Bincangperempuan.com- Belakangan ini, kartu tarot kian diminati terutama di kalangan anak muda. Fenomena ini mudah ditemukan di sudut-sudut kafe hingga linimasa media sosial. Para anak muda yang sedang resah urusan cinta atau buntu soal karier, kini lebih memilih bertanya pada pembaca tarot daripada ke tokoh agama atau psikolog.
Menurut survei terbaru dari Pew Research Center (Fall 2024) yang melibatkan 9.593 responden dewasa, terungkap bahwa sekitar 30% orang dewasa di Amerika Serikat berkonsultasi dengan astrologi, kartu tarot, atau peramal setidaknya sekali setahun. Meskipun mayoritas melakukannya untuk hiburan, angka ini menunjukkan pergeseran budaya yang signifikan.
Jika dibedah berdasarkan usia, antusiasme ini didominasi oleh anak muda (usia 18-29 tahun). Sebanyak 37% dari kelompok usia ini setidaknya sekali atau dua kali dalam setahun melakukan konsultasi astrologi. Sebanyak 23% dari mereka terlibat dalam pembacaan kartu tarot, dan 14% berkonsultasi dengan peramal. Angka-angka ini menegaskan bahwa bagi Gen Z dan Milenial akhir, praktik tersebut telah menjadi bagian dari gaya hidup tersendiri.
Tarot Memberi Navigasi di Tengah Ketidakpastian
Lantas mengapa tarot kini justru menjadi bagian gaya hidup anak muda? Sebelum membahas hal tersebut perlu diketahui, dalam ilmu antropologi, ada istilah yang disebut divinasi. Divinasi adalah praktik untuk mencoba memahami hal-hal yang belum kita ketahui, melihat kemungkinan di masa depan, atau mencari “petunjuk” tersembunyi, biasanya melalui simbol-simbol tertentu.
Kenapa metode seperti tarot atau astrologi ini jadi pelarian? Karena sering kali, logika atau aturan-aturan kaku di sekitar kita nggak punya jawaban buat masalah yang sifatnya sangat pribadi. Masalah yang mungkin rasanya tabu atau aneh kalau dibawa ke ruang formal seperti tempat ibadah.
Melalui tarot, seseorang bisa bertanya hal-hal yang paling jujur dari dalam hati. Jawaban yang muncul dari kartu kartu itu memberikan pencerahan baru. Rasa tercerahkan inilah yang akhirnya membuat seseorang lebih lega dalam menghadapi masa depan.
Para ahli berpendapat bahwa ritual divinasi kuno ini menawarkan sesuatu yang absen dalam kehidupan modern yang serba cepat: rasa wawasan (insight), agensi, dan koneksi. Di era yang ditandai dengan kecemasan global—mulai dari krisis iklim hingga tekanan ekonomi—tarot memberikan bahasa visual untuk mendefinisikan rasa resah yang abstrak.
Saat dunia luar terasa di luar kendali, tarot memberikan narasi yang bisa dipegang. Bukan berarti pasrah pada nasib, tetapi sebagai bentuk upaya mencari navigasi di tengah kekacauan.
Tarot sebagai Ruang Aman Bagi yang Terpinggirkan
Salah satu perspektif menarik datang dari Hanna Tervanotko, Associate Professor di McMaster University. Dalam artikelnya di The Independent, ia menyoroti bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan kebutuhan spiritual kelompok yang sering terpinggirkan oleh institusi agama arus utama, seperti perempuan kulit hitam (Black women) dan komunitas LGBTQIA+.
Agama tradisional biasanya menjadi tempat berlindung saat menghadapi ketidakpasyian. Tetapi sejarah mencatat bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama. Oleh karena itu praktik divinasi seperti tarot menjadi menarik bagi mereka yang tidak memperoleh ruang di ranah agama (tereksklusi atau terdiskriminasi). Tervanotko menjelaskan beberapa alasan historis dan sistemik di balik hal ini di antaranya:
Soal Identitas Diri
Banyak teman-teman dari komunitas LGBTQ+ yang akhirnya memilih menjauh dari lembaga agama karena merasa tidak diterima atau sering mendapat perlakuan diskriminatif. Bagi mereka, tarot menjadi cara untuk tetap terhubung dengan sisi spiritual tanpa harus merasa dihakimi.
