, dilanjutkan dengan sekolah yang aman, ruang publik yang ramah anak, dan ruang digital yang sehat, maka risiko anak mengalami kekerasan dan berbagai bentuk pelanggaran hak anak dapat ditekan,” katanya.
Ia menambahkan, Hari Anak Nasional juga menjadi momen refleksi bagi orang dewasa terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anak saat ini, mulai dari adiksi gawai, kekerasan, hingga semakin sempitnya ruang bermain.
“Ketika anak mengalami adiksi gawai, kekerasan, atau kehilangan ruang bermain, kita perlu bertanya apakah orang dewasa telah menghadirkan pengasuhan, pendampingan, dan lingkungan yang mereka butuhkan?” tegasnya.
Untuk memperluas jangkauan peringatan HAN 2026, pemerintah menggelar berbagai kegiatan secara desentralisasi di berbagai daerah. Selain memberi ruang bagi anak untuk bermain, kegiatan tersebut juga membuka kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan aspirasi dan mengenal berbagai profesi sebagai bekal menuju Generasi Indonesia Emas 2045.
Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan Sekretariat Forum Anak Nasional (FAN) sekaligus Koordinator Utama Lokakarya FAN 2026, Alya Alkautsar, mengatakan Hari Anak Nasional juga menjadi ruang bagi anak untuk menyampaikan suara dan harapan mereka.
Menurut Alya, melalui penyusunan Suara Anak Indonesia 2026, Forum Anak Nasional menghimpun aspirasi anak dari berbagai daerah, termasuk Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK) dan anak Indonesia di luar negeri.
“Kami ingin memastikan suara anak bukan hanya didengar, tetapi juga dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan dan program yang menyangkut kehidupan anak. Apa yang kami sampaikan melalui Suara Anak Indonesia merupakan keresahan, kebutuhan, sekaligus harapan anak-anak Indonesia terhadap lingkungan yang lebih aman, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang kami,” ujarnya.
Alya berharap Hari Anak Nasional tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga mendorong seluruh pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, sekolah, media, dunia usaha, hingga masyarakat, untuk bersama-sama memenuhi hak anak, termasuk hak untuk bermain, berpartisipasi, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman serta penuh kasih sayang.





Comments are closed.