Aturan Mengenai Tubuh
Secara historis, perempuan sering kali dibatasi aktivitas ibadahnya karena dianggap “tidak suci” saat sedang menstruasi atau setelah melahirkan. Hal ini membuat banyak perempuan mencari cara lain untuk tetap bisa berdoa atau merenung dengan caranya sendiri.
Keterbatasan Waktu dan Tempat
Tidak semua orang punya kemewahan untuk datang ke rumah ibadah tepat waktu, misalnya mereka yang tinggal di pelosok, atau yang sibuk mengurus anak dan anggota keluarga yang sakit di rumah.
Bagi mereka yang menghadapi hambatan-hambatan ini, tarot akhirnya muncul menjadi semacam “altar pribadi”. Ini adalah bentuk spiritualitas yang lebih demokratis karena siapa pun bisa melakukannya. Seseoranh tidak butuh izin atau validasi dari siapa pun untuk bisa terhubung dengan sesuatu yang “Maha Besar” atau sekadar mendengarkan suara hati sendiri.
Baca juga: Gen Z Bicara Bumi: Anak Muda Melawan Krisis Iklim
Tarot sebagai Alat Refleksi Diri (Bukan Sekadar Ramalan)
Selain itu ada pergesean fundamental mengenai cara kartu ini digunakan. Alih-alih digunakan untuk divination (meramal apa yang akan terjadi), tarot kini lebih banyak digunakan sebagai alat self-reflection (refleksi diri).
Sebuah studi oleh Gigi Hofer (2009) berjudul “Tarot Cards: An Investigation of their Benefit as a Tool for Self Reflection” mendalami fenomena ini melalui wawancara mendalam. Hofer menemukan bahwa pengguna tarot menggunakan kartu-kartu tersebut sebagai cermin psikologis. Dari transkrip wawancara, ditemukan tema-tema kunci yang menunjukkan bahwa tarot membantu individu untuk memvisualisasikan aspek subconscious. Yaitu gambar dalam kartu yang memicu pikiran bawah sadar yang selama ini terpendam.
Selain itu tarot juga membantu seseorang merangkai potongan-potongan masalah hidupnya menjadi satu cerita yang masuk akal.Sekaligus bertindak sebagai katalisator untuk bertanya pada diri sendiri tentang perasaan dan motivasi diri yang sebenarnya.
Dalam konteks ini, tarot berfungsi serupa dengan teknik Projective Test dalam psikologi (seperti tes Rorschach). Kartu tidak memberi tahu kamu apa yang harus dilakukan, tapi ia membantu kamu melihat apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan.
Tarot sebagai Upaya Pengendalian Diri
Ketertarikan anak muda pada tarot saat ini bukanlah bentuk pelarian dari logika, melainkan cara untuk berdamai dengan realitas yang bising. Di dunia yang menuntut segalanya harus serba pasti, terukur, dan cepat, tarot menawarkan jeda. Simbol-simbol kuno ini menjadi bahasa perantara untuk memproses kekacauan modern yang sering kali tidak masuk akal.
Pada akhirnya, tarot kian diminati bukan karena ia menjanjikan masa depan, tetapi karena memberikan apa yang gagal ditawarkan oleh sistem yang kaku seperti validasi atas apa yang kita rasakan, dan agensi penuh atas hidup kita sendiri.
Referensi:
- Hofer, G. (2009). Tarot Cards: An Investigation of their Benefit as a Tool for Self Reflection (Master’s thesis). University of Victoria. https://dspace.library.uvic.ca/bitstreams/fa98a1d1-0507-45b9-8a8e-6f93c66467cd/download
- Pew Research Center. (2025, 21 Mei).30% of Americans Consult Astrology, Tarot Cards or Fortune Tellers. https://www.pewresearch.org/religion/2025/05/21/3-in-10-americans-consult-astrology-tarot-cards-or-fortune-tellers/
- Tervanotko, H. (2024). Why tarot and astrology are having a major comeback.The Independent. https://www.independent.co.uk/life-style/tarot-card-astrology-horoscope-meaning-b2779448.html





Comments are closed.